Peluncuran Buoy Merah Putih di Selat Sunda

  • Hatif Thirafi
  • 10 Apr 2019
Peluncuran Buoy Merah Putih di Selat Sunda

Jakarta, (10/4) - BPPT bekerja sama dengan BMKG, Kemenristekdikti, BNPB, dan BIG melaksanakan pelepasan Kapal Riset Baruna Jaya IV untuk pemasangan Buoy Merah Putih di Selat Sunda dan Kapal Riset Baruna Jaya I untuk Survey Landas Kontinen Indonesia Ekstensi di Papua, bertempat di Pelabuhan Tanjung Priok. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari Instruksi Presiden untuk mempersiapkan sistem peringatan dini tsunami pasca tsunami Selat Sunda pada tanggal 22 Desember 2018.

Kepala BMKG, Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, M.Sc, Ph.D dalam sambutannya menyampaikan bahwa pemsangan Buoy Merah Putih atau disebut Indonesian Tsunami Buoy Generasi 3 (InaBuoy G3) merupakan sebuah awal penting dalam pengembangan teknologi artificial intelegence untuk sitem peringatan dini tsunami di Indonesia.

"Berkaca dari tsunami Palu dan Selat Sunda pada tahun 2018 yang lalu, kita menyadari bahwa Indonesia membutuhkan teknologi yang sangat mumpuninuntuk sistem peringatan dini tsunami," jelasnya.

Lebih lanjut, Dwikorita sangat mengapresiasi diluncurkannya buoy generasi ketiga ini. Dwikorita juga menjelaskan bahwa sejak Ina-TEWS diluncurkan pada tahun 2008 yang lalu, buoy hanya digunakan sebagai verifikator terhadap peringatan dini tsunami yang dikeluarkan oleh BMKG, bukan sebagai dasar pembuatan peringatan dini tsunami. Peringatan Dini Tsunami di Indonesia berbasi pada computer modelling seperti yang digunakan oleh beberapa negara, misalnya Jepang dan Amerika.

"Buoy yang akan dipasang kali ini memiliki 2 fungsi, yang pertama adalah sebagai verifikator peringatan dini tsunami dan dasar dalam pengakhiran peringatan dini tsunami. Yang kedua, buoy generasi 3 ini memiliki articial intelegence yang mampu mengukur peningkatan tekanan air laut sebelum terjadinya gelombang tsunami. Data kemudian akan dikirim secara paralel ke sitem yang ada di BMKG dan BPPT. Sehingga informasi akan datangnya tsunami dapat dilakukan lebih cepat, tepat, dan akurat. Ini merupakan sinergi yang dapat membuat kita lebih siap menghadapi tsunami," imbuhnya.

Berdasarkan kajian dari BMKG dan BPPT, nantinya buoy ini akan ditempatkan di lokasi yang tepat berdasarkan pertimbangan kondisi geologis, ancaman, serta kemampuan teknologi. Rencana jangka pendek dan jangka panjang telah disiapkan untuk pemasangan deteksi tsunami berbasis kabel dan buoy. Berdasasarkan kesiapan dari peralatan yang ada, BPPT berusaha membangun satu buoy Tsunami. Kapal Baruna Jaya 4 akan dipergunakan untuk melakukan survey Batimetri dan peluncuran buoy merah putih di antara pulau Sertung dan Pulau Rakata, 5 Km dari Gunung Anak Krakatau.

BPPT juga tengah mempersiapkan teknologi kabel dan Buoy generasi baru yang siap dipasang di tahun 2019 ini. Nantinya, data dari buoy ini akan terintegrasi dengan sistem Ina-TEWS di BMKG, dengan harapan dapat menjadi "Initial Confirmation" bagi peringatan dini tsunami yang dikeluarkan oleh BMKG.

  • 19 Mei 2019, 13:16:08 WIB
  • 5.0
  • 10 Km
  • 10.31 LS - 119.22 BT
  • 19 Mei 2019, 20:13:07 WIB
  • 4.1
  • 10 Km
  • 1.1 LS 115.83 BT
  • Pusat gempa berada di darat 40 Km Barat Laut Kec. Longkali, Kab.
  • Dirasakan (Skala MMI) : III Batu Sopang, II Bongan,
  • Selengkapnya →

Siaran Pers