
Potensi Hujan Indonesia Sepekan ke Depan Periode 24 – 31 Juli 2026: Musim Kemarau Kian Meluas, Hari Tanpa Hujan Semakin Panjang
Berdasarkan analisis perkembangan musim kemarau pada Dasarian II Juli 2026, sebanyak 72,8% wilayah Indonesia atau 509 Zona Musim (ZOM) telah memasuki musim kemarau. Meluasnya musim kemarau juga terlihat dari meningkatnya jumlah titik pengamatan yang mencatat Hari Tanpa Hujan (HTH) dalam kategori panjang hingga ekstrem panjang. Hasil pemantauan HTH hingga Dasarian II Juli 2026 menunjukkan kategori panjang, yaitu 21–30 hari, tercatat di 1.366 titik pengamatan, sedangkan kategori sangat panjang atau 31–60 hari tercatat di 943 titik. Sementara itu, HTH kategori ekstrem panjang atau lebih dari 60 hari terdapat di 70 titik pengamatan yang tersebar di wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Durasi HTH terpanjang mencapai 80 hari dan tercatat di Pos Hujan RPH Katerban, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Meskipun wilayah yang mengalami musim kemarau semakin meluas, dinamika atmosfer skala regional masih mendukung pertumbuhan awan hujan yang cukup signifikan di sejumlah wilayah Indonesia. Dalam dua hari terakhir, hujan lebat masih tercatat di Sumatera Selatan (79 mm/hari), Aceh (75 mm/hari), Sumatera Barat (69 mm/hari), Sulawesi Utara (56 mm/hari), dan Kepulauan Riau (55 mm/hari). Kondisi tersebut didukung oleh aktivitas Gelombang Kelvin yang melintasi Sumatra bagian utara dan Sulawesi Tengah. Aktivitas MJO secara spasial juga terpantau melintasi sebagian wilayah Sumatra bagian tengah hingga selatan. Selain itu, terpantau adanya Bibit Siklon Tropis 92W di Laut Filipina, utara Maluku Utara yang berdampak tidak langsung terhadap peningkatan potensi hujan di wilayah Sulawesi Utara. Kombinasi faktor-faktor tersebut meningkatkan suplai uap air dan mendukung pembentukan awan hujan, terutama di wilayah Indonesia bagian barat dan utara.