Kembali ke Potensi Hujan Sepekan ke Depan

Prospek Cuaca Mingguan Periode 2-8 Mei 2025: Memasuki Awal Musim Kemarau di Sebagian Wilayah Indonesia, Tetap Waspada Potensi Hujan Lebat Berdurasi Singkat!

Kania Mustikawati
Prospek Cuaca Mingguan Periode 2-8 Mei 2025: Memasuki Awal Musim Kemarau di Sebagian Wilayah Indonesia, Tetap Waspada Potensi Hujan Lebat Berdurasi Singkat!

Memasuki Awal Musim Kemarau di Sebagian Wilayah Indonesia, Tetap Waspada Potensi Hujan Lebat Berdurasi Singkat!

Memasuki Bulan Mei 2025, sekitar 21% Zona Musim (ZOM) di wilayah Indonesia diperkirakan memasuki awal musim kemarau, seperti sebagian Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan Papua Selatan bagian selatan. Kondisi ini menunjukkan bahwa potensi hujan semakin berkurang. Sejalan dengan hal ini, sejumlah masyarakat mulai mengeluhkan bahwa cuaca panas turut melanda sejumlah daerah. Meskipun pengamatan suhu udara maksimum di wilayah Indonesia secara umum masih berada di bawah 35.5°C, kelembapan udara yang masih relatif tinggi dan kecepatan angin yang cukup rendah membuat suhu udara terasa lebih tinggi dari yang tercatat.

Meskipun cuaca cenderung panas di sejumlah wilayah, hasil analisis dan prediksi dinamika atmosfer menunjukkan masih adanya sejumlah faktor yang mendukung pembentukan awan hujan di sekitar wilayah Indonesia. Dalam tiga hari terakhir, hujan dengan intensitas lebat masih terpantau di sejumlah wilayah, seperti yang tercatat di Riau (85 mm/hari), Sumatra Utara (59 mm/hari), serta Jambi dan Kep. Bangka Belitung (51 mm/hari). Sementara itu, hujan dengan intensitas sedang juga masih teramati di sebagian wilayah Sumatra, Jawa, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku Utara, Papua Barat, dan Papua Selatan. Kondisi ini menunjukkan bahwa potensi cuaca signifikan masih ada di sebagian wilayah Indonesia.

Menghadapi kondisi cuaca yang beragam tersebut, masyarakat diimbau untuk menjaga kesehatan dengan tetap terhidrasi dan menghindari paparan sinar matahari langsung dalam waktu lama, terutama pada siang hingga sore hari. Masyarakat juga diminta untuk waspada terhadap potensi radiasi matahari yang tinggi di siang hari, yang dapat mengurangi kenyamanan dalam beraktivitas di luar ruangan serta terhadap potensi hujan sedang-lebat yang dapat disertai kilat/petir, khususnya yang terjadi dalam durasi singkat pada siang hingga menjelang malam hari. Tak lupa, BMKG juga menghimbau kepada masyarakat untuk selalu memantau informasi cuaca terkini. Tetap waspada dan jaga kondisi tubuh untuk menghadapi dinamika cuaca yang sedang berlangsung.

Dinamika Atmosfer Sepekan ke Depan

Selama sepekan ke depan, pola angin di wilayah Indonesia masih menunjukkan periode peralihan, dimana massa udara dari Belahan Bumi Utara dan Belahan Bumi Selatan bertemu di sekitar wilayah Indonesia dan membentuk sejumlah sistem tekanan rendah, seperti bibit siklon tropis 99W, serta sirkulasi siklonik yang ada di Laut China Selatan dan di Perairan selatan Jawa-Bali. Pada periode ini, Bibit Siklon Tropis 99W terpantau di Laut Filipina, sebelah utara Papua Barat Daya, dengan kecepatan angin maksimum 15 knots, tekanan di pusat bibit siklon 1008 hPa, dan pergerakan ke arah barat – barat laut. Meskipun demikian, potensi bibit ini menjadi siklon tropis dalam 24 jam ke depan masih berada dalam kategori rendah.

Selain itu, gelombang Kelvin, gelombang Rossby Ekuator, dan gelombang Low Frequency masih diperkirakan aktif di sekitar wilayah Indonesia, yaitu di sebagian Sumatra, Kalimantan bagian utara, Nusa Tenggara, sebagian Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, dan Papua Selatan, sehingga berpotensi meningkatkan aktivitas konvektif serta pembentukan pola sirkulasi siklonik di wilayah tersebut.

Lebih jauh lagi, dengan kelembapan udara yang masih tinggi dan didukung dengan labilitas atmosfer sedang hingga kuat di sejumlah lokasi, potensi hujan masih ada di sebagian wilayah Indonesia. Oleh karena itu, masyarakat dihimbau untuk selalu memperbarui informasi cuaca, serta selalu menjaga kesehatan dengan menjaga lingkungan, khususnya yang berada pada wilayah rentan terhadap dampak cuaca ekstrem.

Prospek Cuaca Sepekan ke Depan

Periode 2-4 Mei 2025

Cuaca di Indonesia umumnya didominasi cerah berawan hingga hujan ringan. Perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang, berpotensi terjadi di wilayah berikut:

  • Hujan Lebat : Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara.
  • Angin Kencang : NTT dan Maluku.

Periode 5-8 Mei 2025

Wilayah Indonesia masih didominasi cerah berawan hingga hujan ringan. Perlu diwaspadai adanya potensi angin kencang di wilayah berikut:

  • Angin Kencang : Jawa Barat, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT dan Maluku.

Prospek di atas merupakan kondisi secara umum. Untuk informasi cuaca lebih detail dapat diakses melalui website BMKG, aplikasi mobile infoBMKG dan sosial media @infoBMKG.

Imbauan

Menghadapi potensi cuaca ekstrem ini, BMKG mengimbau masyarakat untuk:

  • Menggunakan pelindung/tabir surya untuk menghindari paparan langsung sinar matahari.
  • Menjaga kecukupan cairan tubuh terutama bagi yang beraktivitas di luar ruangan saat siang hari supaya tidak terjadi dehidrasi, kelelahan, dan dampak buruk lainnya.
  • Waspada terhadap kemungkinan hujan lebat yang disertai angin kencang dan petir.
  • Menjauhi wilayah terbuka ketika terjadi hujan yang disertai petir, serta menjauhi pohon, bangunan dan infrastruktur yang sudah rapuh ketika terjadi hujan yang disertai angin kencang.
  • Siap siaga menghadapi potensi bencana hidrometeorologi, seperti banjir, banjir bandang, dan tanah longsor, yang dapat terjadi kapan saja.
  • Memantau informasi cuaca terkini melalui kanal resmi BMKG, seperti situs web http://www.bmkg.go.id, media sosial @infobmkg, atau aplikasi infoBMKG.

Tetap tenang dan siaga menghadapi perubahan cuaca ekstrem, serta pahami langkah evakuasi jika diperlukan. Informasi ini akan terus diperbarui sesuai dengan perkembangan cuaca terbaru.

Catatan: Informasi ini telah melalui proses penyuntingan dan pembaruan tanggal 1 Mei 2025, 16.45 WIB.

Jakarta, 1 Mei 2025

Direktorat Meteorologi Publik BMKG

Klik tautan ini jika PDF di atas tidak muncul.

Potensi Hujan Sepekan ke Depan Lainnya

Musim Kemarau Kian Meluas, Hari Tanpa Hujan Semakin Panjang   Berdasarkan analisis perkembangan musim kemarau pada Dasarian II Juli 2026, sebanyak 72,8% wilayah Indonesia atau 509 Zona Musim (ZOM) telah memasuki musim kemarau. Meluasnya musim kemarau juga terlihat dari meningkatnya jumlah titik pengamatan yang mencatat Hari Tanpa Hujan (HTH) dalam kategori panjang hingga ekstrem panjang. Hasil pemantauan HTH hingga Dasarian II Juli 2026 menunjukkan kategori panjang, yaitu 21–30 hari, tercatat di 1.366 titik pengamatan, sedangkan kategori sangat panjang atau 31–60 hari tercatat di 943 titik. Sementara itu, HTH kategori ekstrem panjang atau lebih dari 60 hari terdapat di 70 titik pengamatan yang tersebar di wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Durasi HTH terpanjang mencapai 80 hari dan tercatat di Pos Hujan RPH Katerban, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Meskipun wilayah yang mengalami musim kemarau semakin meluas, dinamika atmosfer skala regional masih mendukung pertumbuhan awan hujan yang cukup signifikan di sejumlah wilayah Indonesia. Dalam dua hari terakhir, hujan lebat masih tercatat di Sumatera Selatan (79 mm/hari), Aceh (75 mm/hari), Sumatera Barat (69 mm/hari), Sulawesi Utara (56 mm/hari), dan Kepulauan Riau (55 mm/hari). Kondisi tersebut didukung oleh aktivitas Gelombang Kelvin yang melintasi Sumatra bagian utara dan Sulawesi Tengah. Aktivitas MJO secara spasial juga terpantau melintasi sebagian wilayah Sumatra bagian tengah hingga selatan. Selain itu, terpantau adanya Bibit Siklon Tropis 92W di Laut Filipina, utara Maluku Utara yang berdampak tidak langsung terhadap peningkatan potensi hujan di wilayah Sulawesi Utara. Kombinasi faktor-faktor tersebut meningkatkan suplai uap air dan mendukung pembentukan awan hujan, terutama di wilayah Indonesia bagian barat dan utara. Melihat masih adanya potensi cuaca ekstrem di tengah meluasnya musim kemarau, BMKG mengimbau kepada masyarakat dan pemangku kepentingan terkait untuk tetap waspada dan melakukan langkah-langkah mitigasi yang diperlukan, serta terus memantau informasi terkini dari BMKG. Dinamika Atmosfer Sepekan ke Depan Pada Dasarian III Juli 2026, kondisi relatif kering diprakirakan masih mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia. Curah hujan kategori rendah diprediksi mencakup sekitar 77,48% wilayah, sedangkan kategori menengah sebesar 22,51% dan kategori tinggi hampir tidak terdeteksi. Pola tersebut diprakirakan terjadi di sebagian besar Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, serta sebagian wilayah Papua. Dominasi kondisi kering tersebut sejalan dengan perkembangan dinamika iklim global. Indeks Niño 3.4 dasarian tercatat sebesar +2,26, lebih tinggi dari dasarian sebelumnya, dengan nilai SOI mencapai -30,2. Kedua indikator tersebut menunjukkan sinyal El Niño yang diprakirakan terus berkembang hingga mencapai kategori kuat pada tahun ini. Kondisi ini berpotensi menekan pembentukan awan hujan dan memperkuat kecenderungan berkurangnya curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia. Namun demikian, peluang hujan belum sepenuhnya berkurang. Aktivitas MJO secara spasial diprakirakan mulai memasuki Indonesia bagian barat, disertai Gelombang Ekuatorial Rossby yang melintasi sebagian Sumatra dan Kalimantan. Selain itu, keberadaan Bibit Siklon Tropis 92W di Samudra Pasifik sebelah utara Maluku Utara diprakirakan meningkat menjadi kategori siklon tropis dan berpotensi menarik aliran massa udara dari wilayah barat menuju timur Indonesia. Interaksi berbagai sistem tersebut dapat membentuk daerah belokan dan perlambatan angin yang mendukung pengumpulan massa udara. Dengan dukungan uap air yang cukup, awan dapat tumbuh dan memicu cuaca signifikan. Oleh karena itu, meskipun kondisi kering diprakirakan tetap lebih dominan, hujan dengan intensitas ringan hingga lebat masih berpeluang terjadi, terutama di wilayah yang dipengaruhi aktivitas gelombang atmosfer, sirkulasi siklonik, serta daerah konvergensi.  Potensi Hujan Sepekan ke Depan Periode 24 – 26 Juli 2026 Cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi cerah berawan hingga hujan ringan. Perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kep. Riau, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Selatan, Maluku, dan Papua Tengah. Angin Kencang: Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan. Periode 27 – 31 Juli 2026 Cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi cerah berawan hingga hujan ringan. Perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang yang terjadi di Aceh, Riau, Sumatera Selatan, Kep. Bangka Belitung, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, dan Papua Pegunungan. Angin Kencang: Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan.  Imbauan  Memasuki musim kemarau yang semakin mendominasi sejumlah wilayah Indonesia, masyarakat perlu mengantisipasi dampak cuaca panas dan kondisi udara yang lebih kering. BMKG mengimbau masyarakat untuk menggunakan pelindung atau tabir surya guna mengurangi paparan langsung sinar matahari serta menjaga kecukupan cairan tubuh, terutama bagi yang beraktivitas di luar ruangan pada siang hari, agar terhindar dari dehidrasi dan kelelahan. Seiring menguatnya kondisi kering di sejumlah wilayah, masyarakat dan pemerintah daerah juga perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap kemunculan titik panas (hotspot) serta potensi kebakaran hutan dan lahan. Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan pembakaran secara sembarangan, baik untuk membuka atau membersihkan lahan maupun membakar sampah, terutama di kawasan yang mudah terbakar seperti lahan gambut, semak belukar, hutan, dan lahan kering. Apabila menemukan titik api atau indikasi kebakaran, masyarakat diharapkan segera melaporkannya kepada pihak berwenang agar dapat ditangani sedini mungkin dan tidak meluas. Meskipun musim kemarau semakin dominan, hujan dengan intensitas ringan hingga sedang yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang masih berpotensi terjadi secara lokal. Oleh karena itu, masyarakat dan para pemangku kepentingan perlu tetap mewaspadai potensi pohon atau dahan tumbang, baliho roboh, genangan, dan sambaran petir, serta menghindari berteduh di bawah pohon, papan reklame, atau bangunan rapuh saat cuaca buruk. Masyarakat diharapkan terus memantau informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini resmi melalui laman www.bmkg.go.id, aplikasi InfoBMKG, dan media sosial @infobmkg, serta melakukan langkah antisipatif untuk mengurangi risiko cuaca ekstrem, kekeringan, dan kebakaran hutan dan lahan. Catatan: Informasi ini telah melalui proses penyuntingan dan pembaruan tanggal 23 Juli 2026, 15.00 WIB.   Jakarta, 23 Juli 2026 Direktorat Meteorologi Publik BMKG

Musim Kemarau Kian Meluas, Hari Tanpa Hujan Semakin Panjang Berdasarkan analisis perkembangan musim kemarau pada Dasarian II Juli 2026, sebanyak 72,8% wilayah Indonesia atau 509 Zona Musim (ZOM) telah memasuki musim kemarau. Meluasnya musim kemarau juga terlihat dari meningkatnya jumlah titik pengamatan yang mencatat Hari Tanpa Hujan (HTH) dalam kategori panjang hingga ekstrem panjang. Hasil pemantauan HTH hingga Dasarian II Juli 2026 menunjukkan kategori panjang, yaitu 21–30 hari, tercatat di 1.366 titik pengamatan, sedangkan kategori sangat panjang atau 31–60 hari tercatat di 943 titik. Sementara itu, HTH kategori ekstrem panjang atau lebih dari 60 hari terdapat di 70 titik pengamatan yang tersebar di wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Durasi HTH terpanjang mencapai 80 hari dan tercatat di Pos Hujan RPH Katerban, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Meskipun wilayah yang mengalami musim kemarau semakin meluas, dinamika atmosfer skala regional masih mendukung pertumbuhan awan hujan yang cukup signifikan di sejumlah wilayah Indonesia. Dalam dua hari terakhir, hujan lebat masih tercatat di Sumatera Selatan (79 mm/hari), Aceh (75 mm/hari), Sumatera Barat (69 mm/hari), Sulawesi Utara (56 mm/hari), dan Kepulauan Riau (55 mm/hari). Kondisi tersebut didukung oleh aktivitas Gelombang Kelvin yang melintasi Sumatra bagian utara dan Sulawesi Tengah. Aktivitas MJO secara spasial juga terpantau melintasi sebagian wilayah Sumatra bagian tengah hingga selatan. Selain itu, terpantau adanya Bibit Siklon Tropis 92W di Laut Filipina, utara Maluku Utara yang berdampak tidak langsung terhadap peningkatan potensi hujan di wilayah Sulawesi Utara. Kombinasi faktor-faktor tersebut meningkatkan suplai uap air dan mendukung pembentukan awan hujan, terutama di wilayah Indonesia bagian barat dan utara. Melihat masih adanya potensi cuaca ekstrem di tengah meluasnya musim kemarau, BMKG mengimbau kepada masyarakat dan pemangku kepentingan terkait untuk tetap waspada dan melakukan langkah-langkah mitigasi yang diperlukan, serta terus memantau informasi terkini dari BMKG. Dinamika Atmosfer Sepekan ke Depan Pada Dasarian III Juli 2026, kondisi relatif kering diprakirakan masih mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia. Curah hujan kategori rendah diprediksi mencakup sekitar 77,48% wilayah, sedangkan kategori menengah sebesar 22,51% dan kategori tinggi hampir tidak terdeteksi. Pola tersebut diprakirakan terjadi di sebagian besar Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, serta sebagian wilayah Papua. Dominasi kondisi kering tersebut sejalan dengan perkembangan dinamika iklim global. Indeks Niño 3.4 dasarian tercatat sebesar +2,26, lebih tinggi dari dasarian sebelumnya, dengan nilai SOI mencapai -30,2. Kedua indikator tersebut menunjukkan sinyal El Niño yang diprakirakan terus berkembang hingga mencapai kategori kuat pada tahun ini. Kondisi ini berpotensi menekan pembentukan awan hujan dan memperkuat kecenderungan berkurangnya curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia. Namun demikian, peluang hujan belum sepenuhnya berkurang. Aktivitas MJO secara spasial diprakirakan mulai memasuki Indonesia bagian barat, disertai Gelombang Ekuatorial Rossby yang melintasi sebagian Sumatra dan Kalimantan. Selain itu, keberadaan Bibit Siklon Tropis 92W di Samudra Pasifik sebelah utara Maluku Utara diprakirakan meningkat menjadi kategori siklon tropis dan berpotensi menarik aliran massa udara dari wilayah barat menuju timur Indonesia. Interaksi berbagai sistem tersebut dapat membentuk daerah belokan dan perlambatan angin yang mendukung pengumpulan massa udara. Dengan dukungan uap air yang cukup, awan dapat tumbuh dan memicu cuaca signifikan. Oleh karena itu, meskipun kondisi kering diprakirakan tetap lebih dominan, hujan dengan intensitas ringan hingga lebat masih berpeluang terjadi, terutama di wilayah yang dipengaruhi aktivitas gelombang atmosfer, sirkulasi siklonik, serta daerah konvergensi. Potensi Hujan Sepekan ke Depan Periode 24 – 26 Juli 2026 Cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi cerah berawan hingga hujan ringan. Perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kep. Riau, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Selatan, Maluku, dan Papua Tengah. Angin Kencang: Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan. Periode 27 – 31 Juli 2026 Cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi cerah berawan hingga hujan ringan. Perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang yang terjadi di Aceh, Riau, Sumatera Selatan, Kep. Bangka Belitung, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, dan Papua Pegunungan. Angin Kencang: Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan. Imbauan Memasuki musim kemarau yang semakin mendominasi sejumlah wilayah Indonesia, masyarakat perlu mengantisipasi dampak cuaca panas dan kondisi udara yang lebih kering. BMKG mengimbau masyarakat untuk menggunakan pelindung atau tabir surya guna mengurangi paparan langsung sinar matahari serta menjaga kecukupan cairan tubuh, terutama bagi yang beraktivitas di luar ruangan pada siang hari, agar terhindar dari dehidrasi dan kelelahan. Seiring menguatnya kondisi kering di sejumlah wilayah, masyarakat dan pemerintah daerah juga perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap kemunculan titik panas (hotspot) serta potensi kebakaran hutan dan lahan. Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan pembakaran secara sembarangan, baik untuk membuka atau membersihkan lahan maupun membakar sampah, terutama di kawasan yang mudah terbakar seperti lahan gambut, semak belukar, hutan, dan lahan kering. Apabila menemukan titik api atau indikasi kebakaran, masyarakat diharapkan segera melaporkannya kepada pihak berwenang agar dapat ditangani sedini mungkin dan tidak meluas. Meskipun musim kemarau semakin dominan, hujan dengan intensitas ringan hingga sedang yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang masih berpotensi terjadi secara lokal. Oleh karena itu, masyarakat dan para pemangku kepentingan perlu tetap mewaspadai potensi pohon atau dahan tumbang, baliho roboh, genangan, dan sambaran petir, serta menghindari berteduh di bawah pohon, papan reklame, atau bangunan rapuh saat cuaca buruk. Masyarakat diharapkan terus memantau informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini resmi melalui laman www.bmkg.go.id, aplikasi InfoBMKG, dan media sosial @infobmkg, serta melakukan langkah antisipatif untuk mengurangi risiko cuaca ekstrem, kekeringan, dan kebakaran hutan dan lahan. Catatan: Informasi ini telah melalui proses penyuntingan dan pembaruan tanggal 23 Juli 2026, 15.00 WIB. Jakarta, 23 Juli 2026 Direktorat Meteorologi Publik BMKG

Baca selengkapnya
Potensi Hujan Indonesia Sepekan ke Depan Periode 21 – 27 Juli 2026: Waspada Peningkatan Potensi Hujan di Tengah Penguatan El Niño dan Perluasan Musim Kemarau

Potensi Hujan Indonesia Sepekan ke Depan Periode 21 – 27 Juli 2026: Waspada Peningkatan Potensi Hujan di Tengah Penguatan El Niño dan Perluasan Musim Kemarau

Baca selengkapnya
Potensi Hujan Indonesia Sepekan ke Depan Periode 17 – 23 Juli 2026: Musim Kemarau Semakin Meluas, Potensi Hujan Akibat Dinamika Atmosfer Masih Ada

Potensi Hujan Indonesia Sepekan ke Depan Periode 17 – 23 Juli 2026: Musim Kemarau Semakin Meluas, Potensi Hujan Akibat Dinamika Atmosfer Masih Ada

Baca selengkapnya
Hubungi via WhatsApp