Kembali ke Potensi Hujan Sepekan ke Depan

Prakiraan Cuaca Indonesia Sepekan Periode 11 – 17 September 2026: Sebaran Asap Masih Bertahan di Tengah Kemarau, Tetap Waspada Peluang Hujan Lokal di Sebagian Wilayah

Azwar Makarim Aldimasqie
Prakiraan Cuaca Indonesia Sepekan Periode 11  – 17 September 2026: Sebaran Asap Masih Bertahan di Tengah Kemarau, Tetap Waspada Peluang Hujan Lokal di Sebagian Wilayah

Sebaran Asap Masih Bertahan di Tengah Kemarau, Tetap Waspada Peluang Hujan Lokal di Sebagian Wilayah

Berdasarkan pemantauan hotspot selama 10 hari terakhir, titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) masih terkonsentrasi di beberapa wilayah Indonesia, terutama Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Sumatera Selatan, dan Papua Selatan. Kalimantan Tengah mencatat jumlah akumulasi titik panas tertinggi, yaitu 2.526 titik, diikuti Kalimantan Barat 2.102 titik, Sumatera Selatan 1.180 titik, dan Papua Selatan 570 titik. Tingginya jumlah titik panas di wilayah-wilayah tersebut perlu menjadi perhatian karena menunjukkan peningkatan potensi kebakaran hutan dan lahan yang dapat memicu meluasnya sebaran asap.

Kondisi tersebut selaras dengan hasil pemantauan asap dari citra Satelit Himawari-9 tanggal 10 September 2026 pukul 13.00 WIB. Sebaran asap terpantau di sejumlah wilayah, antara lain Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Papua Pegunungan, Papua Tengah, dan Papua Selatan. Meluasnya sebaran asap ini didukung oleh kondisi atmosfer yang relatif kering selama periode musim kemarau. Selain itu, kebakaran pada lahan gambut dapat berlangsung lebih lama dan lebih sulit dipadamkan karena api dapat menjalar hingga ke lapisan bawah permukaan tanah.

Keadaan atmosfer yang relatif kering tersebut tidak terlepas dari pengaruh El Niño yang masih berada pada kategori sangat kuat. Berdasarkan pemantauan suhu muka laut wilayah Niño 3.4 di Pasifik, tercatat nilai anomali sebesar +2,74°C pada Dasarian III Agustus 2026, dengan rata-rata bulan Agustus sebesar +2,83°C, dan rata-rata tiga bulan (Juni-Juli-Agustus) mencapai +2.2°C. Nilai ini masih berpotensi meningkat seiring El Niño yang diprediksi masih akan bertahan hingga awal tahun 2027.

Atmosfer kering di wilayah Indonesia juga disertai dengan nilai suhu udara maksimum yang mencapai lebih dari 36°C di sejumlah wilayah. Selama periode 1–9 September 2026, suhu maksimum harian di sejumlah wilayah Indonesia berkisar antara 37,0–38,6°C, dengan suhu udara maksimum tertinggi tercatat pada 1 September sebesar 38,6°C di Stasiun Meteorologi Tebelian Sintang, Kalimantan Barat. Kombinasi kondisi atmosfer yang kering dan suhu udara yang tinggi perlu menjadi perhatian karena dapat meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan, dan berpotensi menurunkan kualitas udara serta meningkatkan risiko gangguan kesehatan bagi masyarakat.

Meski kondisi kering masih mendominasi pada musim kemarau ini, hujan lebat hingga sangat lebat tetap terjadi di beberapa wilayah. Pada 7–9 September 2026, hujan lebat hingga sangat lebat masih tercatat di sejumlah daerah, curah hujan tercatat mencapai 141,6 mm/hari di Sumatera Utara, 114 mm/hari di Sumatera Barat, 108,5 mm/hari di Aceh, 67 mm/hari di Sulawesi Tengah, dan 65 mm/hari di Kalimantan Utara. Hujan tersebut dipengaruhi oleh kombinasi dinamika atmosfer, antara lain Madden Julian Oscillation (MJO), Gelombang Kelvin, Gelombang Rossby Ekuatorial, serta daerah belokan dan pertemuan angin yang terbentuk di sekitar wilayah Indonesia. Suhu muka laut yang relatif hangat dan dukungan faktor lokal seperti topografi, pemanasan permukaan, serta interaksi angin darat-laut juga memicu peningkatan pertumbuhan awan hujan. Kondisi ini menunjukkan bahwa di tengah musim kemarau yang mendominasi wilayah Indonesia, masih ada wilayah yang berpotensi mengalami hujan lebat, khususnya dalam durasi relatif singkat, dan dengan intensitas yang tinggi, sehingga masyarakat tetap perlu waspada.

Dinamika Atmosfer Sepekan ke Depan

Analisis perkembangan Musim Kemarau Dasarian III Agustus 2026 menunjukkan bahwa sekitar 81,1% wilayah Indonesia atau 567 Zona Musim (ZOM) masih berada dalam periode musim kemarau. Memasuki September 2026, curah hujan di sebagian besar wilayah diprakirakan masih berada pada kategori rendah hingga menengah, atau sekitar 0–150 mm per dasarian. Curah hujan rendah, yakni kurang dari 50 mm per dasarian, diprakirakan masih mendominasi sebagian besar Sumatera bagian selatan, seluruh Pulau Jawa, sebagian besar Bali-Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, serta sebagian besar Papua, sehingga kondisi kering diprediksi masih akan berlanjut.

Meskipun demikian, peluang hujan tetap ada di sejumlah wilayah. Pada periode 11–17 September 2026, hujan diprakirakan masih berpotensi terjadi di sebagian Sumatra, Banten, Jawa Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Barat, Papua Pegunungan, dan Papua. Potensi tersebut dipengaruhi oleh aktivitas beberapa dinamika atmosfer, seperti Gelombang Rossby Ekuatorial, Gelombang Kelvin, serta terbentuknya daerah perlambatan dan pertemuan angin di sejumlah wilayah Indonesia. Kondisi atmosfer yang cukup labil, terutama di sebagian Sumatra dan Papua, juga mendukung pertumbuhan awan hujan. Selain itu, faktor konvektif lokal diprediksi memberikan pengaruh signifikan dalam pembentukan awan hujan di musim kemarau. Dengan demikian, meskipun kondisi kering masih mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia, potensi hujan sedang-lebat/sangat lebat secara lokal tetap perlu diwaspadai. Pada saat yang sama, wilayah yang masih mengalami curah hujan rendah juga perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan serta penyebaran asap.

Potensi Hujan Sepekan ke Depan

Periode 11 – 13 September 2026

Cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi berawan hingga hujan sedang. Perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang yang terjadi di Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Banten, Jawa Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, dan Papua.

Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang dapat terjadi dengan kategori tingkat peringatan dini dan wilayah potensi kejadian sebagai berikut:

  • Siaga (hujan lebat – sangat lebat): Aceh dan Sumatera Utara.
  • Angin Kencang: Nusa Tenggara Timur, Kalimantan barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, dan Papua Selatan.

Periode 14 – 17 September 2026

Cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi cerah berawan hingga hujan sedang. Perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang yang terjadi di Sumatra Utara, Sumatra Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Papua Pegunungan, dan Papua.

Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang dapat terjadi dengan kategori tingkat peringatan dini dan wilayah potensi kejadian sebagai berikut:

  • Siaga (hujan lebat – sangat lebat): Aceh
  • Angin Kencang: Banten, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, dan Papua Selatan.

Imbauan
Masyarakat diimbau untuk terus mengantisipasi dampak cuaca panas dan kondisi udara yang lebih kering seiring musim kemarau yang masih berlangsung. Penggunaan tabir surya diperlukan guna mengurangi paparan langsung sinar matahari. Masyarakat juga diimbau untuk menjaga kecukupan cairan tubuh, terutama bagi yang beraktivitas di luar ruangan pada siang hari, agar terhindar dari dehidrasi dan kelelahan.

Seiring menguatnya kondisi kering, masyarakat dan pemerintah daerah diimbau untuk menghemat penggunaan air serta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan. BMKG meminta masyarakat tidak membakar sampah atau membuka lahan secara sembarangan, terutama di kawasan yang mudah terbakar seperti lahan gambut, semak belukar, dan hutan, serta segera melaporkan jika menemukan indikasi titik api.

Meskipun musim kemarau masih dominan, hujan dengan intensitas ringan hingga sedang yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang masih berpotensi terjadi secara lokal. Oleh karena itu, masyarakat dan para pemangku kepentingan perlu tetap mewaspadai potensi pohon atau dahan tumbang, baliho roboh, genangan, dan sambaran petir, serta menghindari berteduh di bawah pohon, papan reklame, atau bangunan rapuh saat cuaca buruk.

Masyarakat diharapkan terus memantau informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini resmi melalui laman http://www.bmkg.go.id, aplikasi InfoBMKG, dan media sosial @infobmkg, serta melakukan langkah antisipatif untuk mengurangi risiko cuaca ekstrem, kekeringan, dan kebakaran hutan dan lahan.

Catatan: Informasi ini telah melalui proses penyuntingan dan pembaruan tanggal 10 September 2026, 19.00 WIB.

Jakarta, 10 September 2026
Direktorat Meteorologi Publik BMKG

Klik tautan ini jika PDF di atas tidak muncul.

Hubungi via WhatsApp