Kembali ke Potensi Hujan Sepekan ke Depan

Prakiraan Cuaca Indonesia Sepekan Periode 4 – 10 September 2026: Awal September Masih Berlangsung dengan Kondisi Panas dan Kering, Hujan Lokal Tetap Berpeluang Terjadi di Beberapa Wilayah

Azwar Makarim Aldimasqie
Prakiraan Cuaca Indonesia Sepekan Periode 4 – 10 September 2026:  Awal September Masih Berlangsung dengan Kondisi Panas dan Kering, Hujan Lokal Tetap Berpeluang Terjadi di Beberapa Wilayah

Awal September Masih Berlangsung dengan Kondisi Panas dan Kering, Hujan Lokal Tetap Berpeluang Terjadi di Beberapa Wilayah

Berdasarkan pemantauan citra satelit polar pada 2 September 2026, titik panas berkepercayaan tinggi masih ditemukan di sejumlah wilayah Indonesia. Kalimantan menjadi wilayah dengan jumlah titik panas terbanyak, yaitu 463 titik, diikuti Sumatra sebanyak 264 titik. Kondisi ini perlu menjadi perhatian karena potensi kebakaran hutan dan lahan masih dapat terjadi, terutama di daerah dengan kondisi cuaca yang relatif kering. Asap dari kejadian kebakaran juga masih terpantau di beberapa wilayah dan berpotensi menyebar ke daerah sekitarnya mengikuti arah angin. Di tengah kondisi musim kemarau, tutupan awan yang relatif sedikit pada pagi hingga siang hari memungkinkan pemanasan permukaan berlangsung lebih optimal sehingga suhu udara dapat meningkat. Suhu udara maksimum tertinggi pada Dasarian III Agustus 2026 mencapai 37,9°C yang tercatat di Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat. Sementara itu, pada periode 31 Agustus–2 September 2026, suhu di atas 37,0°C juga teramati di Aceh, Lampung, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Timur. Selain kondisi suhu yang relatif tinggi, sebagian wilayah Indonesia bagian selatan juga masih mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) dengan kategori panjang hingga ekstrem panjang. Durasi HTH terpanjang mencapai 121 hari yang tercatat di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kondisi musim kemarau yang masih berlangsung di sebagian besar wilayah Indonesia tidak sepenuhnya menghambat terjadinya hujan dengan intensitas tinggi di beberapa daerah. Pada periode 31 Agustus hingga 2 September 2026, hujan lebat hingga sangat lebat masih tercatat di wilayah Sumatra bagian utara dan tengah, dengan curah hujan tertinggi terjadi di Sumatera Utara sebesar 111,6 mm/hari, diikuti Sumatera Barat sebesar 101,8 mm/hari, dan Aceh sebesar 82,5 mm/hari. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh aktivitas spasial Madden-Julian Oscillation (MJO) dan Gelombang Rossby Ekuatorial yang terpantau di wilayah Aceh. Selain itu, Gelombang Kelvin juga terpantau aktif di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, sedangkan Gelombang Mixed-Rossby-Gravity aktif di wilayah Aceh dan Sumatera Utara. Keberadaan daerah belokan dan pertemuan angin di ketiga provinsi tersebut juga mendukung peningkatan aktivitas pembentukan awan hujan. Suhu muka laut yang relatif hangat di perairan barat dan utara Sumatra turut berkontribusi dalam menyediakan pasokan uap air bagi proses pembentukan awan hujan di wilayah tersebut. Dukungan faktor lokal, seperti pemanasan permukaan, kondisi topografi, serta interaksi angin darat dan laut, juga berperan dalam proses pengangkatan massa udara dan mendukung pertumbuhan awan hujan di sejumlah wilayah.

Dinamika Atmosfer Sepekan ke Depan

Pada periode Dasarian I hingga III September 2026, sebagian besar wilayah Indonesia diprakirakan masih mengalami kondisi relatif kering dengan curah hujan berada pada kategori rendah hingga menengah, yaitu berkisar antara 0–150 mm/dasarian. Wilayah dengan curah hujan kurang dari 50 mm/dasarian diprakirakan mendominasi Sumatra bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian besar Kalimantan dan Sulawesi, Maluku, serta sebagian Papua. Kondisi tersebut mengindikasikan masih terbatasnya ketersediaan uap air di atmosfer, yang berkaitan dengan pengaruh El Nino kategori sangat kuat dan IOD positif. Kedua fenomena tersebut secara umum mendukung pengurangan suplai kelembapan menuju wilayah Indonesia sehingga kondisi kering masih berpotensi berlanjut.

Meskipun secara umum aktivitas pertumbuhan awan hujan di Indonesia diprakirakan masih rendah, beberapa wilayah tetap memiliki peluang pertumbuhan awan pada kategori sedang hingga tinggi. Wilayah tersebut terutama mencakup Sumatra bagian utara, Kalimantan bagian utara, dan Papua bagian utara. Pada 4–10 September 2026, MJO secara spasial diprakirakan aktif di sekitar pesisir utara Aceh, Maluku bagian timur, Laut Arafuru bagian tengah hingga timur, serta sebagian besar Papua. Sementara itu, Gelombang Kelvin diprakirakan aktif melintasi wilayah yang cukup luas, mulai dari Sumatra bagian tengah dan selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.

Dukungan terhadap pembentukan awan hujan juga berasal dari pembentukan daerah perlambatan angin (konvergensi) yang diprediksi terbentuk di Sumatera Selatan hingga Jambi, Kalimantan Tengah hingga Kalimantan Barat, dan Papua Pegunungan, sedangkan daerah pertemuan angin (konfluensi) juga diprakirakan terbentuk di perairan barat dan utara Aceh. Selain itu, labilitas lokal kuat yang mendukung proses konvektif pada skala lokal diprediksi terdapat di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, dan Papua Pegunungan. Kombinasi dinamika tersebut masih dapat memicu pengumpulan dan pengangkatan massa udara, sehingga hujan secara lokal dengan intensitas bervariasi masih berpeluang terjadi di sebagian Sumatra bagian utara, Kalimantan bagian utara, Sulawesi bagian tengah, dan Papua bagian utara. Meskipun demikian, hujan diprakirakan cenderung bersifat sporadis dan berdurasi relatif singkat di tengah dominasi kondisi kering yang masih berlangsung.

Potensi Hujan Sepekan ke Depan

Periode 4 – 6 September 2026

Cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi hujan ringan hingga hujan sedang. Perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang yang terjadi di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Kalimantan Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Papua Barat Daya, dan Papua.

Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang dapat terjadi dengan kategori tingkat peringatan dini dan wilayah potensi kejadian sebagai berikut:

  • Siaga (hujan lebat – sangat lebat): Papua Pegunungan.
  • Angin Kencang: Sumatera Barat, Bengkulu, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, bali, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi utara, Sulawesi Selatan, dan Papua Pegunungan.

Periode 7 – 10 September 2026
Cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi cerah berawan hingga hujan sedang. Perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang yang terjadi di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, dan Papua Pegunungan.

Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang dapat terjadi dengan kategori tingkat peringatan dini dan wilayah potensi kejadian sebagai berikut:

  • Siaga (hujan lebat – sangat lebat): Nihil
  • Angin Kencang: Aceh, Bengkulu, Lampung, Kep. Riau, Bangka Belitung, Banten, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Maluku, Papua Barat, dan Papua Selatan.

Imbauan
Memasuki musim kemarau yang semakin mendominasi sejumlah wilayah Indonesia, masyarakat perlu mengantisipasi dampak cuaca panas dan kondisi udara yang lebih kering. BMKG mengimbau masyarakat untuk menggunakan pelindung atau tabir surya guna mengurangi paparan langsung sinar matahari serta menjaga kecukupan cairan tubuh, terutama bagi yang beraktivitas di luar ruangan pada siang hari, agar terhindar dari dehidrasi dan kelelahan.

Seiring menguatnya kondisi kering, masyarakat dan pemerintah daerah diimbau untuk menghemat penggunaan air serta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan. BMKG meminta masyarakat tidak membakar sampah atau membuka lahan secara sembarangan, terutama di kawasan yang mudah terbakar seperti lahan gambut, semak belukar, dan hutan, serta segera melaporkan jika menemukan indikasi titik api (hotspot).

Meskipun musim kemarau semakin dominan, hujan dengan intensitas ringan hingga sedang yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang masih berpotensi terjadi secara lokal. Oleh karena itu, masyarakat dan para pemangku kepentingan perlu tetap mewaspadai potensi pohon atau dahan tumbang, baliho roboh, genangan, dan sambaran petir, serta menghindari berteduh di bawah pohon, papan reklame, atau bangunan rapuh saat cuaca buruk.

Masyarakat diharapkan terus memantau informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini resmi melalui laman http://www.bmkg.go.id, aplikasi InfoBMKG, dan media sosial @infobmkg, serta melakukan langkah antisipatif untuk mengurangi risiko cuaca ekstrem, kekeringan, dan kebakaran hutan dan lahan.

Catatan: Informasi ini telah melalui proses penyuntingan dan pembaruan tanggal 03 September 2026, 16.00 WIB.

Jakarta, 03 September 2026
Direktorat Meteorologi Publik BMKG

Klik tautan ini jika PDF di atas tidak muncul.

Hubungi via WhatsApp