Kembali ke Potensi Hujan Sepekan ke Depan

Prakiraan Cuaca Indonesia Sepekan Periode 27 Agustus – 2 September 2026: Kondisi Kering Semakin Meluas Seiring Puncak Musim Kemarau, Namun Potensi Hujan Lokal Tetap Ada di Sebagian Wilayah

Nurma Yati
Prakiraan Cuaca Indonesia Sepekan Periode 27 Agustus – 2 September 2026:  Kondisi Kering Semakin Meluas Seiring Puncak Musim Kemarau, Namun Potensi Hujan Lokal Tetap Ada di Sebagian Wilayah

Kondisi Kering Semakin Meluas Seiring Puncak Musim Kemarau, Namun Potensi Hujan Lokal Tetap Ada di Sebagian Wilayah

Delapan puluh persen wilayah Indonesia sedang mengalami musim kemarau dengan puncaknya sebagian besar terjadi pada Bulan Agustus. Hal tersebut berimplikasi pada terjadinya kekeringan meteorologis, terutama pada wilayah Indonesia bagian selatan. Selain itu, kejadian bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga masih mendominasi sebagian provinsi di Indonesia. Sedikitnya ada 15 laporan kejadian karhutla tercatat pada periode 25 – 27 Agustus 2026 yang tersebar di delapan provinsi, meliputi Kabupaten Aceh Besar di Provinsi Aceh; Kabupaten Subang di Provinsi Jawa Barat; Kabupaten Banyumas, Sragen, Klaten, dan Sukoharjo di Provinsi Jawa Tengah; Belitung Timur di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung; Kutai Barat di Provinsi Kalimantan Timur; Toli-Toli dan Tojo Una-Una di Provinsi Sulawesi Tengah; Pinrang, Enrekang, dan Sidenreng Rappang di Provinsi Sulawesi Selatan; serta Kota Sorong di Provinsi Papua Barat Daya.

Berdasarkan pantauan citra satelit Himawari-9 pada 25 Agustus 2026, titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi juga mengalami peningkatan di sekitar wilayah Kalimantan Barat, dari 92 menjadi 140 titik, di Kalimantan Tengah dari 113 menjadi 352 titik, dan Kalimantan Timur dari 30 menjadi 63 titik. Sementara itu, penurunan jumlah titik panas terjadi di Riau dari 9 menjadi 0 titik, di Jambi dari 15 menjadi 1 titik, Sumatera Selatan dari 298 menjadi 63 titik, serta di Kalimantan Selatan dari 89 menjadi 60 titik. Bersamaan dengan kondisi tersebut, sebaran asap juga terdeteksi di sejumlah wilayah yang meliputi Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Maluku, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan. Sebagian sebaran asap juga terbawa oleh pola angin sehingga meluas ke wilayah sekitarnya.

Selain karhutla, peningkatan suhu udara juga perlu menjadi perhatian saat musim kemarau. Tutupan awan yang relatif minim di sebagian besar wilayah Indonesia, terutama sejak pagi hingga siang hari, memicu pemanasan permukaan bumi secara lebih intens dan berimplikasi pada peningkatan suhu udara maksimum. Pada periode 23–26 Agustus 2026, suhu udara maksimum tercatat melampaui 36,0°C di wilayah Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Lampung, Aceh, dan Medan. Kondisi ini dapat berdampak pada penurunan kenyamanan termal masyarakat, peningkatan kebutuhan air, serta meningkatkan risiko terhadap kesehatan, produktivitas, dan aktivitas masyarakat, terutama pada siang hingga sore hari.

Meskipun kemarau masih mendominasi di sebagian besar wilayah Indonesia, curah hujan signifikan masih terjadi di beberapa wilayah, terutama di Sumatera bagian utara hingga tengah. Pada periode 24–26 Agustus 2026, hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat tercatat di Sumatera Utara (110 mm/hari), Sumatera Barat (90 mm/hari), Kep. Riau (63 mm/hari), Jambi (56 mm/hari). Kondisi ini dipengaruhi oleh kombinasi dinamika atmosfer regional dan faktor lokal, seperti Gelombang Kelvin yang terpantau aktif di sebagian wilayah Sumatera bagian tengah, terbentuknya daerah belokan dan pertemuan angin, serta suhu muka laut yang relatif hangat di perairan barat dan utara Sumatra sehingga mendukung peningkatan suplai uap air. Selain itu, faktor lokal berupa pemanasan permukaan, topografi, dan interaksi angin darat-laut turut mendukung proses pengangkatan massa udara dan pertumbuhan awan hujan di wilayah tersebut.

Dinamika Atmosfer Sepekan ke Depan

Secara umum, curah hujan pada periode Agustus III hingga September II 2026 diprakirakan berada pada kategori rendah hingga menengah, sekitar 0–150 mm/dasarian. Curah hujan rendah (<50 mm/dasarian) masih mendominasi banyak wilayah Indonesia, terutama Sumatra bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian besar Kalimantan dan Sulawesi, Maluku, serta sebagian Papua. Kondisi ini turut dipengaruhi oleh El Niño kategori sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang diprakirakan masih mendominasi, sehingga cenderung menekan aktivitas konvektif dan mendukung berlanjutnya kondisi kering di sebagian wilayah Indonesia.

Di tengah dominasi kondisi tersebut, sejumlah dinamika atmosfer masih dapat mendukung pertumbuhan awan hujan secara lokal. MJO secara spasial diprakirakan aktif pada 28–29 Agustus 2026 di pesisir utara Aceh, Selat Malaka bagian utara, Kepulauan Aru, Laut Arafuru bagian tengah hingga timur, serta Papua Selatan. Sementara itu, Gelombang Rossby Ekuator diprakirakan aktif di pesisir timur Papua Selatan. Selain itu, potensi pertumbuhan awan hujan juga didukung oleh terbentuknya daerah konvergensi dan konfluensi di sejumlah wilayah, terutama sekitar Laut Andaman, Selat Malaka bagian utara, Laut Natuna Utara, Selat Makassar, Papua hingga perairan Samudra Pasifik di sekitar Papua, yang dapat meningkatkan pengumpulan dan pengangkatan massa udara. Kondisi atmosfer tersebut menyebabkan sejumlah wilayah di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua dan perairan sekitarnya masih berpotensi hujan dengan intensitas bervariasi dan sporadis serta durasi singkat, meskipun El Niño sangat kuat dan IOD positif yang mendukung kecenderungan kondisi kering masih terjadi.

Potensi Hujan Sepekan ke Depan

Periode 27 – 29 Agustus 2026

Cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi hujan ringan hingga hujan sedang. Perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua, dan Papua Selatan.

Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang dapat terjadi dengan kategori tingkat peringatan dini dan wilayah potensi kejadian sebagai berikut:

  • Siaga (hujan lebat – sangat lebat): Papua Pegunungan
  • Angin Kencang: Kep. Bangka Belitung, Lampung, Banten, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Maluku, Maluku Utara, Nusa Tenggara Timur, dan Papua Selatan.

Periode 30 Agustus – 02 September 2026

Cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi cerah berawan hingga hujan sedang. Perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Kalimantan Utara, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua, dan Papua Selatan.

Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang dapat terjadi dengan kategori tingkat peringatan dini dan wilayah potensi kejadian sebagai berikut:

  • Siaga (hujan lebat – sangat lebat): Sumatera Barat.
  • Angin Kencang: Aceh, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan,Sulawesi Utara, Maluku Utara, dan Papua Selatan.

Imbauan

Memasuki musim kemarau yang semakin mendominasi sejumlah wilayah Indonesia, masyarakat perlu mengantisipasi dampak cuaca panas dan kondisi udara yang lebih kering. BMKG mengimbau masyarakat untuk menggunakan pelindung atau tabir surya guna mengurangi paparan langsung sinar matahari serta menjaga kecukupan cairan tubuh, terutama bagi yang beraktivitas di luar ruangan pada siang hari, agar terhindar dari dehidrasi dan kelelahan.

Seiring menguatnya kondisi kering, masyarakat dan pemerintah daerah diimbau untuk menghemat penggunaan air serta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan. BMKG meminta masyarakat tidak membakar sampah atau membuka lahan secara sembarangan, terutama di kawasan yang mudah terbakar seperti lahan gambut, semak belukar, dan hutan, serta segera melaporkan jika menemukan indikasi titik api (hotspot).

Meskipun musim kemarau semakin dominan, hujan dengan intensitas ringan hingga sedang yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang masih berpotensi terjadi secara lokal. Oleh karena itu, masyarakat dan para pemangku kepentingan perlu tetap mewaspadai potensi pohon atau dahan tumbang, baliho roboh, genangan, dan sambaran petir, serta menghindari berteduh di bawah pohon, papan reklame, atau bangunan rapuh saat cuaca buruk.

Masyarakat diharapkan terus memantau informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini resmi melalui laman http://www.bmkg.go.id, aplikasi InfoBMKG, dan media sosial @infobmkg, serta melakukan langkah antisipatif untuk mengurangi risiko cuaca ekstrem, kekeringan, dan kebakaran hutan dan lahan.

Catatan: Informasi ini telah melalui proses penyuntingan dan pembaruan tanggal 27 Agustus 2026, 16.00 WIB.

Jakarta, 27 Agustus 2026
Direktorat Meteorologi Publik BMKG

Klik tautan ini jika PDF di atas tidak muncul.

Potensi Hujan Sepekan ke Depan Lainnya

Prakiraan Cuaca Indonesia Sepekan Periode 27 Agustus – 2 September 2026:  Kondisi Kering Semakin Meluas Seiring Puncak Musim Kemarau, Namun Potensi Hujan Lokal Tetap Ada di Sebagian Wilayah

Prakiraan Cuaca Indonesia Sepekan Periode 27 Agustus – 2 September 2026: Kondisi Kering Semakin Meluas Seiring Puncak Musim Kemarau, Namun Potensi Hujan Lokal Tetap Ada di Sebagian Wilayah

Baca selengkapnya
Prakiraan Cuaca Indonesia Sepekan Periode 25 – 31 Agustus 2026: Kemarau dan Risiko Karhutla Meningkat, Namun Potensi Hujan Lokal Masih Ada

Prakiraan Cuaca Indonesia Sepekan Periode 25 – 31 Agustus 2026: Kemarau dan Risiko Karhutla Meningkat, Namun Potensi Hujan Lokal Masih Ada

Baca selengkapnya
Hubungi via WhatsApp