Kembali ke Potensi Hujan Sepekan ke Depan

Prakiraan Cuaca Indonesia Sepekan Periode 25 – 31 Agustus 2026: Kemarau dan Risiko Karhutla Meningkat, Namun Potensi Hujan Lokal Masih Ada

Puji Rosita Anggraini Sibuea
Prakiraan Cuaca Indonesia Sepekan Periode 25 – 31 Agustus 2026: Kemarau dan Risiko Karhutla Meningkat, Namun Potensi Hujan Lokal Masih Ada

Kemarau dan Risiko Karhutla Meningkat, Namun Potensi Hujan Lokal Masih Ada

Berdasarkan perkembangan kondisi iklim terkini, pengaruh El Niño kategori sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif masih menjadi faktor utama yang mendukung kondisi kering di sebagian besar wilayah Indonesia. Hal ini sejalan dengan hasil analisis untuk dasarian II Agustus 2026, dimana kondisi kemarau semakin meluas, yang meliputi 79,9% wilayah Indonesia (559 ZOM), dengan sebagian besar wilayah mengalami curah hujan rendah dan sifat hujan dibawah normal. Berkurangnya curah hujan tersebut turut meningkatkan kerentanan terhadap kekeringan serta kejadian kebakaran hutan dan lahan di sejumlah provinsi.

Berdasarkan pantauan citra satelit Himawari-9 pada 23 Agustus 2026, titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi terdeteksi di Sumatera sebanyak 299 titik, di Kalimantan terdeteksi sebanyak 383 titik, serta di Papua dan Maluku terdeteksi sebanyak 186 titik. Tidak hanya itu, sebaran asap juga terdeteksi di sejumlah wilayah Sumatra, Kalimantan, Maluku, dan Papua, meliputi Sumatera Utara, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Papua Barat, Papua Tengah, dan Papua Selatan. Sebagian sebaran asap juga terbawa pola angin sehingga meluas ke wilayah sekitarnya.

Namun demikian, kondisi atmosfer tidak sepenuhnya kering dan potensi hujan masih tetap ada, terutama di wilayah Sumatra bagian utara hingga tengah. Pada periode 20-23 Agustus 2026, curah hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat tercatat di Sumatera Barat (125 mm/hari), Sumatera Utara (97 mm/hari), dan Aceh (88 mm/hari). Kondisi ini dipengaruhi oleh kombinasi dinamika atmosfer regional dan faktor lokal, seperti aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) spasial yang aktif di sebagian wilayah pesisir utara Aceh, terbentuknya daerah belokan dan pertemuan angin, serta suhu muka laut yang relatif hangat di perairan barat dan utara Sumatra, sehingga mendukung peningkatan suplai uap air. Selain itu, faktor lokal berupa pemanasan permukaan, topografi, dan interaksi angin darat-laut turut mendukung proses pengangkatan massa udara dan pertumbuhan awan hujan di wilayah tersebut.

Dinamika Atmosfer Sepekan ke Depan

Kondisi atmosfer dalam sepekan ke depan diprediksi masih cenderung kering, seiring pengaruh El Niño yang berada pada kategori sangat kuat dan IOD positif yang masih akan bertahan. Kondisi tersebut sejalan dengan prakiraan curah hujan periode Agustus III–September II 2026 yang umumnya berada pada kategori rendah hingga menengah (0–150 mm/dasarian), dengan kategori rendah (<50 mm/dasarian) masih mendominasi sebagian besar wilayah, meliputi sebagian Sumatra terutama bagian selatan, Jawa, Bali, NTB, NTT, sebagian besar Kalimantan, Sulawesi, Maluku Utara, Maluku, serta sebagian Papua. Dengan demikian, kecenderungan kering diprakirakan masih berlanjut, khususnya di wilayah yang sedang mengalami musim kemarau.

Di tengah kondisi tersebut, dinamika atmosfer regional masih dapat memberikan peluang terbentuknya awan hujan di sejumlah wilayah. Kondisi ini antara lain didukung oleh aktivitas Gelombang Rossby Ekuator yang diprakirakan tetap aktif di sekitar Samudra Pasifik utara Papua, Maluku Utara, Laut Sulawesi, Sulawesi Utara, hingga pesisir utara Papua Barat Daya. Selain itu, keberadaan Bibit Siklon Tropis 97W di Samudra Pasifik utara Papua turut mendukung terbentuknya daerah konvergensi dan konfluensi di sekitar Papua hingga Laut Filipina. Kondisi tersebut dapat meningkatkan pengumpulan serta pengangkatan massa udara, sehingga mendukung pertumbuhan awan konvektif di wilayah sekitarnya.

Potensi pertumbuhan awan hujan juga diprediksi terjadi akibat pembentukan daerah konvergensi yang diprakirakan terbentuk di sejumlah wilayah Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua. Kondisi tersebut semakin didukung oleh labilitas atmosfer yang kuat di sebagian wilayah Sumatra, Kalimantan, serta Papua bagian tengah dan pegunungan. Dengan demikian, meskipun pengaruh El Niño dan IOD positif masih mendominasi kondisi yang cenderung kering, potensi hujan dengan intensitas bervariasi tetap ada secara lokal dan sporadis, terutama di wilayah yang dipengaruhi Gelombang Rossby Ekuatorial, bibit siklon tropis atau sirkulasi siklonik, konvergensi-konfluensi, serta kondisi labilitas atmosfer yang mendukung tersebut.

Potensi Hujan Sepekan ke Depan

Periode 25 – 27 Agustus 2026

Cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi hujan ringan hingga hujan sedang. Perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Kalimantan Utara, dan Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua, dan Papua Selatan.

  • Angin Kencang: Banten, Gorontalo, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kep. Bangka Belitung, Lampung, Maluku, Maluku Utara, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, dan Papua Selatan.

Periode 28 – 31 Agustus 2026

Cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi cerah berawan hingga hujan lebat. Perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua.

Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang dapat terjadi dengan kategori tingkat peringatan dini dan wilayah potensi kejadian sebagai berikut:

  • Siaga (hujan lebat – sangat lebat): Papua Selatan.
  • Angin Kencang: Banten, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, dan Papua Selatan.

Imbauan

Memasuki musim kemarau yang semakin mendominasi sejumlah wilayah Indonesia, masyarakat perlu mengantisipasi dampak cuaca panas dan kondisi udara yang lebih kering. BMKG mengimbau masyarakat untuk menggunakan pelindung atau tabir surya guna mengurangi paparan langsung sinar matahari serta menjaga kecukupan cairan tubuh, terutama bagi yang beraktivitas di luar ruangan pada siang hari, agar terhindar dari dehidrasi dan kelelahan.

Seiring menguatnya kondisi kering, masyarakat dan pemerintah daerah diimbau untuk menghemat penggunaan air serta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan. BMKG meminta masyarakat tidak membakar sampah atau membuka lahan secara sembarangan, terutama di kawasan yang mudah terbakar seperti lahan gambut, semak belukar, dan hutan, serta segera melaporkan jika menemukan indikasi titik api (hotspot).

Meskipun musim kemarau semakin dominan, hujan dengan intensitas ringan hingga sedang yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang masih berpotensi terjadi secara lokal. Oleh karena itu, masyarakat dan para pemangku kepentingan perlu tetap mewaspadai potensi pohon atau dahan tumbang, baliho roboh, genangan, dan sambaran petir, serta menghindari berteduh di bawah pohon, papan reklame, atau bangunan rapuh saat cuaca buruk.

Masyarakat diharapkan terus memantau informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini resmi melalui laman http://www.bmkg.go.id, aplikasi InfoBMKG, dan media sosial @infobmkg, serta melakukan langkah antisipatif untuk mengurangi risiko cuaca ekstrem, kekeringan, dan kebakaran hutan dan lahan.

Catatan: Informasi ini telah melalui proses penyuntingan dan pembaruan tanggal 24 Agustus 2026, 16.00 WIB.

Jakarta, 24 Agustus 2026
Direktorat Meteorologi Publik BMKG

Klik tautan ini jika PDF di atas tidak muncul.

Potensi Hujan Sepekan ke Depan Lainnya

Prakiraan Cuaca Indonesia Sepekan Periode 25 – 31 Agustus 2026: Kemarau dan Risiko Karhutla Meningkat, Namun Potensi Hujan Lokal Masih Ada

Prakiraan Cuaca Indonesia Sepekan Periode 25 – 31 Agustus 2026: Kemarau dan Risiko Karhutla Meningkat, Namun Potensi Hujan Lokal Masih Ada

Baca selengkapnya
Hubungi via WhatsApp