El Niño Kuat Warnai HUT ke-81 RI, Kemarau Mendominasi Sebagian Besar Indonesia
Dalam rangka HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, kondisi cuaca di sebagian besar wilayah Indonesia masih didominasi oleh kondisi relatif kering, seiring dengan meluasnya wilayah yang telah memasuki musim kemarau. Titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi masih terpantau terutama di Kalimantan dan Papua, sejalan dengan kondisi cuaca yang relatif kering di sebagian wilayah tersebut. Pada Dasarian I Agustus 2026, sejumlah 535 ZOM atau 76,5% wilayah telah memasuki musim kemarau. Curah hujan kategori rendah mendominasi 90,79% wilayah Indonesia, dengan 87,28% wilayah berada pada kategori hujan di bawah normal, yang menunjukkan kondisi kering masih mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia. Kondisi kering diprakirakan masih berlanjut di sebagian besar wilayah, terutama pada daerah yang telah memasuki musim kemarau. Meskipun demikian, peluang hujan masih terdapat di sejumlah wilayah secara lokal dengan intensitas yang bervariasi, dipengaruhi oleh dinamika atmosfer dan faktor lokal seperti pemanasan permukaan serta topografi.
Hal tersebut terlihat pada periode 14–16 Agustus 2026, dimana hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih tercatat di sejumlah wilayah, dengan curah hujan mencapai 93 mm/hari di Sumatra Utara, 87 mm/hari di Sumatra Barat, 49 mm/hari di Papua, dan 22 mm/hari di Maluku. Hal ini dipengaruhi oleh aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) di sekitar Sumatra, Kalimantan bagian barat dan utara, serta Papua bagian barat dan utara, bersamaan dengan adanya perlambatan dan belokan angin di utara Sumatra, Sulawesi, Maluku, Kalimantan, dan Papua. Interaksi dinamika atmosfer tersebut mendukung pertumbuhan awan konvektif dan meningkatkan peluang terjadinya hujan secara lokal, sehingga hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih terjadi di sejumlah wilayah meskipun sebagian besar Indonesia berada dalam periode musim kemarau dan dipengaruhi El Niño.
Dinamika Atmosfer Sepekan ke Depan
Untuk periode Dasarian II Agustus hingga Dasarian I September 2026, curah hujan di Indonesia secara umum diprakirakan berada pada kategori rendah hingga menengah (0–150 mm/dasarian). Curah hujan rendah (<50 mm/dasarian) masih berpeluang mendominasi sebagian besar wilayah, meliputi Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan, Sulawesi, Maluku Utara, Maluku, hingga Papua. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ketersediaan hujan secara umum masih terbatas dalam beberapa dasarian ke depan.
Kondisi tersebut tidak terlepas dari pengaruh El Niño yang berada pada intensitas sangat kuat serta IOD positif, yang secara umum cenderung mengurangi suplai uap air ke wilayah Indonesia dan mempertahankan kondisi atmosfer yang relatif kering. Meski demikian, pengaruh kedua fenomena tersebut tidak berlangsung seragam di seluruh wilayah, karena dinamika atmosfer regional dan lokal masih dapat memberikan dukungan terhadap pembentukan awan hujan.
Dalam sepekan ke depan, aktivitas MJO diprakirakan berada di sebagian besar Sumatera, Kalimantan bagian barat dan utara, serta Papua bagian utara dan barat. Gelombang Kelvin juga diprediksi aktif di sebagian besar Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan, sedangkan Gelombang Rossby Ekuatorial berpotensi berpropagasi di sebagian Kalimantan bagian utara dan timur. Aktivitas gelombang tersebut dapat meningkatkan pertumbuhan awan konvektif, terutama pada wilayah yang didukung oleh konvergensi angin, kelembaban, dan labilitas atmosfer lokal.
Potensi Hujan Sepekan ke Depan
Periode 18 – 20 Agustus 2026
Cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi cerah berawan hingga hujan lebat. Perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, lampung, Jawa Barat, Kalimantan Utara, Maluku, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua.
- Siaga (hujan lebat – sangat lebat): Papua Pegunungan.
- Angin Kencang: Aceh, Jawa Timur, Kep. Riau, Maluku, Maluku Utara, Nusa Tenggara Timur, Papua Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara.
Periode 21 – 24 Agustus 2026
Cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi cerah berawan hingga hujan lebat. Perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang yang terjadi di Aceh, Sumatera Barat, Kalimantan Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua.
Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang dapat terjadi dengan kategori tingkat peringatan dini dan wilayah potensi kejadian sebagai berikut:
- Siaga (hujan lebat – sangat lebat): Papua Pegunungan.
- Angin Kencang: Bengkulu, Riau, Banten, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Maluku, Maluku Utara, Nusa Tenggara Timur, Papua Barat Daya, Papua Barat, dan Papua Selatan.
Imbauan
Memasuki musim kemarau yang semakin mendominasi sejumlah wilayah Indonesia, masyarakat perlu mengantisipasi dampak cuaca panas dan kondisi udara yang lebih kering. BMKG mengimbau masyarakat untuk menggunakan pelindung atau tabir surya guna mengurangi paparan langsung sinar matahari serta menjaga kecukupan cairan tubuh, terutama bagi yang beraktivitas di luar ruangan pada siang hari, agar terhindar dari dehidrasi dan kelelahan.
Seiring menguatnya kondisi kering, masyarakat dan pemerintah daerah diimbau untuk menghemat penggunaan air serta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan. BMKG meminta masyarakat tidak membakar sampah atau membuka lahan secara sembarangan, terutama di kawasan yang mudah terbakar seperti lahan gambut, semak belukar, dan hutan, serta segera melaporkan jika menemukan indikasi titik api (hotspot).
Meskipun musim kemarau semakin dominan, hujan dengan intensitas ringan hingga sedang yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang masih berpotensi terjadi secara lokal. Oleh karena itu, masyarakat dan para pemangku kepentingan perlu tetap mewaspadai potensi pohon atau dahan tumbang, baliho roboh, genangan, dan sambaran petir, serta menghindari berteduh di bawah pohon, papan reklame, atau bangunan rapuh saat cuaca buruk.
Masyarakat diharapkan terus memantau informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini resmi melalui laman http://www.bmkg.go.id, aplikasi InfoBMKG, dan media sosial @infobmkg, serta melakukan langkah antisipatif untuk mengurangi risiko cuaca ekstrem, kekeringan, dan kebakaran hutan dan lahan.
Catatan: Informasi ini telah melalui proses penyuntingan dan pembaruan tanggal 17 Agustus 2026, 16.00 WIB.
Jakarta, 17 Agustus 2026
Direktorat Meteorologi Publik BMKG
– Klik tautan ini jika PDF di atas tidak muncul.