Kembali ke Berita

Siswa SMAK Penabur Gading Serpong Matangkan Persiapan OSN Kebumian di BMKG

Annisa Amalia Zahro
Siswa SMAK Penabur Gading Serpong Matangkan Persiapan OSN Kebumian di BMKG

Jakarta, 2 September 2026 – Siswa-siswi SMAK Penabur Gading Serpong berkunjung ke Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk melihat langsung penerapan ilmu kebumian yang selama ini mereka pelajari di sekolah. Kunjungan ini menjadi ajang memperdalam pemahaman mereka, sebagai bekal menjelang pelaksanaan Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2026 tingkat nasional pada 14–20 September 2026 mendatang.

Rangkaian kunjungan dimulai di Taman Alat Meteorologi. Zulviga Nur Auliayahya dari Direktorat Meteorologi Penerbangan BMKG memandu para siswa menelusuri satu per satu instrumen yang selama ini hanya mereka kenal lewat buku, sambil menjelaskan bagaimana setiap alat itu bekerja, mendukung analisis kondisi cuaca, hingga akhirnya menjadi informasi prakiraan yang dibutuhkan masyarakat.

Sepanjang kunjungan, rasa ingin tahu siswa  terungkap melalui pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan. Bukan hanya sekadar soal “alat apa itu”, tetapi bagaimana proses suatu sistem atmosfer bekerja, dimulai dari membaca data yang dihasilkan oleh peralatan pengamatan.

Langkah berikutnya membawa rombongan ke Galeri B.A.I.K (Bumi, Atmosfer, Iklim, dan Kualitas Udara). Di sini, R. Hikmat Kurniawan dari Direktorat Layanan Iklim Terapan BMKG mengajak siswa mempelajari instrumen-instrumen pengamatan iklim secara lebih kompleks. Siklus hidrologi yang terus berjalan di tengah perubahan iklim menjadi perhatian para siswa mengingat dampaknya dirasakan langsung dalam kehidupan.

Sesi terakhir membawa siswa ke ruang operasional Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS) dan Indonesia Earthquake Early Warning System (InaEEWS). Alfath Abu Bakar dari Direktorat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG yang memandu sesi ini menjelaskan bahwa ruangan tersebut menjadi pusat kendali penyebaran informasi gempa bumi dan tsunami.

Ia menguraikan salah satu prinsip kerja sistem deteksi dini gempa bumi dengan memanfaatkan perbedaan kecepatan rambat jenis gelombang primer (P) dan sekunder (S) yang dihasilkan setelah gempa bumi terjadi. Selisih waktu kedatangan kedua gelombang tersebut dimanfaatkan tim InaEEWS untuk menganalisis karakteristik gempa dan menginformasikan ke seluruh wilayah terdampak dengan cepat.

Pada saat bersamaan, sinyal yang ditangkap jaringan seismograf kemudian diproses, sehingga tim InaTEWS dapat mengeluarkan informasi potensi tsunami dalam waktu kurang dari tiga menit.

Penjelasan demi penjelasan disambut dengan berbagai pertanyaan dari para siswa, seolah ingin memastikan tidak ada detail yang terlewat. Bagi mereka, kunjungan ini bukan sekadar tambahan wawasan, tetapi juga bekal penting untuk menghadapi OSN yang akan datang.

Hubungi via WhatsApp