Kembali ke Berita

Dalam Rakor, BMKG Dorong Penguatan Kolaborasi Pengendalian Karhutla di Kalbar

Valdez Dwi
Dalam Rakor, BMKG Dorong Penguatan Kolaborasi Pengendalian Karhutla di Kalbar

Pontianak, 16 April 2026 – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan pentingnya penguatan kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seiring tren penurunan curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Kalimantan Barat.

Hal tersebut disampaikan Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, dalam Rapat Koordinasi Penanggulangan Karhutla di Kantor Gubernur Kalimantan Barat, Kamis (16/04/2026). Sebelumnya, Kepala BMKG juga menghadiri Apel Kesiapsiagaan Penanganan Karhutla Nasional Tahun 2026.

Dalam paparannya, Faisal menjelaskan bahwa dinamika iklim global saat ini menunjukkan Indeks ENSO (El Nino-Southern Oscillation) di Samudra Pasifik dan IOD (Indian Ocean Dipole) di Samudra Hindia berada pada fase netral. Meski demikian, BMKG memprakirakan pada semester kedua tahun 2026 terdapat potensi perkembangan El Nino dalam kategori lemah hingga moderat.

Lebih lanjut, Faisal menekankan bahwa meskipun intensitas El Nino diprediksi tidak sekuat tahun 2015, 2019, dan 2023, dampaknya tetap perlu diwaspadai, terutama karena beriringan dengan periode musim kemarau.

“Musim Kemarau dan El Nino itu dua fenomena yang terpisah. Yang kita khawatirkan adalah ketika musim kemarau, fase El Nino-nya sedang aktif. Kondisi inilah yang terjadi pada tahun 2015, 2019, 2023, serta diprediksi mulai tahun 2026 ini. BMKG akan terus memantau agar prediksi ke depannya lebih akurat,” jelasnya. 

Faisal juga meluruskan pemahaman terkait istilah kemarau. Ia menegaskan bahwa kemarau tidak berarti tanpa hujan sama sekali, melainkan kondisi ketika curah hujan berada di bawah ambang batas klimatologis.

Khusus untuk wilayah Kalimantan Barat, BMKG memprakirakan curah hujan mulai menurun sejak Mei, terutama di wilayah selatan khatulistiwa. Penurunan ini diperkirakan berlanjut hingga mencapai puncak musim kemarau pada Agustus hingga September, sebelum kembali meningkat pada Oktober.

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, BMKG bersama BNPB serta kementerian/lembaga terkait terus mengoptimalkan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Di Kalimantan Barat, potensi pertumbuhan awan masih cukup tinggi sehingga memungkinkan dilakukan penyemaian awan guna meningkatkan curah hujan dan menjaga kelembapan lahan gambut.

“BMKG akan terus memonitor, memprediksi, mendiseminasikan data, dan berkolaborasi dalam pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca. Saat ini sinergi antarlembaga berjalan sangat baik dalam upaya penanganan karhutla,” ujar Faisal.

BMKG mencatat bahwa pelaksanaan OMC di sejumlah wilayah menunjukkan hasil positif, di antaranya mampu meningkatkan curah hujan secara signifikan dan membantu menekan potensi titik panas di daerah rawan.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Jenderal TNI (Purn) Djamari Chaniago, dalam apel kesiapsiagaan menegaskan bahwa pemerintah memberikan perhatian besar terhadap upaya pencegahan karhutla. Ia meminta seluruh pihak tidak lengah dan terus memperkuat kesiapsiagaan.

“Seluruh komponen bangsa harus meningkatkan mitigasi dan kerja sama agar Karhutla dapat ditekan hingga seminimal mungkin, bahkan menuju zero Karhutla,” tegasnya.

Ia juga menginstruksikan pemerintah daerah, TNI, dan Polri untuk memastikan kesiapan personel, peralatan, logistik, serta sistem komando lapangan. Koordinasi lintas sektor dinilai menjadi kunci utama dalam efektivitas penanganan di lapangan.

Melalui rangkaian apel kesiapsiagaan dan rapat koordinasi ini, pemerintah menegaskan komitmen untuk mengedepankan langkah pencegahan, deteksi dini, serta respons cepat guna mengantisipasi potensi karhutla, khususnya di wilayah rawan seperti Kalimantan Barat.

Di sela agenda utama, Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani juga melakukan kunjungan kerja ke Stasiun Meteorologi Maritim Pontianak, Pelabuhan Dwikora, Pelabuhan Kijing dan Stasiun Meteorologi Supadio. Dalam kunjungan tersebut, Kepala BMKG melaksanakan audiensi bersama jajaran pegawai serta meninjau langsung fasilitas operasional, sarana pendukung, dan kesiapan alat utama pengamatan cuaca di wilayah Kalimantan Barat.

Peninjauan ini dilakukan sebagai bentuk komitmen BMKG dalam memastikan kesiapan infrastruktur layanan informasi cuaca dan peringatan dini di daerah berjalan optimal. Selain itu, kunjungan tersebut juga menjadi dorongan moral bagi seluruh insan BMKG di Kalimantan Barat agar terus menjaga profesionalisme dan semangat kerja dalam menghadirkan informasi yang akurat, cepat, dan tepat kepada masyarakat.

Kepala BMKG menegaskan bahwa peran unit pelaksana teknis di daerah sangat strategis sebagai garda terdepan dalam mendukung keselamatan masyarakat, terutama menghadapi potensi cuaca ekstrem, gangguan transportasi udara dan laut, serta ancaman kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau.

Hubungi via WhatsApp