Kembali ke Berita

BMKG Resmikan HF Radar Array, Perkuat Layanan MKG Terpadu di Sumatra Barat

Valdez Dwi
BMKG Resmikan HF Radar Array, Perkuat Layanan MKG Terpadu di Sumatra Barat

Padang Pariaman, 3 Juli 2026 – BMKG memperkuat layanan meteorologi, klimatologi, dan geofisika (MKG) di Sumatra Barat melalui rangkaian kunjungan kerja, peninjauan kesiapan Unit Pelaksana Teknis (UPT), penguatan integrasi pelayanan MKG, serta peresmian High Frequency (HF) Radar Array untuk mendukung pemantauan laut dan mitigasi bencana di pesisir barat Sumatra.

Rangkaian kunjungan kerja tersebut dipimpin Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, didampingi Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani, Plt. Direktur Meteorologi Maritim Agie Wandala Putra, serta Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu Teguh Rahayu.

Sebelum menghadiri peresmian HF Radar Array, Faisal memenuhi undangan Gubernur Sumatra Barat Mahyeldi untuk berdiskusi mengenai penguatan kolaborasi antara Pemerintah Provinsi Sumatra Barat dan BMKG. Pertemuan tersebut membahas dukungan layanan MKG bagi pembangunan daerah, peningkatan keselamatan masyarakat, serta penguatan ketahanan terhadap bencana hidrometeorologi dan geofisika.

Rangkaian kunjungan kerja kemudian dilanjutkan ke Stasiun Geofisika Padang Panjang. Dalam kesempatan tersebut, Faisal melakukan audiensi bersama jajaran pegawai serta meninjau kesiapan sumber daya manusia, operasional layanan, dan pengembangan fasilitas pengamatan MKG di wilayah Sumatra Barat.

Dalam arahannya, Faisal menegaskan pentingnya transformasi pelayanan BMKG agar semakin terintegrasi, adaptif terhadap perkembangan teknologi digital, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.

Menurutnya, Warning Receiver System (WRS) yang selama ini menjadi media penyebarluasan informasi gempa bumi perlu dikembangkan menjadi platform informasi kebencanaan yang lebih modern. Sistem tersebut diharapkan mampu menyajikan layanan meteorologi, klimatologi, dan geofisika secara terpadu.

“Ke depan WRS tidak hanya menampilkan informasi gempa bumi, tetapi juga informasi cuaca, iklim, hingga potensi El Niño maupun musim kemarau. Bahkan masyarakat dapat berinteraksi dengan sistem tersebut melalui berbagai platform digital,” ujar Faisal.

Ia menjelaskan, pengembangan WRS saat ini telah memasuki tahap prototipe. Sistem tersebut memungkinkan penyajian informasi berbasis lokasi secara lebih fleksibel. Saat terjadi gempa bumi signifikan, sistem akan secara otomatis menampilkan informasi kebencanaan sebagai prioritas sebelum kembali ke layanan informasi lainnya.

Lebih lanjut, Faisal juga mendorong pembangunan konsep pelayanan terpadu BMKG di daerah dengan mengintegrasikan layanan meteorologi, klimatologi, dan geofisika dalam satu kawasan pelayanan. Dengan konsep tersebut, masyarakat tidak perlu berpindah kantor untuk memperoleh layanan informasi MKG yang berbeda.

“Ke depan kita ingin kantor pelayanan MKG menjadi pelayanan terpadu. Masyarakat cukup datang ke satu tempat untuk memperoleh seluruh layanan meteorologi, klimatologi, maupun geofisika. Konsep seperti ini sudah mulai kita terapkan pada beberapa kantor BMKG di Indonesia,” jelasnya.

Selain itu, Faisal menekankan bahwa transformasi digital menjadi arah pengembangan layanan BMKG dalam beberapa tahun mendatang. Menurutnya, sistem informasi peringatan dini tidak lagi bergantung pada perangkat konvensional, tetapi akan semakin terintegrasi dengan teknologi berbasis internet sehingga informasi dapat diterima masyarakat secara lebih cepat, luas, dan mudah diakses.

Selain mengunjungi Stasiun Geofisika Padang Panjang, Faisal beserta jajaran juga meninjau Stasiun Meteorologi Minangkabau dan Stasiun Klimatologi Sumatra Barat. Dalam peninjauan tersebut, Faisal mengecek fasilitas pendukung pengamatan meteorologi, operasional radar cuaca, serta kesiapan infrastruktur yang mendukung pelayanan informasi cuaca penerbangan dan pelayanan meteorologi di Sumatra Barat.

Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya BMKG memastikan seluruh UPT memiliki kesiapan sarana, prasarana, dan sumber daya manusia dalam menghadirkan layanan informasi MKG yang cepat, akurat, dan andal.

Puncak kunjungan kerja ditandai dengan peresmian HF Radar Array di Pantai Lohong, Kota Pariaman. Infrastruktur pemantauan laut mutakhir tersebut menjadi langkah strategis BMKG dalam memperkuat sistem observasi laut nasional, mendukung penguatan sistem peringatan dini tsunami, serta meningkatkan keselamatan nelayan dan aktivitas pelayaran di pesisir barat Sumatra.

“Kami memasang HF Radar ini di lokasi-lokasi strategis agar dapat memperoleh informasi kemaritiman terbaik. Melalui teknologi ini BMKG mampu memantau kondisi laut secara terus-menerus dengan cakupan yang luas sehingga data arus laut, gelombang, maupun arah angin dapat diperoleh lebih cepat dan akurat,” kata Faisal.

Saat ini BMKG telah mengoperasikan empat sistem HF Radar Array dari total sepuluh unit yang direncanakan di seluruh Indonesia. Di Sumatra Barat, sistem tersebut dipasang di Masjid Al-Hakim, Kota Padang, dan Taman Anas Malik, Kota Pariaman, sehingga mampu menjangkau wilayah laut hingga sekitar 80 kilometer.

Dengan beroperasinya HF Radar tersebut, Sumatra Barat kini didukung tiga sistem radar utama BMKG, yaitu Radar Cuaca C-Band di Bandara Internasional Minangkabau, Radar Maritim X-Band di Teluk Bayur, serta HF Radar Maritim untuk pemantauan laut lepas.

Selain penguatan teknologi, BMKG juga terus memperluas edukasi kepada masyarakat melalui Sekolah Lapang Iklim (SLI), Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN), serta Sekolah Lapang Gempa Bumi dan Tsunami. BMKG juga tengah mendorong lima lokasi di Sumatra Barat untuk memperoleh pengakuan Tsunami Ready Community dari UNESCO-IOC sebagai bagian dari peningkatan kesiapsiagaan masyarakat pesisir.

Gubernur Sumatra Barat Mahyeldi menyampaikan apresiasi atas komitmen BMKG dalam memperkuat sistem pemantauan laut di wilayahnya. Menurutnya, kehadiran HF Radar tidak hanya mendukung mitigasi bencana, tetapi juga memperkuat ketahanan maritim, ketahanan pangan, serta meningkatkan kesejahteraan nelayan melalui informasi kondisi laut yang lebih akurat.

Sementara itu, Wali Kota Pariaman Yota Balad menilai HF Radar menjadi infrastruktur yang sangat penting bagi daerahnya. Ia menyebut Kota Pariaman merupakan salah satu wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap ancaman gempa bumi dan tsunami.

Pembangunan HF Radar Array merupakan bagian dari kerja sama Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Prancis melalui Agence Française de Développement (AFD) sebagai lender dan Collecte Localisation Satellites (CLS) sebagai penyedia teknologi.

Sebagai penutup rangkaian kunjungan kerja di Sumatra Barat, Faisal beserta jajaran meninjau langsung lokasi pemasangan HF Radar Array di kawasan Pantai Masjid Al-Hakim, Kota Padang. Peninjauan tersebut dilakukan untuk memastikan seluruh infrastruktur telah beroperasi sesuai spesifikasi teknis dan mampu memberikan cakupan pengamatan laut yang optimal di pesisir barat Sumatra.

Bersama titik HF Radar di Taman Anas Malik, Kota Pariaman, kedua radar tersebut bekerja secara terintegrasi untuk memantau dinamika arus laut, gelombang, dan kondisi oseanografi hingga radius sekitar 80 kilometer. Sistem ini diharapkan memperkuat observasi kelautan, mendukung layanan peringatan dini tsunami, serta meningkatkan keselamatan aktivitas pelayaran dan nelayan di wilayah Samudra Hindia.

 

Berita Lainnya

BMKG-Airnav Jalin Kerjasama, Perkuat Integrasi Data Untuk Keselamatan Penerbangan

BMKG-Airnav Jalin Kerjasama, Perkuat Integrasi Data Untuk Keselamatan Penerbangan

Baca selengkapnya
BMKG Dorong Pemanfaatan Informasi Iklim untuk Perkuat Kemandirian Pangan Nasional

BMKG Dorong Pemanfaatan Informasi Iklim untuk Perkuat Kemandirian Pangan Nasional

Baca selengkapnya
Hubungi via WhatsApp