Kembali ke Artikel

Hasil Monitoring Tingkat Guncangan Akselerometer BMKG Terhadap Kejadian Likuifaksi Gempa Bumi NTT M 7.7

Dian Endah

Penulis:

  1. Dr.Sigit Pramono S.Si,M.Si
  2. Prof.Ir.Teuku Faisal Fathani,Ph.D
  3. Dr.Nelly Florida Riama, M.Si
  4. Dr.Wijayanto, S.T.,M.Sc
  5. Dr.Teguh Rahayu, S.Kom.,M.M
  6. Tim Survey BMKG

Kejadian gempa dengan skala kuat pada suatu area tertentu dapat berpotensi terjadinya dampak bahaya turunan (co-lateral hazard). Salah satu jenis bencana tersebut berupa terjadinya bencana likuifaksi. Dampak guncangan tektonik yang dirasakan kuat di suatu lokasi dengan karakter medium endapan aluvium sand dan kejenuhan air seperti yang terjadi di Kota Mbay II pada saat terjadi gempa M 7.7 Nusa Tenggara Timur dapat berperan dalam kejadian Likuifaksi. Dampak kejadian likuifaksi di Indonesia juga pernah terjadi pada kejadian gempa yang sebelumnya seperti di Lombok 2018, Palu 2018, Mamuju 2024 dan Poso 2026 (Laporan Survey BMKG). Kejadian likuifaksi dapat terjadi didukung beberapa kondisi, yaitu di wilayah yang ditemukan adanya butir pasir halus yang saling lepas, jenuh air dangkal, drainase tidak cukup cepat dan didukung oleh dampak dari guncangan gempa yang dirasakan kuat dan berdurasi cukup lama.

Klik tautan ini jika PDF di atas tidak muncul.

Artikel Lainnya

Hubungi via WhatsApp