Jejak Tsunami Flores 15 Agustus 2026 di Manggarai
Gempabumi tektonik magnitudo M7,7 telah mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu, 15 Agustus 2026 pukul 04:58:23 WIB.
Kembali ke Artikel
Penulis:
Kejadian gempa dengan skala kuat pada suatu area tertentu dapat berpotensi terjadinya dampak bahaya turunan (co-lateral hazard). Salah satu jenis bencana tersebut berupa terjadinya bencana likuifaksi. Dampak guncangan tektonik yang dirasakan kuat di suatu lokasi dengan karakter medium endapan aluvium sand dan kejenuhan air seperti yang terjadi di Kota Mbay II pada saat terjadi gempa M 7.7 Nusa Tenggara Timur dapat berperan dalam kejadian Likuifaksi. Dampak kejadian likuifaksi di Indonesia juga pernah terjadi pada kejadian gempa yang sebelumnya seperti di Lombok 2018, Palu 2018, Mamuju 2024 dan Poso 2026 (Laporan Survey BMKG). Kejadian likuifaksi dapat terjadi didukung beberapa kondisi, yaitu di wilayah yang ditemukan adanya butir pasir halus yang saling lepas, jenuh air dangkal, drainase tidak cukup cepat dan didukung oleh dampak dari guncangan gempa yang dirasakan kuat dan berdurasi cukup lama.
– Klik tautan ini jika PDF di atas tidak muncul.
Gempabumi tektonik magnitudo M7,7 telah mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu, 15 Agustus 2026 pukul 04:58:23 WIB.
Gempabumi besar tidak selalu menimbulkan tingkat guncangan dan kerusakan yang sama di setiap tempat. Dua lokasi yang berdekatan dapat menunjukkan dampak yang berbeda. Selain kekuatan gempa, jarak terhadap sumber, dan karakteristik rambatan gelombang, kondisi tanah setempat ikut menentukan bagaimana gelombang gempa direspons ketika mencapai permukaan.
Pada 15 Agustus 2026, wilayah Nusa Tenggara Timur kembali diingatkan akan potensi bahaya tektonik di daerah tersebut ketika gempabumi dahsyat bermagnitudo M 7.7 mengguncang wilayah Flores. Gempa destruktif ini bersumber dari aktivitas tektonik yang sangat dinamis di zona Sesar Naik Flores (Flores Back Arc Thrust), sebuah struktur patahan yang membentang di utara Kepulauan Nusa Tenggara dan memiliki riwayat panjang dalam membangkitkan gempa bumi besar beserta tsunami di masa lampau. Guncangan kuat ini tidak hanya melepaskan akumulasi energi yang telah tertahan selama puluhan tahun, tetapi juga mendestabilisasi struktur batuan dalam radius yang sangat luas.