Kembali ke Analisis Spektral (SA)

Analisis Spektral Gempabumi Waikabubak 17 Juni 2026

Seismologi Teknik
Analisis Spektral Gempabumi Waikabubak 17 Juni 2026

Gempa bumi berkekuatan M4,8 terjadi di laut pada koordinat 9,68° LS – 119,45° BT, di Waikabubak, Provinsi Nusa Tenggara Timur dengan kedalaman 40 km. Gambar di atas menampilkan sinyal akselerograf dari tiga stasiun yang merekam guncangan kuat akibat gempabumi tersebut, yaitu USTI, WBNI, dan KMBFM.

Pseudo Spectral Acceleration (PSA) menggambarkan akselerasi maksimum yang dialami suatu titik pada suatu struktur akibat gempa bumi, yang menjadi parameter penting dalam perancangan bangunan tahan gempa. Dalam konteks ini, spektrum respons desain SNI 1726:2019 dirancang untuk mengantisipasi karakteristik gempa sesuai dengan kategori tanah, di mana tanah keras, sedang, dan lunak memiliki pengaruh yang berbeda terhadap amplifikasi gelombang gempa.

Perbandingan antara Pseudo Spectral Acceleration (PSA) yang tercatat pada stasiun akselerograf terdekat dengan spektrum respons desain bertujuan untuk memastikan bahwa desain struktur bangunan di area yang tercatat PSA-nya tidak hanya sesuai dengan nilai standar, tetapi juga mempertimbangkan faktor-faktor spesifik seperti jenis tanah dan karakteristik gempa yang dapat mempengaruhi keselamatan dan ketahanan bangunan. Dimana Perbandingan Respon Spektra dan SNI 2019 (2/3 SNI) di setiap staisun sebagai berikut :

Stasiun USTI (Umbu Ratu Nggay, Sumba Tengah):

Respon spektra ketiga komponen (HNN, HNE, dan HNZ) menunjukkan amplitudo relatif rendah pada periode 0,1 – 0,2 detik dan terus mengalami penurunan hingga mendekati nilai nol pada periode lebih panjang. Secara umum, respon spektra ketiga komponen tersebut masih jauh di bawah desain spektra SNI untuk semua kelas tanah (SC, SD, SE). Pola ini menunjukkan potensi terjadinya amplifikasi masih sangat kecil pada periode pendek hingga panjang dengan kondisi tanah keras hingga lunak (kelas situs SC-SE). Dengan demikian, risiko kerusakan terhadap bangunan baik yang berlantai rendah maupun tinggi sangat kecil kemungkinannya jika dilihat dari perbandingan grafik tersebut, terutama bangunan menengah hingga tinggi relatif lebih aman karena energi spektral menurun signifikan pada periode lebih panjang.

Stasiun KMBFM (Kuwus, Manggarai Barat):

Respon spektra ketiga komponen (HNN, HNE, dan HNZ) menunjukkan amplitudo relatif rendah pada periode 0,1 – 0,2 detik dan terus mengalami penurunan hingga mendekati nilai nol pada periode lebih panjang. Secara umum, respon spektra ketiga komponen tersebut masih jauh di bawah desain spektra SNI untuk semua kelas tanah (SC, SD, SE). Pola ini menunjukkan potensi terjadinya amplifikasi masih sangat kecil pada periode pendek hingga panjang dengan kondisi tanah keras hingga lunak (kelas situs SC-SE). Dengan demikian, risiko kerusakan terhadap bangunan baik yang berlantai rendah maupun tinggi sangat kecil kemungkinannya jika dilihat dari perbandingan grafik tersebut, terutama bangunan menengah hingga tinggi relatif lebih aman karena energi spektral menurun signifikan pada periode lebih panjang.

Stasiun WBNI (Wera, Bima):

Respon spektra ketiga komponen (HNN, HNE, dan HNZ) menunjukkan amplitudo relatif rendah pada periode 0,1 – 0,2 detik dan terus mengalami penurunan hingga mendekati nilai nol pada periode lebih panjang. Secara umum, respon spektra ketiga komponen tersebut masih jauh di bawah desain spektra SNI untuk semua kelas tanah (SC, SD, SE). Pola ini menunjukkan potensi terjadinya amplifikasi masih sangat kecil pada periode pendek hingga panjang dengan kondisi tanah keras hingga lunak (kelas situs SC-SE). Dengan demikian, risiko kerusakan terhadap bangunan baik yang berlantai rendah maupun tinggi sangat kecil kemungkinannya jika dilihat dari perbandingan grafik tersebut, terutama bangunan menengah hingga tinggi relatif lebih aman karena energi spektral menurun signifikan pada periode lebih panjang.

Kesimpulan:

Respons spektra di wilayah Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat akibat Gempabumi Waikabubak menunjukkan nilai yang lebih kecil dibandingkan desain spektra SNI pada seluruh kelas tanah (SC, SD, dan SE) pada periode pendek hingga panjang. Hal ini mencerminkan potensi terjadinya amplifikasi tanah sangat kecil, sehingga bangunan di wilayah tersebut masih berada dalam kondisi yang cukup aman dari guncangan gempabumi tanpa adanya kerusakan yang signifikan.

Hubungi via WhatsApp