Kembali ke Analisis Spektral (SA)

Analisis Spektral Gempabumi Flores 15 Agustus 2026

Seismologi Teknik
Analisis Spektral Gempabumi Flores 15 Agustus 2026

Gempa bumi berkekuatan M7,7 terjadi di laut pada koordinat 8,41° LS – 121,39° BT, di 30 km TimurLaut Mbay, Kabupaten Nagekeo Provinsi Nusa Tenggara Timur dengan kedalaman 15 km. Gambar di atas menampilkan sinyal akselerograf dari tiga stasiun yang merekam guncangan kuat akibat gempabumi tersebut, yaitu RNFM, LMTI, dan KMBFM.

Pseudo Spectral Acceleration (PSA) menggambarkan akselerasi maksimum yang dialami suatu titik pada suatu struktur akibat gempa bumi, yang menjadi parameter penting dalam perancangan bangunan tahan gempa. Dalam konteks ini, spektrum respons desain SNI 1726:2019 dirancang untuk mengantisipasi karakteristik gempa sesuai dengan kategori tanah, di mana tanah keras, sedang, dan lunak memiliki pengaruh yang berbeda terhadap amplifikasi gelombang gempa.

Perbandingan antara Pseudo Spectral Acceleration (PSA) yang tercatat pada stasiun akselerograf terdekat dengan spektrum respons desain bertujuan untuk memastikan bahwa desain struktur bangunan di area tersebut tidak hanya sesuai dengan nilai standar, tetapi juga mempertimbangkan faktor-faktor spesifik seperti jenis tanah dan karakteristik gempa yang dapat mempengaruhi keselamatan dan ketahanan bangunan. Perbandingan Respon Spektra dengan Spektrum Respons MCEr maupun Spektrum Respons Desain SNI 2019 (2/3 MCEr) di setiap stasiun sebagai berikut :

Stasiun RNFM (Riung, Ngada):

Respon spektra akselerasi ketiga komponen (HNN, HNE, dan HNZ) menunjukkan amplitudo relatif tinggi pada periode 0,05 – 0,25 detik dan telah melewati beberapa kurva spektrum respons desain pada kelas situs SD dan SE, namun masih berada di bawah kurva spektrum respons MCEr untuk semua kelas situs. Pola ini memiliki potensi cukup besar terjadinya amplifikasi pada periode pendek dengan kondisi tanah sedang hingga lunak (kelas situs SD-SE). Dengan demikian, bangunan rendah dengan 1-2 lantai di kelas situs SD dan SE berpotensi besar mengalami kerusakan akibat gempabumi ini jika dilihat dari perbandingan grafik tersebut, bangunan menengah hingga tinggi relatif lebih aman karena energi spektral menurun signifikan pada periode lebih panjang.

Stasiun LMTI (Langke Rembong, Manggarai):

Respon spektra akselerasi komponen horizontal (HNE dan HNN) menunjukkan amplitudo relatif tinggi pada periode 0,1 – 0,35 detik dan menurun secara signifikan pada periode >3 detik. Secara keseluruhan, nilai spektra akselerasi telah melewati spektrum respons desain dan spektrum respons MCEr untuk semua kelas tanah (SC, SD, SE). Pola ini memiliki potensi sangat besar terjadinya amplifikasi terutama pada periode pendek dengan kondisi tanah keras hingga lunak (kelas situs SC-SE). Dengan demikian, bangunan rendah dengan 1-2 lantai di semua kelas situs berpotensi sangat besar mengalami kerusakan akibat gempabumi ini jika dilihat dari perbandingan grafik tersebut, bangunan menengah hingga tinggi masih memiliki potensi kerusakan meskipun tidak sebesar pada bangunan rendah dikarenakan spektra akselerasi pada periode 1 – 2 detik masih cukup tinggi.

Stasiun KMBFM (Kuwus, Manggarai Barat):

Respon spektra akselerasi komponen HNE dan HNN menunjukkan amplitudo yang sangat tinggi dengan puncaknya pada periode 0,2, sedangkan untuk komponen HNZ yang memiliki amplitudo lebih rendah dengan amplitudo paling tinggi pada periode 0,15. Nilai spektra akselerasi pada komponen horizontal (HNE dan HNN) telah melewati spektrum respons desain dan spektrum respons MCEr untuk semua kelas tanah (SC, SD, SE). Sementara itu, untuk komponen vertikal masih berada di bawah kurva tersebut. Pola ini memiliki potensi sangat tinggi terjadinya amplifikasi pada periode pendek dengan kondisi tanah keras hingga lunak (SC-SE). Dengan demikian, kondisi ini mengindikasikan bahwa bangunan rendah dengan 1-2 lantai di semua kelas situs berpotensi sangat besar mengalami kerusakan akibat gempabumi ini jika dilihat dari perbandingan grafik tersebut, sementara bangunan menengah hingga tinggi memiliki potensi lebih kecil terjadinya kerusakan karena energi spektral menurun cukup signifikan pada periode lebih panjang.

Kesimpulan:

Respons spektra akselerasi di wilayah Mbay, Nagekeo, Nusa Tenggara Timur menunjukkan nilai yang lebih tinggi dibandingkan spektrum respons desain SNI 1726:2019 pada seluruh kelas tanah (SC, SD, dan SE) dalam periode pendek. Hal ini mencerminkan terdapat amplifikasi tanah cukup tinggi yang berkorelasi dengan kerusakan bangunan di wilayah Manggarai dan Manggarai Barat, terutama bangunan rendah 1-2 lantai. Begitu pula untuk wilayah Ngada, meskipun spektra akselerasi lebih rendah, namun tetap terindikasi adanya kerusakan untuk bangunan rendah karena spektrum respons desain untuk wilayah tersebut sudah terlampaui.

Hubungi via WhatsApp