Kembali ke Analisis Spektral (SA)

Analisis Spektral Gempabumi Palu 16 Juni 2026

Seismologi Teknik
Analisis Spektral Gempabumi Palu 16 Juni 2026

Gempa bumi berkekuatan M6,7 terjadi di laut pada koordinat 1,03° LU – 120,24° BT, di Kabupaten Sigi dan 42 km Tenggara Palu, Sulawesi Tengah dengan kedalaman 10 km. Gambar di atas menampilkan sinyal akselerograf dari tiga stasiun yang merekam guncangan kuat akibat gempabumi tersebut, yaitu SAPSI, PICM, dan SBSSI.

Pseudo Spectral Acceleration (PSA) menggambarkan akselerasi maksimum yang dialami suatu titik pada suatu struktur akibat gempa bumi, yang menjadi parameter penting dalam perancangan bangunan tahan gempa. Dalam konteks ini, spektrum respons desain SNI 1726:2019 dirancang untuk mengantisipasi karakteristik gempa sesuai dengan kategori tanah, di mana tanah keras, sedang, dan lunak memiliki pengaruh yang berbeda terhadap amplifikasi gelombang gempa.

Perbandingan antara Pseudo Spectral Acceleration (PSA) yang tercatat pada stasiun akselerograf terdekat dengan spektrum respons desain bertujuan untuk memastikan bahwa desain struktur bangunan di area yang tercatat PSA-nya tidak hanya sesuai dengan nilai standar, tetapi juga mempertimbangkan faktor-faktor spesifik seperti jenis tanah dan karakteristik gempa yang dapat mempengaruhi keselamatan dan ketahanan bangunan. Dimana Perbandingan Respon Spektra dan SNI 2019 (2/3 SNI) di setiap staisun sebagai berikut :

Stasiun SAPSI (Sausu, Parigi Moutong):

Respon spektra ketiga komponen (HNN, HNE, dan HNZ) menunjukkan amplitudo relatif rendah pada periode 0,1 – 0,2 detik, namun tetap di bawah desain spektra SNI untuk semua kelas tanah (SC, SD, SE). Pola ini memiliki potensi sangat kecil terjadinya amplifikasi pada periode pendek hingga panjang dengan kondisi tanah keras hingga lunak (kelas situs SC-SE). Dengan demikian, risiko kerusakan terhadap bangunan baik yang berlantai rendah maupun tinggi sangat kecil kemungkinannya jika dilihat dari perbandingan grafik tersebut, terutama bangunan menengah hingga tinggi relatif lebih aman karena energi spektral menurun signifikan pada periode lebih panjang.

Stasiun PICM (Parigi Utara):

Respon spektra komponen horizontal (HNE dan HNN) menunjukkan amplitudo relatif tinggi pada periode 0,2 – 0,4 detik dan menurun secara signifikan pada periode panjang (>1 detik). Pada komponen vertikal (HNZ), amplitudo maksimum berada pada periode 0,1 – 0,2 detik dan memiliki amplitude lebih rendah dibandingkan komponen horizontal di semua periode. Secara keseluruhan, nilai spekra akselerasi pada semua komponen masih berada di bawah desain spektra SNI untuk semua kelas tanah (SC, SD, SE). Pola ini memiliki potensi sangat kecil terjadinya amplifikasi pada periode pendek dengan kondisi tanah keras hingga lunak (kelas situs SC-SE). Kondisi ini dapat pula mengindikasikan bahwa risiko terbesar berada pada bangunan dengan 1-2 lantai yang memiliki periode pendek (<0,2 detik). Bangunan dengan lantai yang lebih tinggi relatif lebih aman karena energi spektral menurun signifikan pada periode lebih panjang.

Stasiun SBSSI (Sigi Biromaru, Sigi):

Respon spektra komponen HNN menunjukkan amplitudo tertinggi pada periode 0,3 detik dibandingkan dengan komponen HNE dan HNZ yang memiliki amplitudo lebih rendah di periode pendek. Ketiga komponen tersebut mengalami perununan akselerasi yang sangat signifikan pada periode Panjang. Nilai spekra akselerasi pada komponen HNN telah melewati desain spektra SNI untuk kondisi tanah lunak (SE) dan masih berada di bawah kurva desain pada kelas situs SC-SC. Sementara itu, untuk komponen HNE dan HNZ masih berada di bawah desain spektra SNI untuk semua kelas tanah (SC, SD, SE). Pola ini memiliki potensi cukup tinggi terjadinya amplifikasi pada periode pendek dengan kondisi tanah keras hingga lunak (SC-SE). Kondisi ini dapat pula mengindikasikan bahwa bangunan rendah 1-2 lantai memiliki risiko tinggi terjadinya kerusakan terutama dengan kondisi tanah lunak karena kurva spectral akselerasi telah melampaui kurva desain. Untuk bangunan dengan lantai lebih tinggi relatif lebih aman karena energi spektral menurun signifikan pada periode lebih panjang.

Kesimpulan:

Respons spektra di wilayah Sigi menunjukkan nilai yang lebih tinggi dibandingkan desain spektra SNI pada seluruh kelas tanah SE dalam pada periode pendek. Hal ini mencerminkan tingkat amplifikasi tanah yang cukup tinggi sehingga berkorelasi dengan kerusakan bangunan rendah 1-2 lantai. Sementara itu, wilayah Parigi Maoutong dan Parigi Utara menunjukkan nilai spektral akselerasi lebih rendah daripada desainnya yang mengindikasikan bangunan di wilayah tersebut cenderung aman dari guncangan gempabumi.

Hubungi via WhatsApp