Kembali ke Analisis Spektral (SA)

Analisis Spektral Gempabumi Mindanao-Filipina 8 Juni 2026

Seismologi Teknik
Analisis Spektral Gempabumi Mindanao-Filipina 8 Juni 2026

Gempa bumi berkekuatan M7,7 terjadi di laut pada koordinat 5,79° LU – 125,14° BT, di Mindanao, Filipina dan 244 km barat laut Pulau Karatung dengan kedalaman 47 km. Gambar di atas menampilkan sinyal akselerograf dari dua stasiun terdekat: MISSI dan MGAI.

Pseudo Spectral Acceleration (PSA) menggambarkan akselerasi maksimum yang dialami suatu titik pada suatu struktur akibat gempa bumi, yang menjadi parameter penting dalam perancangan bangunan tahan gempa. Dalam konteks ini, spektrum respons desain SNI 1726:2019 dirancang untuk mengantisipasi karakteristik gempa sesuai dengan kategori tanah, di mana tanah keras, sedang, dan lunak memiliki pengaruh yang berbeda terhadap amplifikasi gelombang gempa.

Perbandingan antara Pseudo Spectral Acceleration (PSA) yang tercatat pada stasiun akselerograf terdekat dengan spektrum respons desain bertujuan untuk memastikan bahwa desain struktur bangunan di area yang tercatat PSA-nya tidak hanya sesuai dengan nilai standar, tetapi juga mempertimbangkan faktor-faktor spesifik seperti jenis tanah dan karakteristik gempa yang dapat mempengaruhi keselamatan dan ketahanan bangunan. Dimana Perbandingan Respon Spektra dan SNI 2019 (2/3 SNI) di setiap staisun sebagai berikut :

Stasiun MISSI (Miangas, KepulauanTalaud):
Respon spektra komponen HNE dan HNN menunjukkan amplitudo relatif tinggi pada periode 0,2-0,5 detik dibandingkan dengan komponen vertikalnya (HNZ), namun tetap di bawah desain spektra SNI untuk semua kelas tanah (C, D, E). Pola ini memiliki potensi sangat kecil terjadinya amplifikasi pada periode panjang dengan kondisi tanah sedang hingga keras (kelas situs C-D). Kondisi ini mengindikasikan bahwa risiko terbesar berada pada bangunan rendah seperti rumah 1-2 lantai yang memiliki periode rendah <0,2 detik. Bangunan menengah hingga tinggi relatif lebih aman karena energi spektral menurun signifikan pada periode lebih panjang.

Stasiun MGAI (Melonguane, Kepulauan Talaud):
Respon spektra ketiga komponen (HNN, HNE, dan HNZ) menunjukkan amplitudo relatif rendah pada periode pendek hingga panjang. Namun pada periode 1,5 – 2,0 detik, komponen HNE mengalami nilai spektra akselerasi yang lebih tinggi dan mengalami penurunan pada periode lebih panjang. Secara keseluruhan, nilai spekra akselerasi pada semua komponen masih berada di bawah desain spektra SNI untuk semua kelas tanah (C, D, E). Pola ini memiliki potensi sangat kecil terjadinya amplifikasi pada periode pendek dengan kondisi tanah sedang hingga keras (kelas situs C-D). Kondisi ini dapat pula mengindikasikan bahwa risiko terbesar berada pada bangunan tinggi yang memiliki periode panjang >1 detik. Bangunan rendah 1-2 lantai relatif lebih aman karena energi spektral menurun signifikan pada periode lebih pendek.

Kesimpulan:
Respons spektra di wilayah Mindanao-Filipina menunjukkan nilai yang lebih rendah dibandingkan desain spektra SNI pada seluruh kelas tanah dalam rentang periode pendek hingga panjang. Hal ini mencerminkan tingkat amplifikasi tanah yang relatif kecil, sehingga potensi kerusakan bangunan, baik bangunan bertingkat rendah maupun tinggi, akibat guncangan gempa diperkirakan relatif rendah.

Hubungi via WhatsApp