Kembali ke Analisis Spektral (SA)

Analisis Spektral Gempabumi Flores Timur 8 April 2026

Seismologi Teknik
Analisis Spektral Gempabumi Flores Timur 8 April 2026

Gempa bumi berkekuatan M4,7 terjadi di darat pada koordinat 8,36° LS – 123,15° BT, sekitar 21 km Tenggara Larantuka Nusa Tenggara Timur dengan kedalaman 5 km. Gambar di atas menampilkan sinyal akselerograf dari tiga stasiun terdekat: IBTI, LFTI, dan LRTI.

Peak Spectral Acceleration (PSA) menggambarkan akselerasi maksimum yang dialami suatu titik pada suatu struktur akibat gempa bumi, yang menjadi parameter penting dalam perancangan bangunan tahan gempa. Dalam konteks ini, spektrum respons desain SNI 1726:2019 dirancang untuk mengantisipasi karakteristik gempa sesuai dengan kategori tanah, di mana tanah keras, sedang, dan lunak memiliki pengaruh yang berbeda terhadap amplifikasi gelombang gempa.

Perbandingan antara Peak Spectral Acceleration (PSA) yang tercatat pada stasiun akselerograf terdekat dengan spektrum respons desain bertujuan untuk memastikan bahwa desain struktur bangunan di area yang tercatat PSA-nya tidak hanya sesuai dengan nilai standar, tetapi juga mempertimbangkan faktor-faktor spesifik seperti jenis tanah dan karakteristik gempa yang dapat mempengaruhi keselamatan dan ketahanan bangunan. Dimana Perbandingan Respon Spektra dan SNI 2019 (2/3 SNI) di setiap staisun sebagai berikut :

Stasiun IBTI (Flores Timur):
Respon spektra komponen HNN dan HNE menunjukkan amplitudo relatif tinggi pada periode sangat pendek (0-0,5 s) dibandingkan dengan komponen vertikalnya (HNZ), namun tetap di bawah desain spektra SNI untuk semua kelas tanah (C, D, E). Pola ini memiliki potensi sangat kecil terjadinya amplifikasi pada periode pendek hingga panjang pada kondisi tanah sedang hingga keras (kelas situs C-D). Kondisi ini mengindikasikan bahwa risiko terbesar berada pada bangunan rendah seperti rumah 1-2 lantai yang memiliki periode rendah di 0,1-0,3 detik. Bangunan menengah hingga tinggi relatif lebih aman karena energi spektral menurun signifikan pada periode lebih panjang.

Stasiun LFTI (Larantuka):
Respon spektra ketiga komponen (HNN, HNE, dan HNZ) menunjukkan amplitudo yang relatif sama pada periode sangat pendek (0-0,5 s) dengan nilai spectra acceleration yang rendah, sehingga masih berada di bawah desain spektra SNI untuk semua kelas tanah (C, D, E). Pola ini memiliki potensi sangat kecil terjadinya amplifikasi pada periode pendek hingga panjang pada kondisi tanah sedang hingga keras (kelas situs C-D). Kondisi ini mengindikasikan bahwa risiko terbesar berada pada bangunan rendah seperti rumah 1-2 lantai yang memiliki periode rendah di 0,1-0,3 detik. Bangunan menengah hingga tinggi relatif lebih aman karena energi spektral menurun signifikan pada periode lebih panjang.

Stasiun LRTI (Larantuka):
Respon spektra ketiga komponen (HNN, HNE, dan HNZ) menunjukkan amplitudo yang relatif sama pada periode sangat pendek (0-0,5 s) dengan nilai spectra acceleration yang rendah, sehingga masih berada di bawah desain spektra SNI untuk semua kelas tanah (C, D, E). Pola ini memiliki potensi sangat kecil terjadinya amplifikasi pada periode pendek hingga panjang pada kondisi tanah sedang hingga keras (kelas situs C-D). Kondisi ini mengindikasikan bahwa risiko terbesar berada pada bangunan rendah seperti rumah 1-2 lantai yang memiliki periode rendah di 0,1-0,3 detik. Bangunan menengah hingga tinggi relatif lebih aman karena energi spektral menurun signifikan pada periode lebih panjang.

Kesimpulan:
Respons spektra di wilayah Larantuka, Flores Timur menunjukkan nilai yang lebih rendah dibandingkan desain spektra SNI pada seluruh kelas tanah dalam rentang periode pendek hingga panjang. Hal ini mencerminkan tingkat amplifikasi tanah yang relatif kecil, sehingga potensi kerusakan bangunan, baik bangunan bertingkat rendah maupun tinggi, akibat guncangan gempa diperkirakan relatif rendah.

Hubungi via WhatsApp