
Analisis Spektral Gempabumi Nias 19 April 2026
Gempa bumi berkekuatan M5,6 terjadi di laut pada koordinat 1,11° LU – 97,02° BT, sekitar 50 km Barat Laut Nias Barat Sumatera Utara dengan kedalaman 17 km.
Kembali ke Analisis Spektral (SA)

Gempa bumi berkekuatan M7,6 terjadi di darat pada koordinat 1,25° LU – 126,27° BT, sekitar 129 km Tenggara Bitung, Sulawesi Utara dengan kedalaman 62 km. Gambar di atas menampilkan sinyal akselerograf dari tiga stasiun terdekat: BDMUI, SAMI, dan TNTI.
Peak Spectral Acceleration (PSA) menggambarkan akselerasi maksimum yang dialami suatu titik pada suatu struktur akibat gempa bumi, yang menjadi parameter penting dalam perancangan bangunan tahan gempa. Dalam konteks ini, spektrum respons desain SNI 1726:2019 dirancang untuk mengantisipasi karakteristik gempa sesuai dengan kategori tanah, di mana tanah keras, sedang, dan lunak memiliki pengaruh yang berbeda terhadap amplifikasi gelombang gempa.
Perbandingan antara Peak Spectral Acceleration (PSA) yang tercatat pada stasiun akselerograf terdekat dengan spektrum respons desain bertujuan untuk memastikan bahwa desain struktur bangunan di area yang tercatat PSA-nya tidak hanya sesuai dengan nilai standar, tetapi juga mempertimbangkan faktor-faktor spesifik seperti jenis tanah dan karakteristik gempa yang dapat mempengaruhi keselamatan dan ketahanan bangunan. Dimana Perbandingan Respon Spektra dan SNI 2019 (2/3 SNI) di setiap staisun sebagai berikut :
Stasiun BDMUI (Pulau Batang Dua):
Respon spektra ketiga komponen menunjukkan amplitudo relatif tinggi pada periode sangat pendek (0-0,5 s) yang melampaui desain spektra SNI untuk kelas tanah E. Sedangkan untuk komponen HNE, terlihat bahwa respon spektra telah melewati desainnya untuk seluruh kelas situs. Pada periode yang lebih panjang, respons spektra rekaman BDMUI menurun secara bertahap sehingga berada di bawah kurva desain untuk seluruh kelas situs. Pola ini menunjukkan adanya amplifikasi tinggi pada periode pendek dengan kondisi tanah lunak hingga keras (kelas situs C-E).

Stasiun SAMI (Manado):
Respon spektra komponen HNN dan HNE menunjukkan amplitudo relatif tinggi pada periode sangat pendek (0-0,5 s) dibandingkan dengan komponen vertikalnya (HNZ), namun tetap di bawah desain spektra SNI untuk semua kelas tanah (C, D, E). Pola ini memiliki potensi sangat kecil terjadinya amplifikasi pada periode pendek hingga panjang pada kondisi tanah sedang hingga keras (kelas situs C-D).

Stasiun TNTI (Ternate):
Respon spektra ketiga komponen menunjukkan amplitudo relatif rendah pada periode pendek (0-1 s), namun tetap di bawah desain spektra SNI untuk semua kelas tanah (C, D, E). Pola ini memiliki potensi sangat kecil terjadinya amplifikasi pada periode pendek hingga panjang pada kondisi tanah sedang hingga keras (kelas situs C-D).

Kesimpulan:
Kondisi tanah di wilayah di Pulau Batang Dua, Ternate (BDMUI) menunjukkan respon spektra melampaui desain spektra SNI untuk seluruh kelas tanah pada periode pendek, dan pada periode panjang menunjukkan respon spektra yang berada di dibawah desain spektra SNI menandakan amplifikasi getaran relatif rendah. Sedangkan untuk Kota Ternate (TNTI) dan Manado (SAMI) menunjukkan respon spektra di bawah desain spektra SNI untuk seluruh kelas tanah pada periode pendek hingga Panjang. Hal ini mengindikasikan bahwa sedimen di Pulau Batang Dua lebih tebal daripada wilayah lainnya, sehingga risiko peningkatan getaran dan potensi kerusakan akibat amplifikasi tergolong tinggi.

Gempa bumi berkekuatan M5,6 terjadi di laut pada koordinat 1,11° LU – 97,02° BT, sekitar 50 km Barat Laut Nias Barat Sumatera Utara dengan kedalaman 17 km.

Gempa bumi berkekuatan M4,7 terjadi di darat pada koordinat 8,36° LS – 123,15° BT, sekitar 21 km Tenggara Larantuka Nusa Tenggara Timur dengan kedalaman 5 km.

Gempa bumi berkekuatan M7,6 terjadi di darat pada koordinat 1,25° LU – 126,27° BT, sekitar 129 km Tenggara Bitung, Sulawesi Utara dengan kedalaman 62 km.