Kemarau Datang Bertahap, Potensi Cuaca Ekstrem Belum Sepenuhnya Menurun
Wilayah Indonesia saat ini mengalami hari tanpa hujan (HTH) dengan kategori bervariasi, dari sangat pendek hingga sangat panjang. Sebagian wilayah Indonesia (47,96%) berada dalam HTH kategori sangat pendek (1 – 5 hari). Meskipun demikian, sebanyak 20 lokasi (0,44%) masuk dalam kategori HTH panjang (21 – 30 hari) dan 1 lokasi (0,02%) masuk dalam kategori HTH sangat panjang (31 hari), yaitu di Kab. Banyumas, Jawa Tengah. Analisis perkembangan musim kemarau menunjukkan bahwa sebanyak 28,6% wilayah zona musim di Indonesia sudah memasuki musim kemarau, yang didominasi oleh wilayah di selatan Indonesia. Hal ini dikarenakan aktifnya Monsun Australia yang berperan dalam membawa massa udara kering di sebagian wilayah Indonesia. Kondisi ini berdampak pada berkurangnya pembentukan awan, terutama pada pagi hingga siang hari, sehingga penyinaran matahari ke permukaan menjadi lebih optimal. Pada periode 1 – 3 Juni 2026, suhu maksimum lebih dari 35,0 °C tercatat di wilayah Sumatra Utara, Riau, Lampung, Banten, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Papua Barat, dan Papua Selatan.
Meskipun beberapa wilayah sudah memasuki musim kemarau, hujan dengan intensitas ringan hingga sangat lebat masih teramati di sejumlah daerah, khususnya di wilayah Indonesia bagian utara. Curah hujan tertinggi tercatat di Sumatra Utara (73,3 mm/hari), Papua Tengah (72,8 mm/hari), Kalimantan Tengah (61,6 mm/hari), Bangka Belitung (60,0 mm/hari), Kalimantan Utara (57,4 mm/hari), dan Papua Barat (57,1 mm/hari). Hujan signifikan di wilayah-wilayah tersebut dipengaruhi oleh dinamika atmosfer yang mendukung peningkatan pertumbuhan awan hujan di sebagian wilayah Indonesia. Secara spasial, aktivitas Gelombang Rossby Ekuatorial dan Gelombang Kelvin terpantau aktif di sebagian wilayah Pulau Sumatra, Pulau Jawa, serta Pulau Kalimantan bagian barat dan selatan. Pada periode yang sama, anomali OLR bernilai negatif di bagian barat Indonesia yang mengindikasikan potensi tutupan awan konvektif signifikan. Selain itu, keberadaan sirkulasi siklonik di Teluk Cendrawasih dan utara Papua turut mempengaruhi pola aliran massa udara di sekitarnya dan berkontribusi terhadap peningkatan potensi pertumbuhan awan hujan di wilayah sekitarnya.
Dinamika Atmosfer Sepekan ke Depan
Analisis indikator iklim global terkini menunjukkan El Niño Condition di Samudra Pasifik. Hal ini terlihat dari indeks Niño 3.4 sebesar +0,69 dan nilai SOI sebesar -16,0. Kondisi ini umumnya berdampak pada pengurangan potensi curah hujan di sebagian wilayah Indonesia. Meskipun demikian, dinamika atmosfer skala regional masih berpotensi mendukung pertumbuhan awan hujan di beberapa wilayah.
Dalam sepekan ke depan, aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) diprediksi berada pada fase 7 (Western Pacific) hingga fase 8 (Western Hemisphere and Africa), sehingga kurang berpengaruh terhadap wilayah Indonesia. Meskipun demikian, filter spasial pengaruh konvektif MJO masih diprediksi aktif di Pulau Papua bagian tengah hingga timur. Gelombang Kelvin diprediksi aktif di sebagian besar wilayah Indonesia, bergerak dari Indonesia bagian barat menuju ke timur. Sementara itu, Gelombang Rossby Ekuatorial yang bergerak ke arah barat diprediksi aktif di wilayah Sumatra bagian utara. Sirkulasi siklonik juga berpotensi terbentuk di Samudra Pasifik utara Papua dan membentuk daerah konvergensi dan konfluensi memanjang dari Papua Pegunungan hingga Papua Tengah, Samudra Pasifik utara Papua Barat Daya, Samudra Pasifik utara Papua, dan sekitar sistem tersebut.
Tidak hanya fenomena regional, labilitas atmosfer yang kuat juga berpotensi mendukung proses konvektif pada skala lokal, yang terdapat di Aceh, Kep. Bangka Belitung, Sulawesi Utara, Maluku Utara, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan. Aktivitas MJO, gelombang atmosfer, sirkulasi siklonik, dan labilitas atmosfer yang kuat tersebut perlu diwaspadai karena dapat meningkatkan potensi hujan di sebagian wilayah Indonesia.
Potensi Hujan Sepekan ke Depan
Periode 5 – 7 Juni 2026
Cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi hujan ringan hingga hujan lebat. Perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang yang terjadi di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Kep. Riau, Kep. Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua.
Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang dapat terjadi, dengan kategori tingkat peringatan dini dan wilayah potensi kejadian sebagai berikut:
- Siaga (hujan lebat – sangat lebat): Maluku, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan.
- Angin Kencang: Aceh, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku, Papua Barat Daya, dan Papua Tengah.
Periode 8 – 11 Juni 2026
Cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi hujan ringan hingga hujan lebat. Perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang yang terjadi di Sumatra Barat, Riau, Kep. Riau, Kep. Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Barat, Gorontalo, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua.
Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang, dapat terjadi dengan kategori tingkat peringatan dini dan wilayah potensi kejadian sebagai berikut:
- Siaga (hujan lebat – sangat lebat): Papua Pegunungan.
- Angin Kencang: Aceh, Kep. Bangka Belitung, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DI Yogyakarta, Kalimantan Barat, Kalimantan tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, Maluku, Papua Barat, Papua Barat Daya, dan Papua Selatan.
Imbauan
Menghadapi potensi cuaca signifikan yang masih berpeluang terjadi dalam beberapa hari kedepan, BMKG mengimbau masyarakat dan para pemangku kepentingan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana hidrometeorologi. Pengendara kendaraan bermotor juga perlu waspada terhadap potensi hujan lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang, yang berpotensi mengganggu kelancaran perjalanan. Selain itu, masyarakat diimbau mewaspadai potensi pohon atau dahan tumbang, baliho roboh, genangan, dan sambaran petir dengan menghindari berteduh di bawah pohon, papan reklame, atau bangunan rapuh, serta membatasi aktivitas di ruang terbuka saat hujan disertai angin kencang dan petir.
Untuk masyarakat pada wilayah yang sudah memasuki musim kemarau atau berada pada periode peralihan, BMKG menghimbau untuk menggunakan pelindung atau tabir surya guna menghindari paparan langsung sinar matahari, serta menjaga kecukupan cairan tubuh, terutama bagi yang beraktivitas di luar ruangan pada siang hari, agar terhindar dari dehidrasi, kelelahan, dan dampak buruk lainnya. Selain itu, perlu dipahami bahwa musim kemarau dan periode peralihan bukan berarti tidak ada hujan. Hujan masih berpotensi terjadi, khususnya saat kondisi atmosfer masih cukup lembab. Oleh karena itu, masyarakat tetap perlu waspada akan cuaca yang dapat berubah sewaktu-waktu.
Kondisi cuaca yang dinamis tersebut perlu menjadi perhatian dalam perencanaan berbagai aktivitas, terutama perjalanan darat, laut, dan udara, serta kegiatan luar ruang seperti olahraga dan wisata. Oleh karena itu, BMKG mengingatkan masyarakat untuk secara berkala memantau informasi prakiraan cuaca, peringatan dini, dan peringatan cuaca ekstrem resmi melalui berbagai kanal informasi BMKG, antara lain laman http://www.bmkg.go.id, aplikasi InfoBMKG, serta media sosial @infobmkg, serta melakukan langkah-langkah antisipatif di lingkungan sekitar guna meminimalkan potensi dampak cuaca ekstrem.
Informasi ini akan terus diperbarui secara berkala mengikuti perkembangan cuaca terbaru, sehingga masyarakat dapat terus beraktivitas dengan lebih aman dan percaya diri.
Catatan: Informasi ini telah melalui proses penyuntingan dan pembaruan tanggal 4 Juni 2026, 19.00 WIB.
Jakarta, 4 Juni 2026
Direktorat Meteorologi Publik BMKG
– Klik tautan ini jika PDF di atas tidak muncul.