Aktivitas Bibit Siklon Tropis 99W dan Gelombang Atmosfer di Awal Musim Kemarau Memicu Potensi Cuaca Signifikan pada Sebagian Wilayah
Analisis iklim terkini menunjukkan sebagian wilayah Indonesia telah mengalami musim kemarau dan sebagian yang lain berada pada periode peralihan. Kondisi tersebut diindikasikan dengan tutupan awan yang minim sejak pagi hingga tengah hari yang memicu pemanasan permukaan bumi secara intens. Hal ini berimplikasi pada peningkatan suhu udara maksimum yang melampaui 35,0°C di wilayah Aceh, Riau, Bali, sebagian besar pulau Kalimantan, Sulawesi Tengah, Papua Barat, hingga Jawa Timur pada periode 21 – 24 Mei 2026. Pada wilayah yang masih berada pada periode peralihan, akumulasi panas dari pagi hingga siang hari ini menyebabkan proses konveksi yang memicu ketidakstabilan atmosfer sehingga terbentuk awan hujan pada sore dan malam hari.
Ketidakstabilan atmosfer tersebut dapat divalidasi oleh tingginya intensitas curah hujan, mulai dari kategori lebat hingga sangat lebat, yang tercatat di sebagian wilayah Indonesia, seperti di Kalimantan Barat (129,5 mm/hari), DKI Jakarta (102,4 mm/hari), Bengkulu (96,4 mm/hari), Maluku (88,4 mm/hari), Jawa Barat (86,9 mm/hari), Kep. Bangka Belitung (77,7 mm/hari), Kalimantan Tengah (73,3 mm/hari), Sumatra Utara (70,2 mm/hari), Kalimantan Timur (68,8 mm/hari), Papua Tengah (67,2 mm/hari), Sulawesi Utara (64,5 mm/hari), Jambi (61,8 mm/hari), Banten (58,6 mm/hari), Sulawesi Selatan (55,6 mm/hari), Lampung (55,4 mm/hari), Sulawesi Tenggara (55,2 mm/hari), Kalimantan Utara (52,2 mm/hari), dan Jawa Tengah (50,0 mm/hari).
Selain akibat ketidakstabilan atmosfer lokal, peningkatan curah hujan pada periode ini juga dipengaruhi oleh interaksi sejumlah fenomena atmosfer. Madden-Julian Oscillation (MJO) saat ini berada pada fase 5 (Maritime Continent). Selain itu Gelombang Rossby Ekuatorial dan Gelombang Kelvin juga berkontribusi dalam mendukung pertumbuhan awan hujan di sejumlah wilayah Indonesia.Tidak hanya itu, pembentukan sirkulasi siklonik di sejumlah wilayah Indonesia turut memicu pembentukan daerah perlambatan kecepatan angin (konvergen). Kondisi atmosfer tersebut semakin mendukung pembentukan awan, sehingga meningkatkan peluang terjadinya hujan di beberapa wilayah.
Dinamika Atmosfer Sepekan ke Depan
Analisis indikator iklim global terkini menunjukkan indikasi El Niño Condition di Samudra Pasifik, yang terkonfirmasi melalui indeks Niño 3.4 sebesar +0,68 dan nilai SOI sebesar -12,5. Meskipun demikian, dinamika atmosfer skala regional masih berpotensi memicu pertumbuhan awan hujan, khususnya di wilayah Indonesia bagian Utara.
Bibit siklon 99W diprakirakan berada di Samudra Pasifik utara Papua Nugini. Sistem ini membentuk daerah konvergensi dan konfluensi dari Papua Barat hingga Teluk Cendrawasih, di Pesisir barat Papua Barat Daya, dan di sekitar sistem tersebut. Selain itu, sirkulasi siklonik diprediksi terbentuk di Perairan barat Sumatra Barat, Samudra Hindia barat daya Banten, dan Laut Sulu. Sistem-sistem tersebut membentuk daerah konvergensi dan konfluensi di Perairan barat Bengkulu, Perairan barat Sumatra Utara, serta di sekitar sirkulasi siklonik tersebut.
Lebih jauh lagi, aktivitas MJO yang diproyeksikan menuju fase 6 (Western Pacific) diprediksi masih aktif secara spasial di wilayah Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, serta wilayah utara Papua Barat dan Papua Barat Daya. Gelombang Kelvin yang bergerak ke arah timur juga diprediksi aktif melintasi wilayah Aceh, Kalimantan Barat bagian utara, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Gorontalo, dan Sulawesi Tengah. Sementara itu, Gelombang Rossby Ekuatorial yang berpropagasi ke arah barat diprakirakan aktif di Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Gorontalo, dan Sulawesi Tengah. Aktivitas Gelombang Mixed Rossby-Gravity (MRG) juga diperkirakan aktif di wilayah Aceh bagian utara. Aktivitas MJO dan gelombang-gelombang atmosfer tersebut dapat membantu meningkatkan suplai uap air dan mendukung proses pembentukan awan hujan di wilayah yang dilaluinya.
Potensi Hujan Sepekan ke Depan
Periode 26 – 28 Mei 2026
Cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi hujan ringan hingga hujan lebat. Perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang yang terjadi di Aceh, Sumatra Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kepulauan BangKa Belitung, Bengkulu, Lampung, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua, dan Papua Selatan.
Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang dapat terjadi, dengan kategori tingkat peringatan dini dan wilayah potensi kejadian sebagai berikut:
- Siaga (hujan lebat – sangat lebat): Kalimantan Utara, Maluku Utara, dan Papua Pegunungan.
- Angin Kencang: Aceh, Jawa Timur, Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Selatan.
Periode 29 Mei – 1 Juni 2026
Cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi hujan ringan hingga hujan lebat. Perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang yang terjadi di Aceh, Riau, Kepulauan Riau, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Tengah, Papua, dan Papua Selatan.
Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang, dapat terjadi dengan kategori tingkat peringatan dini dan wilayah potensi kejadian sebagai berikut:
- Siaga (hujan lebat – sangat lebat): Papua Pegunungan.
- Angin Kencang: Aceh, Sumatra Utara, Riau, Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Gorontalo, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, dan Papua Selatan.
Imbauan
Menghadapi kondisi cuaca cerah disertai potensi cuaca ekstrem dalam beberapa waktu ke depan, BMKG mengimbau masyarakat untuk menggunakan pelindung atau tabir surya guna menghindari paparan langsung sinar matahari, serta menjaga kecukupan cairan tubuh, terutama bagi yang beraktivitas di luar ruangan pada siang hari, agar terhindar dari dehidrasi, kelelahan, dan dampak buruk lainnya.
Selain itu, dengan mempertimbangkan dinamika atmosfer yang masih signifikan dalam beberapa hari ke depan, BMKG mengimbau masyarakat dan para pemangku kepentingan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana hidrometeorologi. Pengendara kendaraan bermotor juga perlu waspada terhadap potensi hujan lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang, yang berpotensi mengganggu kelancaran perjalanan. Selain itu, masyarakat diimbau mewaspadai potensi pohon atau dahan tumbang, baliho roboh, genangan, dan sambaran petir dengan menghindari berteduh di bawah pohon, papan reklame, atau bangunan rapuh, serta membatasi aktivitas di ruang terbuka saat hujan disertai angin kencang dan petir.
Kondisi cuaca yang dapat berubah sewaktu-waktu ini perlu menjadi perhatian dalam perencanaan berbagai aktivitas, terutama perjalanan darat, laut, dan udara, serta kegiatan luar ruang seperti olahraga dan wisata. Oleh karena itu, BMKG mengingatkan masyarakat untuk secara berkala memantau informasi prakiraan cuaca, peringatan dini, dan peringatan cuaca ekstrem resmi melalui berbagai kanal informasi BMKG, antara lain laman http://www.bmkg.go.id, aplikasi InfoBMKG, serta media sosial @infobmkg, serta melakukan langkah-langkah antisipatif di lingkungan sekitar guna meminimalkan potensi dampak cuaca ekstrem.
Informasi ini akan terus diperbarui secara berkala mengikuti perkembangan cuaca terbaru, sehingga masyarakat dapat terus beraktivitas dengan lebih aman dan percaya diri.
Catatan: Informasi ini telah melalui proses penyuntingan dan pembaruan tanggal 25 Mei 2026, 20.00 WIB.
Jakarta, 25 Mei 2026
Direktorat Meteorologi Publik BMKG
– Klik tautan ini jika PDF di atas tidak muncul.