
Kembali ke Berita Utama
Kunjungi Stasiun Meteorologi Citeko, Kepala BMKG Paparkan Peran Strategis Pengamatan Iklim dan Kualitas Udara
03 January 2026
Linda
Berita Utama

Bogor, 2 Januari 2026 – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan pentingnya penguatan pengamatan iklim serta kualitas udara di wilayah pegunungan sebagai bagian dari upaya memahami perubahan iklim dan mendukung pembangunan nasional. Penegasan tersebut disampaikan Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, dalam kegiatan kunjungan dan audiensi di Stasiun Meteorologi Kelas III Citeko, Bogor, Jumat (02/01/2026).
Dalam arahannya, Faisal menekankan bahwa Stasiun Meteorologi Citeko memiliki peran strategis karena berada di wilayah ketinggian yang relatif minim gangguan aktivitas perkotaan. Menurutnya, lokasi seperti Citeko sangat terbatas jumlahnya di Indonesia.
“Pengamatan kualitas udara dan Gas Rumah Kaca (GRK) di lokasi pegunungan seperti Citeko ini tidak banyak di Indonesia. Selain Citeko, kita punya Kototabang sebagai stasiun Global Atmosphere Watch (GAW). Sementara sebagian besar stasiun pengamatan kita berada di dataran rendah atau di bandara,” ujar Faisal.
Ia menjelaskan bahwa kualitas udara, yang mencakup pencemaran udara dan Gas Rumah Kaca, memiliki keterkaitan erat dengan sistem iklim secara luas. Data yang dikumpulkan dari pengamatan tersebut menjadi fondasi penting dalam analisis iklim jangka panjang.
Dalam kesempatan itu, Faisal juga menjelaskan perbedaan mendasar antara cuaca dan iklim dengan analogi yang mudah dipahami. Menurutnya, cuaca bersifat dinamis dan berubah-ubah, sementara iklim merupakan sifat dasar atmosfer yang terbentuk dari proses panjang.
“Untuk mempelajari ‘perasaan’ atau cuaca, kita harus memahami ‘sifatnya’ terlebih dahulu, yaitu iklim. Inilah tugas Kedeputian Klimatologi, mempelajari sifat atmosfer secara luas agar data tersebut dapat digunakan sebagai dasar prakiraan meteorologi,” jelasnya.
Lebih lanjut, Faisal menegaskan bahwa tugas BMKG tidak hanya terbatas pada penyampaian informasi cuaca dan peringatan dini. Peran yang lebih besar adalah mendukung pembangunan lintas sektor, mulai dari swasembada pangan, air, energi, pariwisata, hingga pembangunan infrastruktur nasional.
“Ini tugas-tugas BMKG yang sering luput dari perhatian. Ketika dipahami, barulah terlihat bahwa data seperti kelembapan tanah pun sangat penting. Bahkan dulu Kementerian Pertanian sempat terkejut mengetahui BMKG memantau hal tersebut,” ujarnya.
Terkait penguatan kelembagaan, Faisal juga menyoroti pentingnya penataan organisasi teknisi infrastruktur agar lebih efektif dan efisien. Dengan jumlah teknisi yang besar, ia berharap pengelolaan SDM ke depan dapat mendukung pemeliharaan peralatan secara optimal di seluruh unit pelaksana teknis.
Faisal juga mengajak seluruh pegawai BMKG, tanpa memandang latar belakang, untuk terus belajar dan meningkatkan kapasitas diri.
“Belajar itu sepanjang hayat. Jadikan semua tempat sebagai sekolah dan semua orang sebagai guru. Observasi, pemantauan, analisis, hingga diseminasi informasi harus kita lakukan sebaik-baiknya untuk masyarakat,” tegasnya.
Sementara itu, Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan bahwa pengamatan atmosfer di wilayah ketinggian seperti Citeko menjadi prioritas karena merepresentasikan kondisi atmosfer latar (background atmosphere) yang minim gangguan polusi lokal. Data ini sangat penting untuk memantau perubahan iklim global.
Menurutnya, pengamatan GRK di Citeko telah dimulai sejak kerja sama dengan National Institute for Environmental Studies (NIES) Jepang pada 2016. Meski kerja sama tersebut berakhir pada 2022, peralatan yang dihibahkan masih beroperasi hingga kini untuk memantau CO₂, CH₄, PM2.5, dan parameter kualitas udara lainnya.
“Metana menjadi perhatian khusus karena potensi pemanasan globalnya jauh lebih besar dibanding CO₂, meskipun masa hidupnya di atmosfer lebih singkat,” jelas Ardhasena.
Ia menambahkan, data dari Citeko menunjukkan tren kenaikan konsentrasi GRK yang sejalan dengan tren global. Selain itu, pola polusi PM2.5 di wilayah pegunungan memiliki karakteristik berbeda dibandingkan daerah perkotaan, karena dipengaruhi faktor transportasi polutan lintas wilayah dan kondisi meteorologis lokal.
Dalam laporannya, Kepala Stasiun Meteorologi Citeko, Fathuri Syabani, menjelaskan bahwa Stasiun Citeko berdiri sejak 1983 dan merupakan salah satu stasiun sinoptik yang masih beroperasi di wilayah Jabodetabek, khususnya Bogor–Puncak. Stasiun ini berada di ketinggian 910 meter di atas permukaan laut dan terletak di hulu Sungai Ciliwung.
“Data curah hujan Citeko sering dimanfaatkan sebagai peringatan dini untuk memantau kenaikan muka air di Bendung Katulampa. Biasanya, hujan lebat di Citeko akan berdampak pada kenaikan muka air di Katulampa sekitar dua jam kemudian,” jelas Fathuri.
Ia juga menjelaskan peran Citeko dalam mendukung keselamatan masyarakat, termasuk peringatan dini banjir, keselamatan pendakian di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, serta edukasi kebencanaan dan lingkungan bagi pelajar.
Kepala Balai Besar MKG Wilayah II, Hartanto, menambahkan bahwa Stasiun Meteorologi Citeko memiliki peran vital dalam sistem peringatan dini banjir Jakarta. Ia menegaskan pentingnya pemeliharaan dan modernisasi peralatan, meskipun data manual tetap diperlukan sebagai pembanding data historis jangka panjang.
Melalui penguatan pengamatan atmosfer, kualitas udara, dan iklim di wilayah strategis seperti Citeko, BMKG terus berkomitmen menyediakan data dan informasi yang andal sebagai dasar mitigasi bencana, perlindungan lingkungan, serta perencanaan pembangunan nasional yang berkelanjutan.











