
Kembali ke Berita Utama
Kunjungi Pusat Operasional InaTEWS BMKG, World Bank Tinjau Capaian Penguatan Peringatan Dini Multi-bahaya di Indonesia
11 February 2026
Linda
Berita Utama

Jakarta, 11 Februari 2026 – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menerima kunjungan delegasi World Bank di Kantor Pusat BMKG, Jakarta, Rabu (11/2/2026). Kunjungan ini menjadi momentum penting untuk meninjau capaian penguatan sistem peringatan dini multi-bahaya di Indonesia melalui dukungan Indonesia Disaster Resilience Initiatives Project (IDRIP).
Delegasi World Bank dipimpin oleh Director Strategy and Operations untuk kawasan Asia Timur dan Pasifik, Ms. Elisabeth Huybens, serta Country Director untuk Indonesia dan Timor Leste, Ms. Carolyn Turk, beserta jajaran. Kehadiran mereka disambut langsung oleh Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani dan jajaran Pimpinan Tinggi Madya di lingkungan BMKG.
Dalam sambutannya, Faisal menyampaikan apresiasi atas kemitraan strategis yang telah terjalin dalam penguatan sistem peringatan dini nasional.
“Kunjungan ini mencerminkan kemitraan yang kuat antara BMKG dan World Bank, khususnya melalui Indonesia Disaster Resilience Initiatives Project (IDRIP),” ujar Faisal.
Ia menjelaskan bahwa IDRIP yang diinisiasi pada 2019, diimplementasikan sejak 2020, dan resmi berakhir pada 31 Oktober 2025, telah membawa kemajuan signifikan bagi BMKG. Melalui program tersebut, BMKG memodernisasi sistem monitoring seismik dan tsunami, meningkatkan kapasitas pengolahan data, memperkuat sistem diseminasi informasi, serta membangun kapasitas kelembagaan dalam layanan peringatan dini bagi pemangku kepentingan nasional maupun daerah.
“Komitmen kita bersama sangat jelas, yakni melindungi keselamatan jiwa dan infrastruktur vital melalui pengurangan risiko bencana berbasis sains, teknologi, dan keberlanjutan,” tegasnya.
Lebih lanjut, Faisal menjelaskan bahwa BMKG kini juga mulai memperkenalkan sistem pemrosesan berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang dikembangkan selama program berlangsung.
“Harapannya, mulai tahun depan, sistem mandiri ini dapat digunakan secara nasional. Komitmen kami tetap sama yakni menyelamatkan nyawa dan melindungi infrastruktur kritis,” tambah Faisal.
Pada kesempatan yang sama, Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, memaparkan perkembangan pembangunan gedung baru InaTEWS Operation Center yang didukung melalui skema pendanaan IDRIP. Fasilitas ini menjadi pusat pengolahan dan diseminasi informasi gempa bumi dan tsunami yang terintegrasi, sekaligus memperkuat kapasitas operasional BMKG dalam memberikan peringatan dini yang cepat, akurat, dan andal.
Dalam sesi demonstrasi di ruang operasional, BMKG memaparkan alur penyampaian informasi gempa dan tsunami, mulai dari rilis parameter gempa dalam 30–60 detik, peringatan dini tsunami kurang dari tiga menit, hingga pembaruan berkala berdasarkan hasil pemantauan lapangan. Simulasi skenario gempa besar di Selat Sunda turut ditampilkan untuk menggambarkan kesiapsiagaan sistem.
Selain memperkuat sistem nasional, BMKG juga menjalankan peran sebagai Tsunami Service Provider (TSP) untuk kawasan Samudra Hindia bersama Australia dan India. BMKG juga menyediakan informasi peringatan dini tsunami bagi 28 negara sebagai bagian dari kerja sama regional.
“Kami memantau seluruh area yang terdampak. Ketika area terakhir yang diperkirakan terdampak sudah aman, barulah kami mengumumkan bahwa ancaman tsunami telah berakhir,” jelas Nelly.
Dalam diskusi, Elisabeth Huybens menyoroti pentingnya penguatan diseminasi informasi, terutama mengingat luas wilayah dan besarnya populasi Indonesia. Pembahasan juga mencakup penguatan kerja sama regional serta optimalisasi kanal komunikasi, termasuk pemanfaatan aplikasi digital dan pengembangan sistem notifikasi publik yang lebih luas.
Sementara itu, Carolyn Turk menyampaikan apresiasi atas kemajuan signifikan yang dicapai BMKG.
“Kemajuan yang dicapai BMKG saat ini luar biasa. Peran Indonesia dalam sistem peringatan dini tsunami Samudra Hindia sangat mengesankan, termasuk respons terhadap peringatan dini tsunami dari Filipina baru-baru ini,” ujarnya.
Faisal menegaskan bahwa dalam sistem peringatan dini, BMKG berperan di sisi hulu (upstream), yaitu penyedia data dan informasi. Adapun di sisi hilir (downstream), BMKG bekerja sama dengan BNPB dan pemerintah daerah yang menyiapkan peta evakuasi serta tempat perlindungan (shelter).
“Dengan populasi Indonesia yang sangat besar, kami mendorong pemanfaatan aplikasi InfoBMKG yang ringan, mudah diakses, dan dapat menjangkau masyarakat secara luas,” pungkas Faisal.
Melalui kunjungan ini, kolaborasi antara Pemerintah Indonesia dan World Bank diharapkan semakin kuat dalam memperkuat ketahanan bencana nasional serta membangun sistem peringatan dini multi-bahaya yang andal, modern, dan berkelanjutan demi keselamatan masyarakat.







