Karanganyar, 8 September 2026 – Dalam upaya memperkuat kesiapsiagaan masyarakat dan pemerintah daerah terhadap potensi bencana alam, tim Stasiun Geofisika Kelas I Sleman mengadakan audiens dan rapat koordinasi bersama Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Karanganyar beserta jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait di Kantor Pemerintah Kabupaten Karanganyar, Selasa (8/9).
Audiensi tersebut digelar untuk menyampaikan gambaran dinamika cuaca dan iklim terkini, memaparkan pemetaan potensi risiko kegempaan di wilayah Karanganyar, serta mematangkan rencana pelaksanaan Sekolah Lapang Gempa bumi (SLG) di Kecamatan Jatiyoso.
Kondisi Iklim dan Potensi Bencana Kebencanaan Karanganyar
Dalam pemaparannya, BMKG menyampaikan update analisis dinamika atmosfer dan kondisi cuaca terkini. Wilayah Pulau Jawa, termasuk Karanganyar, saat ini mengalami periode Hari Tanpa Hujan (HTH) dengan klasifikasi Sangat Panjang hingga Ekstrem. BMKG mengimbau pemerintah daerah dan sektor pertanian untuk meningkatkan kewaspadaan serta melakukan langkah adaptasi guna meminimalkan risiko kekeringan dan dampaknya.
Selain isu cuaca dan iklim, BMKG juga memberikan pemaparan komprehensif mengenai potensi kebencanaan geofisika di Kabupaten Karanganyar. Secara geografis dan geologis, Karanganyar dipengaruhi oleh aktivitas beberapa sesar aktif di sekitarnya, seperti Sesar Opak, Sesar Merapi-Merbabu, Sesar Sendangdelik, Sesar Dengkeng/Mataram, serta potensi gempa megathrust di selatan Jawa.
Berdasarkan catatan seismik, guncangan gempa bumi dangkal dari patahan aktif maupun zonasi megathrust berpotensi menimbulkan dampak guncangan tingkat sedang hingga kuat di wilayah Karanganyar. Kondisi topografi di wilayah timur Karanganyar yang didominasi kawasan lereng Gunung Lawu seperti Kecamatan Jatiyoso, Tawangmangu, Ngargoyoso, dan Jenawi juga meningkatkan kerentanan terhadap ancaman bahaya ikutan (collateral hazard) berupa tanah longsor apabila terjadi guncangan gempa bumi berintensitas kuat.
Sekolah Lapang Gempa bumi (SLG) di Kecamatan Jatiyoso
Sebagai bentuk aksi nyata dalam membangun ketangguhan daerah, BMKG Stasiun Geofisika Sleman akan menyelenggarakan kegiatan Sekolah Lapang Gempa bumi (SLG) Kabupaten Karanganyar Tahun 2026yang akan dilaksanakan pada 24 September 2026 di Kantor Kecamatan Jatiyoso.
Kegiatan edukasi dan simulasi mitigasi bencana ini ditargetkan diikuti oleh peserta yang terdiri dari unsur lintas sektor. Peserta mencakup jajaran BPBD, Camat dan perangkat desa, aparat TNI/Polri, tenaga kesehatan, Dinas Sosial, Dinas Perhubungan, Dinas Pariwisata, unsur media, relawan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB), PMI, organisasi masyarakat, kelompok disabilitas, hingga perwakilan tenaga pendidik dan sekolah.
Melalui program SLG ini, BMKG bertujuan memberikan edukasi berbasis sains mengenai karakteristik gempa bumi, melatih respons cepat dan prosedur evakuasi, serta mengeliminasi rumor hoax yang sering memicu kepanikan di masyarakat.
Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Sleman, Ardhianto Septiadhi, menegaskan bahwa gempa bumi merupakan fenomena alam yang hingga saat ini belum dapat diprediksi kapan dan di mana terjadinya. Oleh karena itu, kesiapsiagaan dan peningkatan literasi bencana menjadi kunci utama keselamatan.
“Gempa bumi tidak bisa diprediksi, namun kesiapsiagaan masyarakat dapat dilatih. Melalui sinergi antara BMKG, Pemkab Karanganyar, dan seluruh elemen masyarakat dalam program SLG ini, kita dapat mewujudkan masyarakat Karanganyar yang tangguh dan siap siaga menghadapi potensi bencana,” ujar Ardhianto.
Dengan diadakannya audiensi dan persiapan SLG ini, diharapkan sinergi dan kolaborasi antara BMKG dengan Pemkab Karanganyar dapat terus diperkuat demi melindungi keselamatan masyarakat serta mengamankan aset pembangunan daerah dari ancaman bencana alam.
Humas BMKG DIY