Kembali ke Berita

Mengenal Cuaca dan Perubahan Iklim, Siswa SMAK Tunas Bangsa Kunjungi BMKG

Hamada Radifa Ananta
Mengenal Cuaca dan Perubahan Iklim, Siswa SMAK Tunas Bangsa Kunjungi BMKG

Jakarta, 7 Mei 2026 – Rasa ingin tahu terhadap fenomena cuaca dan iklim yang dirasakan sehari-hari mendorong puluhan siswa kelas 10 SMA Kristen (SMAK) Tunas Bangsa mengunjungi kantor pusat Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) di Jakarta. Kunjungan ini membuka wawasan para siswa tentang cara kerja BMKG dalam memantau cuaca, mendeteksi gempa bumi, hingga menganalisis perubahan iklim.

Kegiatan diawali dengan menjelajahi tiga titik, yaitu Simulator Gempa Bumi, Taman Alat Meteorologi, dan Galeri B.A.I.K., sebelum menerima penjelasan inti dari para ahli BMKG mengenai sistem dan cara kerja alam. Salah satu pengalaman yang paling membekas bagi para siswa adalah sesi simulasi gempa bumi. Para siswa merasakan sendiri tiruan guncangan gempa sebagai gambaran nyata betapa pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana.

Di Taman Alat Meteorologi, siswa diperkenalkan dengan berbagai perangkat pengamatan cuaca, mulai dari sangkar meteorologi sebagai pelindung alat ukur suhu dan kelembapan, anemometer untuk mengukur kecepatan angin, campbell-stokes yang menggunakan bola kaca untuk merekam lama penyinaran matahari, hingga penakar hujan dan panci penguapan. Seorang siswi mengaku paling ingat dengan sangkar meteorologi karena cara membaca yang mudah, sementara siswa lainnya terkesan pada anemometer karena dapat berputar.

Prakirawan Direktorat Meteorologi Publik BMKG Siskaria membuka diskusi di Ruang Media Center dengan memantik sebuah pertanyaan: Apa perbedaan antara cuaca dan iklim?

“Cuaca adalah kondisi fisis atmosfer pada suatu waktu tertentu, di tempat tertentu, dalam jangka waktu yang tertentu. Sedangkan iklim mencakup jangka waktu yang lebih luas,” jelas Siskaria di Jakarta (7/5).

Ia menegaskan bahwa prakiraan cuaca dibuat secara ilmiah dengan mengacu data-data pengamatan dari Taman Alat Meteorologi yang tersebar di seluruh Indonesia. Data yang terkumpul tersebut diolah melalui Numerical Weather Prediction (NWP) dan dianalisis oleh para prakirawan berpengalaman, hingga akhirnya disebarluaskan ke masyarakat melalui berbagai kanal informasi, salah satunya aplikasi InfoBMKG.

“Apakah memungkinkan membuat cuaca buatan, seperti hujan buatan, untuk memperbaiki kualitas udara?” tanya siswa bernama Rovino.

“Bisa. Namun, ingat lagi bahwa cuaca memiliki skala dan efek yang hanya bersifat lokal, terbatas di wilayah dan waktu tertentu,“ jawab Siskaria.

Sementara itu, Yuyun Wulandari, Analis Perubahan Iklim dari Direktorat Perubahan Iklim BMKG menjelaskan mengenai iklim dan perubahan kondisinya yang dialami seluruh dunia. Menurutnya, perubahan iklim sebenarnya merupakan hal yang wajar terjadi di Bumi sejak jutaan tahun lalu, tetapi kini menjadi tantangan karena kecepatannya jauh melampaui batas normal.

Untuk memperjelas dampak nyata perubahan iklim, Yuyun menyebutkan contoh yang mengejutkan para siswa: Indonesia memiliki salju abadi di Pegunungan Jayawijaya, Papua. Namun, luasnya terus menyusut drastis, dari sekitar 19 km² pada tahun 1941 menjadi hanya 3 km² pada 2010, dan kurang dari 1km² pada 2024.

“Mungkin dalam tiga tahun ke depan, es di sana sudah hilang. Jadi, perubahan iklim itu nyata dan bukan hoaks,” tegasnya.

Penyebab utama perubahan iklim global salah satunya adalah peningkatan gas rumah kaca (GRK). Dijelaskan Yuyun, gas rumah kaca, seperti karbondioksida dan metana, berfungsi layaknya selimut yang menjaga kehangatan Bumi.

Namun, aktivitas manusia, mulai dari emisi kendaraan, industri, deforestasi, hingga penggunaan pendingin ruangan, menghasilkan GRK berlebih sehingga panas yang seharusnya keluar menjadi terperangkap di dalam atmosfer. Akibatnya, suhu rata-rata Bumi terus meningkat dan memicu berbagai bencana hidrometeorologi.

Maka dari itu, Yuyun mengajak para siswa untuk berkontribusi nyata dalam upaya mitigasi perubahan iklim sejak dini. Mulai dari beralih ke transportasi umum, mengurangi penggunaan plastik, menghemat listrik, hingga menanam pohon di lingkungan rumah atau sekolah.

“Sekecil apapun usaha kita, jika dilakukan bersama-sama, dampaknya akan besar,” pungkasnya. (IS)

Berita Lainnya

Jumpa Tokoh Nasional di SMA Taruna Nusantara Magelang, Kepala BMKG Tekankan Pentingnya Teknologi untuk Kemanusiaan

Jumpa Tokoh Nasional di SMA Taruna Nusantara Magelang, Kepala BMKG Tekankan Pentingnya Teknologi untuk Kemanusiaan

Baca selengkapnya
Mengenal Cuaca dan Perubahan Iklim, Siswa SMAK Tunas Bangsa Kunjungi BMKG

Mengenal Cuaca dan Perubahan Iklim, Siswa SMAK Tunas Bangsa Kunjungi BMKG

Baca selengkapnya
Hubungi via WhatsApp