Magelang, 9 Mei 2026 – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan pentingnya penguasaan teknologi berbasis sains untuk mendukung keselamatan masyarakat, ketahanan bangsa, serta keberlanjutan lingkungan di tengah meningkatnya ancaman bencana dan perubahan iklim global. Hal tersebut disampaikan Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, saat menjadi pembicara dalam kegiatan Jumpa Tokoh Nasional SMA Taruna Nusantara Magelang dengan paparan bertajuk “Kedaulatan Teknologi untuk Bumi dan Kemanusiaan”, Sabtu (9/5/2026).
Dalam paparannya, Faisal menekankan bahwa teknologi bukan sekadar simbol kemajuan, melainkan instrumen penting untuk melindungi kehidupan manusia dan memperkuat daya saing bangsa. Menurutnya, BMKG memiliki tanggung jawab besar dalam memastikan keselamatan masyarakat melalui penyediaan informasi meteorologi, klimatologi, dan geofisika yang akurat dan cepat.
“Sebagai Kepala BMKG, sasaran utama dan prioritas kami adalah menjaga keselamatan masyarakat dari ancaman bencana hidrometeorologi dan gempa bumi. Data yang akurat sangat penting untuk menyelamatkan nyawa, mengamankan ekonomi masyarakat, dan menjaga infrastruktur vital negara kita. Kami terus berupaya memperkuat sistem peringatan dini agar masyarakat siap sebelum bencana besar terjadi,” ujar Faisal.
Ia menjelaskan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat risiko bencana yang tinggi, baik gempa bumi, tsunami, longsor, banjir, maupun cuaca ekstrem. Karena itu, penguatan mitigasi dan kesiapsiagaan harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pemerintah pusat hingga masyarakat di tingkat daerah.
“Yang terpenting adalah bagaimana risiko bencana dikomunikasikan kepada publik agar masyarakat tidak panik, tetapi siap siaga,” jelasnya.
Menurut Faisal, penyebaran informasi kebencanaan yang tepat, cepat, akurat, dan mudah dipahami merupakan bagian dari keputusan strategis nasional untuk menekan korban jiwa dan kerugian ekonomi akibat bencana. Oleh sebab itu, BMKG terus memperkuat sistem pemantauan, observasi, hingga teknologi peringatan dini berbasis sains dan data terkini.
Dalam paparannya, Faisal juga menjelaskan berbagai kontribusi teknologi dan riset yang telah dikembangkan Indonesia, mulai dari sistem peringatan dini longsor, banjir, dan tsunami, pemodelan kebencanaan, desain infrastruktur tahan bencana, hingga penguatan layanan informasi iklim dan cuaca untuk sektor pembangunan.
Selain membahas teknologi dan kebencanaan, Faisal turut mengajak para siswa untuk memaknai masa muda sebagai fase penting dalam membangun karakter, integritas, dan semangat pengabdian. Ia mencontohkan Ki Hajar Dewantara yang membangun gagasan besar melalui komunitas belajar bernama “Selasa Kliwonan”.
“Ki Hajar Dewantara memiliki komunitas bernama Selasa Kliwonan yang menjadi ruang peer learning untuk melahirkan ide-ide besar bagi Indonesia. Anda semua memiliki Komunitas Taruna Nusantara yang bukan hanya untuk tiga tahun, tetapi untuk seumur hidup,” pesannya.
Ia menilai budaya persaudaraan, kepemimpinan, dan pengabdian yang dimiliki Taruna Nusantara merupakan modal penting dalam membangun generasi unggul menuju Indonesia Emas. Faisal juga mengingatkan bahwa proses belajar tidak terbatas pada ruang kelas, melainkan berlangsung sepanjang kehidupan.
Dalam kesempatan tersebut, Faisal turut memperkenalkan peran BMKG dalam adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, termasuk penguatan layanan informasi cuaca, iklim, dan gempa bumi untuk berbagai sektor strategis nasional. Ia juga memperkenalkan Sekolah Tinggi Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (STMKG) sebagai salah satu institusi pendidikan yang berperan menyiapkan sumber daya manusia unggul di bidang meteorologi, klimatologi, geofisika, dan instrumentasi.
Melalui kegiatan ini, BMKG berharap generasi muda, khususnya siswa Taruna Nusantara, semakin memahami pentingnya sains, teknologi, mitigasi bencana, dan kepemimpinan dalam menghadapi tantangan global di masa depan.