Jakarta, 29 Juli 2026 – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus membuktikan komitmen untuk menjadi lembaga yang adaptif dan inovatif dalam memberikan informasi yang berdampak langsung bagi masyarakat. Kesehatan menjadi salah satu sektor yang sangat bergantung pada kondisi alam, menuntut BMKG untuk menghadirkan solusi strategis demi keselamatan dan kesejahteraan publik.
Seiring dengan dinamika atmosfer, iklim, geofisika, hingga potensi bencana di Indonesia, Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menjadikan BMKG sebagai salah satu batu pijakan dalam membangun ketahanan kesehatan kolektif. Melalui kunjungan kerja ke BMKG, Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes memperkuat sinergi sekaligus meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dalam mitigasi, kesiapsiagaan, serta merespons krisis kesehatan berdasarkan informasi BMKG.
Ketua Tim Hubungan Pers dan Media BMKG Dwi Rini Endra Sari menegaskan bahwa informasi BMKG, baik yang bersifat real-time maupun prediktif, dapat mendukung penanggulangan krisis kesehatan. Berbagai produk informasi yang dihadirkan telah diterjemahkan sesuai dengan kebutuhan sehingga setiap sektor yang terdampak dapat melakukan aksi sedini mungkin.
“BMKG sebagai lembaga di tingkat hulu wajib memberikan peringatan dini yang menjangkau masyarakat (accessible), segera (immediate), tegas, tidak membingungkan (coherent), dan bersifat resmi (official),” tegas Dwi Rini dalam sambutannya di Ruang Media Center, Kantor BMKG Pusat, Jakarta pada Rabu (29/7).
Dalam menghadapi ancaman yang semakin dinamis, BMKG didukung superkomputer bertajuk SMONG yang dapat memproses data mentah menjadi informasi peringatan dini dalam waktu singkat. Teknologi ini menopang pusat kendali Multi-Hazards Early Warning System (MHEWS) di Jakarta dan Bali sebagai back-up system.
Bayu Pranata dari Kedeputian Bidang Geofisika BMKG menjelaskan bahwa kecepatan dan keakuratan informasi BMKG menjadi kunci utama keselamatan masyarakat. BMKG turut meningkatkan literasi dan kesiapsiagaan gempa bumi dan tsunami di tingkat masyarakat, sehingga dampak kerusakan serta korban dapat diminimalkan.
Sementara itu, Agung Fauzi dari Kedeputian Bidang Klimatologi BMKG memperkenalkan DBDKlim yang dapat memetakan sebaran wilayah berpotensi penyakit demam berdarah dengue (DBD). Program yang dirilis sejak 2019 ini telah tersedia untuk wilayah Provinsi DKI Jakarta dan Bali.
“Faktor iklim seperti curah hujan, suhu, dan kelembapan mempengaruhi perkembangan nyamuk Aedes aegypti. Untuk mencegahnya, diperlukan sistem peringatan dini berbasis iklim yang dibangun melalui kolaborasi pentaheliks,” ujar Agung.
Lebih lanjut, BMKG menyadari dampak perubahan iklim turut meningkatkan risiko kesehatan masyarakat, seperti air-borne diseases (ISPA), water-borne diseases (pneumonia, diare), vector-borne diseases (dengue, malaria). Maka dari itu, BMKG terus mengembangkan layanan DBDKlim yang saat ini dalam proses untuk diterapkan di Jawa Barat serta DBDKlim Nasional Berbasis Indeks Iklim. Pemanfaatan informasi kualitas udara kini menjadi perhatian BMKG untuk mengantisipasi serangan penyakit ISPA.
Untuk jangka waktu lebih singkat, BMKG melalui Kedeputian Bidang Meteorologi membagikan berbagai produk informasi cuaca dengan cakupan terkecil hingga tingkat kelurahan/desa dalam resolusi waktu prakiraan 1 jam. Paradigma impact-based forecast (prakiraan cuaca berbasis dampak) terus diperkuat untuk memastikan peringatan dini cuaca signifikan dapat meningkatkan mitigasi berbagai potensi bencana hidrometeorologi, seperti kebakaran, banjir, tanah longsor, untuk mitigasi bencana hidrometeorologi.
Agita Vivi dari Kedeputian Bidang Meteorologi BMKG menjelaskan bahwa kondisi cuaca tidak hanya berguna bagi keselamatan publik, tetapi juga keberlangsungan setiap sektor, termasuk transportasi dan pariwisata.
“BMKG mendukung operasional transportasi darat melalui SIGNATURE, laut melalui INA-WIS, dan udara melalui INA-SIAM pada masing-masing platform terdedikasi yang dapat diakses publik,” tambah Vivi.
BMKG turut terlibat dalam upaya mengantisipasi dampak cuaca ekstrem melalui layanan modifikasi cuaca sebagai antisipasi cuaca ekstrem, seperti kemarau yang saat ini melanda wilayah Indonesia. Operasi modifikasi cuaca (OMC) dilakukan dengan menaburkan bahan semai, seperti NaCI atau CaO, yang disesuaikan dengan kondisi awan. Bahan semai ini berfungsi sebagai inti kondensasi yang membantu uap air berkumpul menjadi tetesan air sehingga dapat mempercepat proses pembentukan hujan.
Kunjungan ini menjadi bukti nyata bahwa kesiapsiagaan bencana tidak dapat berdiri sendiri. Dengan menempatkan informasi BMKG sebagai batu pijakan awal, Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes dapat mengoptimalkan penanganan darurat medis, penyiapan fasilitas kesehatan, hingga evakuasi di daerah terdampak.
Melalui pendekatan yang kolaboratif dan profesional ini, BMKG dan Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes menyatukan visi untuk terus menghadirkan perlindungan hulu-ke-hilir yang proaktif, responsif, dan berorientasi pada keselamatan seluruh rakyat Indonesia.