Kemarau Meluas, Potensi Hujan Signifikan Masih Perlu Diwaspadai
Analisis perkembangan musim kemarau menunjukkan bahwa 28,6% wilayah zona musim di Indonesia telah memasuki musim kemarau, terutama di wilayah Indonesia bagian selatan. Kondisi ini juga terlihat pada Hari Tanpa Hujan (HTH) di wilayah selatan Indonesia yang mulai didominasi kategori panjang, yaitu 21 – 30 hari tanpa hujan. Hal tersebut mengindikasikan bahwa kondisi kering mulai berkembang lebih konsisten, seiring dengan meningkatnya pengaruh Monsun Australia yang membawa massa udara kering dari Australia menuju wilayah Indonesia bagian selatan.
Dominasi massa udara kering menyebabkan kelembapan udara berkurang dan pembentukan awan menjadi lebih terbatas, terutama pada pagi hingga siang hari. Kondisi atmosfer yang relatif cerah membuat penyinaran matahari ke permukaan berlangsung lebih optimal, sehingga berkontribusi terhadap peningkatan suhu udara maksimum di sejumlah wilayah. Pada periode 4 – 7 Juni 2026, suhu maksimum lebih dari 35,0°C tercatat di Aceh, Sumatra Utara, Bengkulu, Lampung, Banten, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, dan Papua Barat.
Meskipun perkembangan musim kemarau mulai terlihat di sebagian wilayah Indonesia, hujan dengan intensitas ringan hingga lebat masih teramati di sejumlah wilayah. Pada periode yang sama, hujan dengan intensitas lebat tercatat di Sumatra Utara (82,7 mm/hari), Maluku (64,0 mm/hari), Papua Barat (60,0 mm/hari), Kalimantan Barat (58,0 mm/hari), dan Papua (57,0 mm/hari). Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dinamika atmosfer regional masih berperan dalam mendukung pembentukan awan hujan di beberapa wilayah. Analisis dinamika atmosfer menunjukkan adanya aktivitas Gelombang Rossby Ekuatorial di sebagian wilayah Sumatra dan Kalimantan bagian selatan, serta Gelombang Kelvin di perairan barat Sumatra Utara hingga Sumatra Barat dan sebagian wilayah Sulawesi Utara dan Maluku Utara. Aktivitas gelombang atmosfer tersebut berkontribusi terhadap peningkatan pertumbuhan awan hujan, sehingga mendukung terjadinya hujan signifikan di wilayah-wilayah tersebut.
Dinamika Atmosfer Sepekan ke Depan
Dari sisi iklim global, indikator ENSO masih memperlihatkan kecenderungan fase hangat di Samudra Pasifik tropis bagian tengah dan timur yang ditandai oleh indeks Niño 3.4 sebesar +0,69 dan nilai SOI sebesar -20,3. Kondisi ini mengindikasikan potensi pengurangan curah hujan di sebagian wilayah Indonesia. Meskipun demikian, hujan masih berpotensi terjadi pada sebagian wilayah Indonesia akibat faktor-faktor atmosfer regional dan lokal yang masih berperan cukup signifikan di sebagian wilayah.
Dalam sepekan ke depan, aktivitas MJO diperkirakan berada pada fase 8 hingga 1 (Western Hemisphere-Africa) sehingga kurang berpengaruh terhadap wilayah Indonesia. Meski demikian, sinyal konvektif MJO masih berpotensi bertahan di sebagian wilayah Papua, terutama wilayah selatan hingga tengah. Selain MJO, aktivitas Gelombang Kelvin diprediksi melintasi sebagian Sumatra Utara dan Sumatra Selatan, sedangkan Gelombang Rossby Ekuatorial berpotensi aktif di Papua, Maluku, Maluku Utara, Sulawesi, Kalimantan, hingga Jawa. Selain itu, sirkulasi siklonik yang diperkirakan masih bertahan di Samudra Pasifik utara Papua dan Samudra Hindia barat Kepulauan Nias juga berpotensi membentuk daerah konvergensi, konfluensi, serta perlambatan angin yang dapat meningkatkan pertumbuhan awan hujan di wilayah Papua, Kepulauan Nias, sebagian Sumatra Barat, Riau, dan sekitarnya.
Selain dipengaruhi oleh dinamika atmosfer skala regional, kondisi atmosfer yang cukup labil di sejumlah wilayah juga diperkirakan akan mendukung pertumbuhan awan konvektif secara lebih intensif pada skala lokal. Potensi tersebut teridentifikasi di beberapa wilayah, antara lain Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Sumatra Selatan, Kepulauan Riau, Kepulauan Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua. Kombinasi berbagai faktor atmosfer, mulai dari MJO, aktivitas gelombang atmosfer, keberadaan sirkulasi siklonik, hingga kondisi labilitas udara yang mendukung konveksi, berpotensi meningkatkan peluang terjadinya hujan dengan intensitas bervariasi di sejumlah wilayah Indonesia dalam beberapa hari ke depan.
Potensi Hujan Sepekan ke Depan
Periode 9 – 11 Juni 2026
Cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi hujan ringan hingga hujan lebat. Perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang yang terjadi di Aceh, Sumatra Barat, Riau, Kep. Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kep. Bangka Belitung, Bengkulu, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua dan Papua Selatan.
Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang dapat terjadi, dengan kategori tingkat peringatan dini dan wilayah potensi kejadian sebagai berikut:
- Siaga (hujan lebat – sangat lebat): Sumatra Utara, Kalimantan Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan.
- Angin Kencang: Aceh, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku, dan Papua Selatan.
Periode 12 – 15 Juni 2026
Cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi hujan ringan hingga hujan lebat. Perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang yang terjadi di Aceh, sumatra Utara, Riau, Kep. Riau, Jambi, Bengkulu, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua dan Papua Selatan.
Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang, dapat terjadi dengan kategori tingkat peringatan dini dan wilayah potensi kejadian sebagai berikut:
- Siaga (hujan lebat – sangat lebat): Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan
- Angin Kencang: Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan Papua Selatan.
Imbauan
Menghadapi potensi cuaca signifikan yang masih berpeluang terjadi dalam beberapa hari kedepan, BMKG mengimbau masyarakat dan para pemangku kepentingan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana hidrometeorologi. Pengendara kendaraan bermotor juga perlu waspada terhadap potensi hujan lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang, yang berpotensi mengganggu kelancaran perjalanan. Selain itu, masyarakat diimbau mewaspadai potensi pohon atau dahan tumbang, baliho roboh, genangan, dan sambaran petir dengan menghindari berteduh di bawah pohon, papan reklame, atau bangunan rapuh, serta membatasi aktivitas di ruang terbuka saat hujan disertai angin kencang dan petir.
Untuk masyarakat pada wilayah yang sudah memasuki musim kemarau atau berada pada periode peralihan, BMKG menghimbau untuk menggunakan pelindung atau tabir surya guna menghindari paparan langsung sinar matahari, serta menjaga kecukupan cairan tubuh, terutama bagi yang beraktivitas di luar ruangan pada siang hari, agar terhindar dari dehidrasi, kelelahan, dan dampak buruk lainnya. Selain itu, perlu dipahami bahwa musim kemarau dan periode peralihan bukan berarti tidak ada hujan. Hujan masih berpotensi terjadi, khususnya saat kondisi atmosfer masih cukup lembab. Oleh karena itu, masyarakat tetap perlu waspada akan cuaca yang dapat berubah sewaktu-waktu.
Kondisi cuaca yang dinamis tersebut perlu menjadi perhatian dalam perencanaan berbagai aktivitas, terutama perjalanan darat, laut, dan udara, serta kegiatan luar ruang seperti olahraga dan wisata. Oleh karena itu, BMKG mengingatkan masyarakat untuk secara berkala memantau informasi prakiraan cuaca, peringatan dini, dan peringatan cuaca ekstrem resmi melalui berbagai kanal informasi BMKG, antara lain laman http://www.bmkg.go.id, aplikasi InfoBMKG, serta media sosial @infobmkg, serta melakukan langkah-langkah antisipatif di lingkungan sekitar guna meminimalkan potensi dampak cuaca ekstrem.
Informasi ini akan terus diperbarui secara berkala mengikuti perkembangan cuaca terbaru, sehingga masyarakat dapat terus beraktivitas dengan lebih aman dan percaya diri.
Catatan: Informasi ini telah melalui proses penyuntingan dan pembaruan tanggal 08 Juni 2026, 19.00 WIB.
Jakarta, 8 Juni 2026
Direktorat Meteorologi Publik BMKG
– Klik tautan ini jika PDF di atas tidak muncul.