Menuju Kemarau, Aktivitas MJO dan Gelombang Atmosfer Masih Mempengaruhi Potensi Hujan di beberapa wilayah Indonesia
BMKG telah memprediksi potensi peningkatan curah hujan di awal Mei 2026 sebagai hasil dari analisis dinamika atmosfer terkini. Pada periode 01 – 03 Mei 2026, BMKG mencatat terjadinya hujan dengan intensitas sangat lebat hingga ekstrem di Jawa Barat (166.5 mm/hari), Jambi (131.2 mm/hari), Kalimantan Barat (113.8 mm/hari), Sumatera Utara (129.5 mm/hari), dan Maluku (103.1 mm/hari). Kondisi tersebut dipicu oleh aktivitas sejumlah gelombang atmosfer seperti Rossby Ekuatorial, Kelvin, dan Mixed Rossby-Gravity (MRG), yang terpantau melintasi sebagian wilayah Indonesia. Gelombang atmosfer tersebut berperan dalam memodulasi proses konvektif pada skala yang lebih luas, sehingga mendukung pertumbuhan awan hujan di beberapa wilayah.
Selain itu, fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) yang berada pada fase 2 (dua) turut berkontribusi terhadap pembentukan awan hujan, khususnya di wilayah barat Indonesia (Pesisir Barat Sumatera), serta terpantau aktif secara spasial melintasi sebagian wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Maluku. Selain itu, terdapat sirkulasi siklonik di pesisir barat dan utara Sumatera, Kalimantan bagian utara, perairan utara Maluku, serta pesisir utara Papua yang meningkatkan pertumbuhan awan hujan. Faktor lokal seperti pemanasan permukaan yang cukup kuat pada siang hari serta kelembaban udara yang masih relatif tinggi juga berkontribusi dalam mendukung terbentuknya awan-awan hujan.
Di sisi lain, suhu maksimum harian yang relatif tinggi juga masih teramati di sejumlah wilayah, antara lain Kalimantan Timur (37.1°C), Kalimantan Utara (36.6°C), Sulawesi Tengah (36.2°C), Papua (36.0°C) dan Kalimantan Barat (36.6°C). Hal ini menunjukkan bahwa pemanasan pada siang hari masih berlangsung cukup kuat di beberapa wilayah. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh intensitas radiasi matahari pada siang hari yang masih cukup tinggi, serta mulai menguatnya monsun Australia. Monsun ini biasa ditandai dengan dominasi angin timuran, yang membawa massa udara relatif lebih kering. Dampaknya, tutupan awan pada pagi hingga siang hari cenderung berkurang sehingga radiasi matahari dapat diterima lebih optimal di permukaan dan mendorong peningkatan suhu udara.
Dinamika Atmosfer Sepekan ke Depan
Dalam sepekan kedepan, potensi hujan masih berpotensi terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia. Madden-Julian Oscillation (MJO) diprediksi masih berada di fase 2 (Indian Ocean) dan melewati sebagian besar Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, Jawa bagian barat, sebagian kecil Bali, NTT, dan NTB. Gelombang Kelvin yang bergerak ke arah timur juga diprediksi aktif di sebagian wilayah besar wilayah Sumatera, Kalimantan, Jawa Timur, Bali, NTT, NTB, Sulawesi bagian utara, Maluku dan Papua bagian utara. Begitu pula dengan Gelombang Rossby Ekuatorial yang diprediksi aktif di sebagian wilayah Sumatera bagian utara dan selatan, Maluku, dan Papua. Keberadaan gangguan atmosfer tersebut berpotensi meningkatkan pembentukan awan hujan di wilayah-wilayah yang disebutkan, khususnya sebagian besar Pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku bagian selatan dan tenggara, dan Papua.
Pada skala meso, Bibit siklon tropis dan sirkulasi siklonik juga mempengaruhi pola cuaca di wilayah Indonesia. Bibit Siklon 92W diprediksi masih berada di Samudra Pasifik utara Papua, dengan kecepatan angin maksimum sebesar 15 knot, tekanan udara minimum sebesar 1008 hPa, dengan arah gerak ke barat. Selain itu, sirkulasi siklonik juga diprediksi terbentuk di Perairan Barat Laut Aceh, Selat Malaka bagian utara, Perairan Barat Bengkulu, di Selat Makassar, dan di Laut Banda. Sistem-sistem tersebut membentuk daerah konvergensi dan konfluensi yang memanjang di Perairan Barat Laut Aceh, di Selat Makassar, Laut Maluku, Maluku, Laut Seram, di Laut Banda, dan di wilayah sekitar sistem-sistem tersebut. Daerah konvergensi lain juga diprediksi terbentuk di Perairan Barat Laut Aceh, di Selat Makassar, Laut Maluku, Maluku, Laut Seram, di Laut Banda, dan di wilayah sekitar sistem-sistem tersebut. Kondisi ini dapat meningkatkan potensi pembentukan awan hujan di sekitar sirkulasi siklonik dan di sepanjang daerah konvergensi atau konfluensi tersebut.
Disisi lain, Monsun Australia diprediksi menguat dalam beberapa hari mendatang, yang ditunjukkan oleh dominasi angin timuran pada pola angin zonal di sebagian besar wilayah Indonesia. Kondisi ini berpotensi membawa massa udara yang lebih kering dari Australia ke wilayah Indonesia, sekaligus mengindikasikan bahwa beberapa daerah mulai memasuki masa peralihan secara bertahap dari musim hujan menuju musim kemarau.
Potensi Hujan Sepekan ke Depan
Periode 5 – 7 Mei 2026
Cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi hujan ringan hingga hujan lebat. Perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang-lebat yang terjadi di Aceh, Sumatera Barat, Riau, Kep. Riau, Jambi, Bengkulu, Lampung, DKI Jakarta, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Papua Barat Daya, Papua Barat, dan Papua Selatan.
Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang dapat terjadi, dengan kategori tingkat peringatan dini dan wilayah potensi kejadian sebagai berikut:
- Siaga (hujan lebat – sangat lebat): Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Kep. Bangka Belitung, Banten, Jawa Tengah, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Maluku Utara, Maluku, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua.
- Angin Kencang: Nihil.
Periode 8 – 11 Mei 2026
Cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi hujan ringan hingga hujan sedang. Perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang-lebat yang terjadi di Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kep. Riau, Sumatera Selatan, Kep. Bangka Belitung, Bengkulu, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua dan Papua Selatan.
Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang , dapat terjadi dengan kategori tingkat peringatan dini dan wilayah potensi kejadian sebagai berikut:
- Siaga (hujan lebat – sangat lebat): Aceh, Sulawesi Barat, dan Papua Pegunungan.
- Angin Kencang: Nihil.
Imbauan
Menghadapi kondisi cuaca cerah disertai potensi cuaca ekstrem dalam beberapa waktu kedepan, BMKG mengimbau masyarakat untuk menggunakan pelindung atau tabir surya guna menghindari paparan langsung sinar matahari, serta menjaga kecukupan cairan tubuh, terutama bagi yang beraktivitas di luar ruangan pada siang hari, agar terhindar dari dehidrasi, kelelahan, dan dampak buruk lainnya.
Selain itu, dengan mempertimbangkan dinamika atmosfer yang masih signifikan dalam beberapa hari kedepan, BMKG mengimbau masyarakat dan para pemangku kepentingan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana hidrometeorologi. Pengendara kendaraan bermotor juga perlu waspada terhadap potensi hujan lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang, yang berpotensi mengganggu kelancaran perjalanan. Selain itu, masyarakat diimbau mewaspadai potensi pohon atau dahan tumbang, baliho roboh, genangan, dan sambaran petir dengan menghindari berteduh di bawah pohon, papan reklame, atau bangunan rapuh, serta membatasi aktivitas di ruang terbuka saat hujan disertai angin kencang dan petir.
Kondisi cuaca yang dapat berubah sewaktu-waktu ini perlu menjadi perhatian dalam perencanaan berbagai aktivitas, terutama perjalanan darat, laut, dan udara, serta kegiatan luar ruang seperti olahraga dan wisata. Oleh karena itu, BMKG mengingatkan masyarakat untuk secara berkala memantau informasi prakiraan cuaca, peringatan dini, dan peringatan cuaca ekstrem resmi melalui berbagai kanal informasi BMKG, antara lain laman http://www.bmkg.go.id, aplikasi InfoBMKG, serta media sosial @infobmkg, serta melakukan langkah-langkah antisipatif di lingkungan sekitar guna meminimalkan potensi dampak cuaca ekstrem.
Informasi ini akan terus diperbarui secara berkala mengikuti perkembangan cuaca terbaru, sehingga masyarakat dapat terus beraktivitas dengan lebih aman dan percaya diri.
Catatan: Informasi ini telah melalui proses penyuntingan dan pembaruan tanggal 04 Mei 2026, 16.20 WIB.
Jakarta, 04 Mei 2026
Direktorat Meteorologi Publik BMKG
– Klik tautan ini jika PDF di atas tidak muncul.