Kembali ke Berita

Waspada Kemarau Ekstrem, BMKG dan DKPP Lamongan Bekali Petani Strategi Adaptasi Iklim

Dian Endah
Waspada Kemarau Ekstrem, BMKG dan DKPP Lamongan Bekali Petani Strategi Adaptasi Iklim

Paciran, 2 April 2026 – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama Pemerintah Kabupaten Lamongan melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) memperkuat upaya peningkatan kapasitas petani dalam menghadapi potensi dampak musim kemarau 2026 yang diprakirakan lebih kering dari normal.

Langkah ini penting mengingat Kabupaten Lamongan merupakan salah satu lumbung pangan utama sekaligus daerah penghasil tembakau terbesar di Jawa Timur. Sebagai salah satu dari lima kabupaten/kota penghasil tembakau terbesar serta penyumbang produksi beras tertinggi, Lamongan dihadapkan pada tantangan variabilitas dan perubahan iklim yang berpotensi memengaruhi stabilitas produksi pertanian.

Menyikapi hal tersebut, kegiatan “Pembinaan Teknis dan Pelatihan Grading Tembakau” digelar pada 1–2 April 2026 di Tanjung Kodok Beach Resort, Paciran, dengan melibatkan 100 petani dari delapan kecamatan. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari langkah mitigasi untuk meningkatkan kemampuan adaptasi petani terhadap anomali iklim, khususnya di wilayah selatan aliran Sungai Bengawan Solo yang memiliki keterbatasan irigasi teknis.

Pelatihan dilaksanakan dalam dua gelombang. Hari pertama diikuti oleh 50 petani dari Kecamatan Sukorame, Bluluk, Modo, dan Kedungpring. Sementara itu, 50 peserta lainnya dari Kecamatan Ngimbang, Sambeng, Mantup, dan Sugio mengikuti pelatihan pada hari kedua.

Kegiatan dibuka oleh Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Lamongan, Mugito, didampingi Kepala Bidang Perkebunan Nazilatul Fikriyati. Dalam arahannya, Mugito menegaskan bahwa kolaborasi dengan BMKG menjadi langkah strategis agar petani mampu memahami dan memanfa atkan informasi iklim secara mandiri.

“Komoditas tembakau sangat bergantung pada ketepatan waktu tanam dan kondisi curah hujan. Oleh karena itu, pemanfaatan informasi iklim dari BMKG menjadi kunci dalam menjaga kualitas dan produktivitas hasil panen,” ujarnya.

Berdasarkan analisis BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur, kondisi iklim global diprakirakan berada pada fase ENSO netral hingga pertengahan tahun 2026 dan berpotensi berkembang menuju El Nino lemah pada semester kedua. Sementara itu, fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) diprakirakan tetap berada pada fase netral.

Untuk wilayah Kabupaten Lamongan, awal musim kemarau diprakirakan terjadi pada Dasarian II April hingga Dasarian I Mei 2026. Secara umum, sebagian wilayah diprakirakan mengalami pergeseran awal musim kemarau sekitar satu dasarian dibandingkan rata-rata klimatologisnya.

Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Timur, Anung Suprayitno, menyampaikan bahwa sifat hujan selama musim kemarau di sebagian besar wilayah Lamongan diprakirakan berada pada kategori bawah normal, yang menunjukkan kondisi lebih kering dibandingkan kondisi klimatologisnya.

“Puncak musim kemarau di Kabupaten Lamongan diprakirakan terjadi pada Agustus 2026. Berdasarkan distribusi curah hujan, wilayah ini akan mengalami curah hujan kategori menengah pada April, kemudian menurun menjadi kategori rendah (0–100 mm per bulan) pada periode Mei hingga September 2026,” jelasnya.

Meskipun memasuki musim kemarau, masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi hujan yang masih dapat terjadi, terutama dampaknya terhadap komoditas pertanian seperti tembakau. BMKG juga menyarankan petani untuk menyesuaikan pengelolaan sistem irigasi berdasarkan informasi cuaca dan iklim terkini.

Pemanfaatan informasi iklim dari BMKG perlu dilakukan secara terpadu dan berkelanjutan, mulai dari tahap perencanaan hingga pasca panen. Informasi prakiraan musim yang diperbarui secara berkala menjadi dasar penting dalam menentukan pola tanam, pemilihan varietas, serta waktu tanam yang tepat.

Selain itu, pemanfaatan prakiraan bulanan, dasarian, hingga harian sangat penting untuk mendukung pengambilan keputusan operasional di lapangan. Peringatan dini terhadap potensi cuaca ekstrem juga perlu menjadi perhatian utama guna meminimalkan risiko gagal panen akibat kekeringan, hujan tidak terduga, maupun angin kencang.

Melalui kegiatan ini, BMKG dan DKPP Lamongan berharap petani mampu meningkatkan kapasitas adaptasi terhadap variabilitas iklim, sehingga proses produksi pertanian dapat berjalan lebih efisien, tangguh, dan berkelanjutan di tengah tantangan perubahan iklim yang semakin kompleks.

Penulis: Tim Publikasi Stasiun Klimatologi Jawa Timur

Hubungi via WhatsApp