
Kembali ke Berita Utama
Menjawab Risiko Pesisir dan Perkotaan, BMKG Tinjau UPT di Semarang
15 January 2026
Kholis Nur Cahyo
Berita Utama

Semarang, 14 Januari 2026 — BMKG melakukan rangkaian inspeksi dan audiensi di UPT BMKG wilayah Semarang untuk memastikan kesiapan layanan informasi cuaca, iklim, gempabumi, dan tsunami di tengah meningkatnya risiko pesisir dan perkotaan Jawa Tengah.
Kunjungan dipimpin Kepala BMKG Prof. Ir. Teuku Faisal Fathani, Ph.D didampingi Deputi Bidang Klimatologi Ardhasena Sopaheluwakan, Direktur Perubahan Iklim Achmad Fachri Radjab, Kepala Balai Besar MKG Wilayah II Hartanto, serta dihadiri Kepala UPT BMKG se-Jawa Tengah dan jajaran pegawai.
Rangkaian kegiatan diawali di Stasiun Meteorologi Maritim Tanjung Emas, kawasan pesisir yang rentan terhadap banjir rob, cuaca ekstrem, dan dinamika laut-atmosfer. Kepala BMKG menegaskan bahwa peran BMKG tidak berhenti pada penyampaian peringatan dini.
“Di wilayah seperti Tanjung Emas, informasi BMKG harus benar-benar sampai, dipahami, dan dimanfaatkan untuk mengurangi risiko. Itu bagian dari tanggung jawab kita sebagai institusi negara,” tegas Faisal Fathani.
Dari perspektif klimatologi, Deputi Klimatologi Ardhasena Sopaheluwakan menyoroti tingginya sensitivitas wilayah pesisir Semarang terhadap perubahan iklim.
“Kenaikan muka air laut dan perubahan pola hujan menjadikan informasi iklim jangka menengah dan panjang sebagai kebutuhan nyata, bukan sekadar referensi ilmiah,” ujarnya.
Rombongan kemudian meninjau Gedung Radar Cuaca yang menjadi tulang punggung pemantauan hujan ekstrem dan awan konvektif di Jawa Tengah, khususnya untuk mendukung peringatan dini cuaca berdampak di kawasan Semarang dan sekitarnya.
Kunjungan berlanjut ke Stasiun Klimatologi Jawa Tengah, tempat Kepala BMKG menegaskan peran strategis klimatologi dalam mendukung pembangunan lintas sektor.
“BMKG hadir untuk mendukung berbagai sektor, mulai dari pangan, sumber daya air, hingga tata ruang. Informasi iklim harus menjadi dasar pengambilan keputusan,” ungkapnya.
Pada kesempatan yang sama, Deputi Klimatologi menekankan bahwa analisis iklim perlu disajikan secara operasional dan mudah dipahami oleh pemangku kepentingan daerah.
“Data iklim harus diterjemahkan menjadi rekomendasi yang aplikatif bagi pemerintah daerah dan masyarakat,” imbuh Ardhasena.
Rangkaian inspeksi ditutup di Stasiun Meteorologi Ahmad Yani, yang berperan strategis dalam keselamatan penerbangan dan layanan cuaca publik. Kepala BMKG mengapresiasi kinerja UPT dan menekankan pentingnya konsolidasi internal.
“BMKG yang kokoh bukan ditentukan oleh individu, tetapi oleh organisasi yang bergerak serempak dari pusat hingga UPT,” ujarnya.
Audiensi di setiap lokasi diisi dengan paparan singkat kondisi stasiun oleh kepala UPT, disertai dialog terbuka bersama pimpinan dan pegawai. Melalui rangkaian ini, BMKG memastikan layanan cuaca dan iklim di Semarang dan Jawa Tengah tetap relevan, adaptif, dan mampu menjawab tantangan perubahan iklim yang semakin nyata.















