Kembali ke Berita Utama

BMKG Tuan Rumah Pertemuan SC-MMO III WMO, Bahas Layanan Meteorologi Kelautan Global

Dian Endah
BMKG Tuan Rumah Pertemuan SC-MMO III WMO, Bahas Layanan Meteorologi Kelautan Global

Jakarta, 7 Juli 2026 – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menggelar Third Meeting of the Standing Committee on Marine Meteorological and Oceanographic Services (SC-MMO III) secara hybrid yang diikuti oleh 25 peserta yang terdiri lebih dari 12 negara/lembaga (termasuk Amerika Serikat, Swiss, Chile, Jerman, Australia, Antigua and Barbuda, Jepang, Canada, Denmark, dan Norway), 14 peserta hadir secara luring dan selebihnya hadir secara daring pada 7–9 Juli 2026 di Kantor Pusat BMKG, Jakarta.

Standing Committee on Marine Meteorological and Oceanographic Services (SC-MMO) merupakan komite di bawah World Meteorological Organization (WMO) yang bertanggung jawab mengarahkan pengembangan layanan meteorologi maritim, oseanografi, dan layanan pesisir di tingkat global.

Kepala BMKG sekaligus the Permanent Representative of Indonesia with the WMO, Teuku Faisal Fathani menyampaikan bahwa BMKG menyadari tanggung jawabnya untuk menyediakan layanan meteorologi kelautan yang dapat dipercaya guna membantu masyarakat untuk mengambil keputusan yang tepat, mengurangi risiko, dan berlayar dengan aman di perairan Indonesia.

“Untuk memperkuat komitmen ini, BMKG mendirikan Direktorat Meteorologi Maritim pada tahun 2016 guna meningkatkan penyediaan layanan meteorologi kelautan di seluruh Indonesia. Kami terus memperkuat landasan ilmiah layanan cuaca kelautan kami dengan memperluas jaringan pengamatan kelautan Indonesia, meningkatkan integrasi data, serta memajukan kemampuan pengamatan dan pemodelan kami”, kata Faisal.

”Kami juga terus memperkuat sumber daya manusia kami. Komitmen ini baru-baru ini diakui melalui proyek percontohan WMO, yang memberikan kesempatan bagi BMKG untuk berkontribusi dalam pengembangan Marine Competency Framework Toolkit sebagai acuan standar kompetensi internasional bagi penyedia layanan kelautan”, tandas Faisal.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG sekaligus Vice President of Services Commission (SERCOM), Ardhasena Sopaheluwakan, menyampaikan bahwa SERCOM mengandalkan komite teknis seperti SC-MMO untuk mengubah strategi menjadi layanan operasional. Meskipun misi SERCOM adalah memberikan arahan strategis bagi layanan di dalam WMO, di sini SC-MMO memainkan peran vital karena menghubungkan ilmu pengetahuan, praktik operasional, dan kebutuhan pengguna di bidang Layanan Meteorologi Kelautan dan Oseanografi.

”Perubahan iklim meningkatkan frekuensi dan intensitas bahaya laut, sementara aktivitas maritim terus berkembang dan menjadi semakin kompleks. Oleh karena itu, peran SC-MMO sangat penting dalam mewujudkan pedoman menjadi tindakan yang bermanfaat bagi para anggota”, ujar Ardhasena.

Selanjutnya, Chair of SC-MMO, Allison Allen, menyampaikan apresiasinya kepada BMKG atas persiapan dan dukungan untuk memastikan kegiatan SC-MMO agar berjalan dengan lancar.

”Keberhasilan pelaksanaan kegiatan SC-MMO tidak terlepas dari kontribusi aktif National Meteorological and Hydrological Services (NMHSs), dan kita dapat saling belajar banyak satu sama lain minggu ini. Saya ingin secara khusus menyoroti kepemimpinan Indonesia dalam kursus layanan meteorologi kelautan yang akan kita bahas nanti pada minggu ini”, kata Allison.

Apresiasi tersebut sejalan dengan peran BMKG yang pada pertemuan ini menyampaikan laporan pelaksanaan 2025 WMO Marine Services Course for Southeast Asia, sebagai salah satu program pengembangan kapasitas WMO untuk memperkuat kompetensi penyedia layanan meteorologi kelautan di kawasan Asia Tenggara.

Selain itu, BMKG juga mengusulkan perlunya penyusunan pedoman (guideline) WMO mengenai Marine Impact-Based Forecast sebagai acuan dalam pengembangan layanan meteorologi kelautan berbasis dampak. Usulan tersebut mendapat respons positif dari anggota SC-MMO dan dipandang sebagai salah satu isu strategis yang akan menjadi bagian dari pembahasan menuju SERCOM-5.

Lebih lanjut Allison menyampaikan, ”Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh anggota SC-MMO karena telah menyesuaikan jadwal pertemuan-pertemuan ini, karena hal ini akan memungkinkan kita untuk bekerja secara lebih efektif minggu ini dalam mempersiapkan The Commission for Weather, Climate, Hydrological, Marine, and Related Environmental Services and Applications (SERCOM)-4 yang akan diselenggarakan di Jenewa pada bulan Oktober tahun ini”, pungkasnya.

Agenda pada pertemuan SC-MMO III mencakup hal-hal berikut:
1. Laporan Chair SC-MMO dan update dari Sekretariat WMO
2. Laporan dari ex-officio members: IMO, IHO, dan IOC/JCB
3. Laporan dari subsidiary bodies (ET-CHAR, ET-MSSS, WWMIWS-SubC, dan lainnya)
4. Perencanaan strategis jangka panjang, termasuk reformasi SC-MMO, implementasi S-41X, dan kolaborasi dengan DBCP
5. Penyusunan dan review submission sebagai bahan masukan dari SC-MMO untuk pertemuan SERCOM-4 WMO mendatang.

Disela-sela agenda pertemuan, para peserta mengunjungi Gedung Multi Hazard Early Warning System (MHEWS) BMKG dan meninjau secara langsung operasional layanan peringatan dini yang mendukung penyelenggaraan layanan meteorologi, klimatologi dan geofisika dan peringatan dini kebencanaan.

Sebagai penutup, Faisal mengatakan bahwa Indonesia memandang SC-MMO sebagai platform penting untuk kolaborasi dan pertukaran pengetahuan. Dengan mengandalkan pengalaman kami, kami tetap berkomitmen untuk memberikan perspektif praktis dan memperkuat kerja sama internasional guna memajukan layanan meteorologi kelautan dan oseanografi bagi komunitas maritim global.
Pertemuan ini diharapkan mampu menghasilkan diskusi yang produktif serta tersusun rencana strategis untuk pengembangan layanan meteorologi maritim, oseanografi, dan layanan pesisir di tingkat global.

Pertemuan ini diharapkan mampu menghasilkan diskusi yang produktif serta tersusun rencana strategis untuk pengembangan layanan meteorologi maritim, oseanografi, dan layanan pesisir di tingkat global.

 

Hubungi via WhatsApp