Kembali ke Berita Utama

BMKG Sampaikan Analisis Cuaca dan Kondisi Laut untuk Dukung Evaluasi Keselamatan Pelayaran

Fahmi Dendi Saputra
BMKG Sampaikan Analisis Cuaca dan Kondisi Laut untuk Dukung Evaluasi Keselamatan Pelayaran

Jakarta, 19 Agustus 2026 – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan laporan analisis teknis kondisi cuaca dan parameter kelautan saat terjadinya sejumlah insiden kecelakaan kapal motor di empat wilayah perairan Indonesia. Laporan komprehensif tersebut dipaparkan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi V DPR RI sebagai bentuk dukungan faktual bagi proses evaluasi keselamatan pelayaran nasional.

Dalam paparannya, Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani menjelaskan bahwa analisis dilakukan untuk memberikan gambaran objektif mengenai kondisi atmosfer dan laut di sekitar lokasi kejadian, meliputi kondisi cuaca, angin, gelombang laut, serta arus permukaan.

“Data ini kami hadirkan sebagai dukungan faktual untuk mendukung proses evaluasi dan koordinasi keselamatan pelayaran,” ujarnya.

Salah satu insiden yang dianalisis adalah KMP Mutiara Sentosa II yang mengalami insiden di perairan utara Kabupaten Sumenep, Pulau Madura, pada 2 Agustus 2026 sekitar pukul 06.00–07.00 WIB.

Faisal menjelaskan, berdasarkan informasi Basarnas Command Center, lokasi kejadian berada di perairan utara Kabupaten Sumenep. BMKG sebelumnya juga telah menyebarluaskan informasi prakiraan cuaca maritim untuk wilayah tersebut kepada para pemangku kepentingan melalui berbagai kanal, antara lain media elektronik, website, media sosial, WhatsApp, dan Instagram.

Hasil analisis menunjukkan kondisi cuaca di sekitar lokasi kejadian secara umum cerah hingga berawan. Berdasarkan citra radar cuaca Surabaya pada pukul 06.03–07.33 WIB, tidak terpantau adanya hujan di sekitar lokasi kejadian.

Pada periode tersebut, angin berada pada kategori sedang hingga kencang dengan kecepatan sekitar 15–20 knot dan bertiup dari arah timur-tenggara. Sementara itu, tinggi gelombang laut berkisar 1,25–1,5 meter atau termasuk kategori sedang.

Untuk kondisi arus permukaan laut, BMKG menganalisis kecepatan sekitar 0,6–1,6 knot dengan kategori lemah hingga sedang. Arus bergerak dominan menuju arah barat hingga barat laut. Informasi arus tersebut menjadi salah satu parameter yang digunakan BMKG dalam mendukung perencanaan operasi pencarian dan pertolongan.

Dalam penanganan insiden tersebut, BMKG turut memberikan dukungan melalui rapat yang dipimpin langsung oleh Menteri Perhubungan, rapat koordinasi tindak lanjut pencarian dan pertolongan, hingga koordinasi operasi SAR gabungan.

Lebih lanjut Faisal memaparkan hasil analisis kondisi cuaca dan laut terkait insiden KMP Putri Yasmin di Pantai Sekotong, perairan Lombok, pada 12 Agustus 2026 sekitar pukul 04.15 WITA.

Berdasarkan citra satelit Himawari pada pukul 04.00 WITA, kondisi cuaca di sekitar lokasi kejadian secara umum cerah hingga berawan dan tidak terpantau adanya hujan.

Pada waktu kejadian, angin berada pada kategori sedang dengan kecepatan sekitar 5–15 knot dan bertiup dari arah tenggara. Tinggi gelombang laut berkisar 2–3 meter yang termasuk kategori sedang hingga tinggi.

Sementara itu, arus permukaan berada pada kategori kencang hingga sangat kencang dengan kecepatan sekitar 2–4 knot. Arus bergerak dominan menuju arah selatan hingga barat.

Untuk KMP Nurul Salsa, insiden terjadi di perairan Pulau Kalatoa, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, pada 15 Juli 2026 sekitar pukul 11.10 WITA.

Berdasarkan citra satelit Himawari pada pukul 11.00 WITA, kondisi cuaca di sekitar lokasi kejadian terpantau cerah hingga cerah berawan dan tidak terdapat indikasi hujan.

Kondisi angin berada pada kategori sedang dengan kecepatan sekitar 15–20 knot. Angin bertiup dari arah timur laut hingga timur. Tinggi gelombang laut berada pada kisaran 1,25–2,5 meter dan termasuk kategori sedang.

Adapun arus permukaan laut berada pada kategori kencang dengan kecepatan sekitar 0,9–1,6 knot dan bergerak dominan menuju arah barat daya hingga barat

Sementara itu, analisis juga dilakukan terhadap insiden kapal motor penumpang Prince Soya di Pelabuhan Samarinda, Kalimantan Timur, pada 1 Agustus 2026 sekitar pukul 11.00 WITA.

Berdasarkan citra satelit dan radar cuaca di sekitar Pelabuhan Samarinda, kondisi cuaca pada saat kejadian secara umum cerah hingga berawan dan tidak terpantau adanya hujan

Kondisi angin berada pada kategori lemah dengan kecepatan sekitar 4–5 knot dan bertiup dari arah timur hingga tenggara.

Secara umum, hasil analisis BMKG menunjukkan bahwa kondisi cuaca pada sejumlah lokasi kejadian didominasi kondisi cerah hingga berawan dan tidak terpantau hujan. Namun, kondisi angin, gelombang, dan arus permukaan berbeda pada masing-masing lokasi.

Faisal menekankan bahwa informasi tersebut merupakan gambaran kondisi meteorologi dan oseanografi pada waktu dan lokasi terjadinya insiden.

“Informasi ini menggambarkan kondisi meteorologi dan oseanografi pada saat, waktu, dan lokasi kejadian, dan tidak dimaksudkan untuk menetapkan penyebab terjadinya kecelakaan. Untuk penetapan penyebab kecelakaan, tentunya menjadi kewenangan lembaga yang berwenang, termasuk KNKT,” tegasnya.

Berita Utama Lainnya

BMKG Sampaikan Analisis Cuaca dan Kondisi Laut untuk Dukung Evaluasi Keselamatan Pelayaran

BMKG Sampaikan Analisis Cuaca dan Kondisi Laut untuk Dukung Evaluasi Keselamatan Pelayaran

Baca selengkapnya
STMKG Resmi Buka Penerimaan Taruna Baru Tahun 2026

STMKG Resmi Buka Penerimaan Taruna Baru Tahun 2026

Baca selengkapnya
Hubungi via WhatsApp