Palu, 19 Juni 2026 – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengerahkan tim untuk melakukan survei makroseismik dan mikrotremor guna memetakan dampak kerusakan akibat gempabumi berkekuatan M6,7 di Provinsi Sulawesi Tengah. Guncangan tektonik yang berpusat di tenggara Palu pada 16 Juni 2026 tersebut menimbulkan dampak kerusakan signifikan, terutama di Kabupaten Sigi dengan intensitas guncangan mencapai skala VII MMI.
Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG, Teguh Rahayu, menjelaskan bahwa intensitas cukup kuat tersebut memicu kerusakan pada rumah warga serta infrastruktur vital. Merespons kondisi ini, tim Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah IV Makassar bersama Stasiun Geofisika Kelas I Palu langsung bergerak cepat sejak 17 Juni 2026.
“Tim BMKG melakukan koordinasi erat dengan Pemerintah Daerah dan BPBD setempat guna mempercepat penanganan di lapangan,” kata Ayu, Jumat (19/6).
Hingga Jumat (19/6), BMKG mencatat dan memantau secara intensif sebanyak 949 aktivitas gempa bumi susulan yang terus mengguncang wilayah tersebut. Guna memperkuat penanganan taktis, Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Palu mendampingi Kepala BNPB, Bupati Sigi, dan Pangdam XXIII/Palaka Wira Sulawesi Tengah meninjau langsung lokasi bencana sekaligus melakukan sosialisasi gempa merusak kepada masyarakat.
Saat ini, tim survei BMKG memfokuskan operasi teknis pada dua agenda utama di Kota Palu dan Kabupaten Sigi. Pertama, tim melakukan survei makroseismik dengan melakukan verifikasi, identifikasi, dan dokumentasi visual terhadap tingkat kerusakan bangunan fisik di area terdampak.
Kedua, tim turut melakukan survei microtremor di mana tim menguji karakteristik jenis tanah dan memetakan kondisi bawah permukaan tanah untuk kajian seismologi teknik pascabencana.
Data sementara di lapangan menunjukkan bahwa sejumlah bangunan di Kota Palu mengalami tingkat kerusakan ringan hingga sedang. Sebaliknya, wilayah Kabupaten Sigi menghadapi dampak lebih parah dengan dominasi kerusakan sedang pada bangunan hunian dan fasilitas infrastruktur publik.
“Personel BMKG masih terus melanjutkan validasi data demi memperoleh gambaran dampak bencana yang utuh dan komprehensif,” ujarnya.
Lebih lanjut, BMKG akan mengolah seluruh hasil survei lapangan ini ke dalam sebuah laporan kajian teknis yang komprehensif. Laporan tersebut akan menjadi dokumen acuan utama bagi pemerintah dalam mengambil kebijakan pemulihan pascabencana serta merancang strategi mitigasi jangka panjang yang lebih tangguh.
Berdasarkan hasil tersebut, Ayu mengimbau seluruh masyarakat agar tetap tenang dan tidak mempercayai informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. BMKG meminta masyarakat untuk selalu menyaring informasi dan hanya memercayai pemutakhiran data resmi yang disiarkan melalui kanal komunikasi resmi BMKG.