
Kembali ke Berita
Transformasi Transmigrasi Dimulai dari Sains: BMKG Hadir dengan Layanan Cuaca, Iklim, dan Geofisika Terintegrasi
18 November 2025
Dimas Bayu Sajiwo
Berita

Jakarta, 18 November 2025 – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melakukan audiensi dengan Kementerian Transmigrasi untuk memperkuat sinergi dalam Program Transmigrasi Patriot, sebuah inisiatif pembangunan kawasan yang mengutamakan pendekatan ilmiah dan pemanfaatan teknologi. Pertemuan yang berlangsung di Kantor Pusat Kementerian Transmigrasi, Jakarta, ini menjadi langkah awal penyelarasan dukungan antar-instansi, khususnya pemanfaatan data dan layanan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (MKG) untuk kawasan transmigrasi modern.
Transmigrasi masa kini tidak hanya memindahkan penduduk, tetapi membangun pusat-pusat pertumbuhan baru berbasis sains. Karena itu, informasi iklim, cuaca, dan geofisika menjadi fondasi penting dalam penentuan lokasi, perencanaan ruang, penyediaan air dan pangan, hingga mitigasi risiko bencana di wilayah transmigrasi.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan secara komprehensif mengenai gambaran informasi meteorologi dan klimatologi yang dibutuhkan untuk mendukung pengembangan wilayah transmigrasi. Informasi tersebut mencakup:
- Data iklim bulanan, yang terdiri dari hujan, suhu, angin.
- Potensi kekeringan dan banjir yang akan mempengaruhi aktivitas di area-area transmigrasi.
- Risiko bencana hidrometeorologi.
- Penentuan lokasi kawasan baru.
“Secara umum, untuk Transmigrasi Patriot ini adalah isu peradaban, yaitu pangan, air, dan energi. Ini adalah hal-hal yang akan didukung oleh BMKG, mulai dari pengelolaan wilayah geospasial, modernisasi, dukungan komunal, pertumbuhan ekonomi, serta dukungan ke depan,” ungkap Faisal dalam sambutannya.
Selanjutnya, Faisal menekankan bahwa BMKG memiliki kemampuan menyediakan informasi ilmiah yang sangat dibutuhkan untuk perencanaan kawasan, termasuk proyeksi iklim jangka panjang dan pemetaan potensi risiko.
“Kami memberikan informasi komprehensif mengenai kondisi iklim, potensi air hujannya, proyeksi 2025, ancaman hidrometeorologi, serta tren perubahan iklim secara historis. Kami bisa memberikan layanan prediksi atau proyeksi iklim Indonesia masa depan hingga 2100,” tutur Faisal.
Selain dukungan informasi, BMKG juga mendorong penguatan sektor pangan dan ekonomi wilayah melalui Agro-Weather Impact Services, platform analisis iklim untuk produksi dan distribusi pertanian. Di bidang konektivitas kawasan transmigrasi, BMKG menghadirkan tiga platform cuaca terintegrasi, yaitu Digital Weather for Traffic (DWT), InaWIS, dan Ina-SIAM, yang menyediakan informasi cuaca real-time dan peringatan dini untuk transportasi darat, laut, dan udara.
Dukungan teknis lain seperti Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), peta seismisitas, mikrozonasi, dan Early Earthquake Warning System (EEWS) juga siap dimanfaatkan untuk memperkuat aspek keselamatan dan ketahanan wilayah transmigrasi.
Dalam kesempatan tersebut, Faisal turut menegaskan kesiapan operasional BMKG untuk mendampingi program pemerintah ini di seluruh wilayah Indonesia.
“Kami memiliki kurang lebih hampir 6.000 staf, tersebar di 191 stasiun. Ada stasiun meteorologi, klimatologi, geofisika. Jadi, di mana pun ketika ada kegiatan terkait Transmigrasi Patriot untuk Indonesia, kami ada di sana,” ujarnya.
Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara menyampaikan apresiasi atas dukungan dan kesiapan BMKG. Ia menilai bahwa pembangunan kawasan transmigrasi masa depan membutuhkan teknologi kelas tinggi dan analisis ilmiah yang kuat.
“BMKG ini salah satu institusi pemerintah yang high-tech. Nah, high-tech inilah yang memang kami butuhkan. Karena transmigrasi ke depan akan melakukan inovasi-inovasi yang membutuhkan teknologi yang lebih tinggi lagi, supaya kita semua bisa beradaptasi terhadap kemajuan,” ucapnya.
Untuk menggambarkan pentingnya pendekatan ilmiah tersebut, Iftitah mencontohkan kawasan Melolo, NTT, yang sebelumnya dianggap tidak produktif namun ternyata memiliki potensi pertanian tebu yang besar berdasarkan analisis iklim, cahaya matahari, dan ketersediaan air. Penemuan ini, menurutnya, hanya dapat diidentifikasi melalui kajian yang dilakukan oleh tenaga ahli.
Pertemuan turut dihadiri jajaran pimpinan Kementerian Transmigrasi, termasuk Sekjen Edy Gunawan; Dirjen Pengembangan Ekonomi dan Pemberdayaan Masyarakat Transmigrasi Velix Vernando Wanggai; Dirjen Pembangunan dan Pengembangan Kawasan Transmigrasi Sigit Mustofa Nurudin; Penasihat Utama Menteri Ismail Zulkarnain; serta Staf Khusus Menteri Iti Octavia Jayabaya. Dari BMKG, hadir para deputi dan pejabat teknis yang membidangi meteorologi, klimatologi, dan geofisika.







