Kembali ke Berita

Operasi Modifikasi Cuaca untuk Mitigasi Banjir, BMKG Pastikan Aman dan Berbasis Data Ilmiah

09 February 2026

Valdez Dwi

Berita

Operasi Modifikasi Cuaca untuk Mitigasi Banjir, BMKG Pastikan Aman dan Berbasis Data Ilmiah

Jakarta, 07 Februari 2026 – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai langkah mitigasi untuk menurunkan intensitas curah hujan dan mengurangi risiko banjir serta cuaca ekstrem di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Operasi ini difokuskan pada periode puncak musim hujan yang secara historis beririsan dengan meningkatnya potensi bencana hidrometeorologi.

Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG, Budi Harsoyo, menegaskan bahwa OMC merupakan upaya mitigasi yang terukur, berbasis sains, dan bukan eksperimen tanpa kendali. OMC tidak dimaksudkan untuk menghilangkan hujan, melainkan mengondisikan agar hujan tidak terkonsentrasi di satu wilayah dengan intensitas tinggi.

“Modifikasi cuaca tidak membentuk hujan dari nol. Awan dan hujan sudah ada secara alami. Kami hanya memengaruhi proses fisis di dalam awan agar hujan turun lebih cepat atau intensitasnya tidak terlalu besar,” ujar Budi.

Pernyataan tersebut sekaligus meluruskan anggapan keliru bahwa OMC mampu menghentikan hujan secara total. Tanpa keberadaan awan yang memenuhi syarat meteorologis, OMC tidak dapat dilakukan.

Belakangan, OMC kerap dikaitkan dengan fenomena cold pool yang ramai diperbincangkan di media sosial dan disebut-sebut sebagai dampak negatif penyemaian awan. BMKG menilai narasi tersebut tidak tepat secara ilmiah.

Budi menjelaskan, cold pool merupakan kolam udara dingin yang terbentuk secara alami setelah hujan dengan intensitas tinggi, ketika massa udara menjadi lebih padat dan turun ke permukaan. Fenomena ini terjadi baik pada hujan alami maupun hujan yang dipengaruhi penyemaian awan.

“Dalam hujan alami tanpa penyemaian sekalipun, cold pool pasti terbentuk. Jadi tidak logis jika modifikasi cuaca dianggap sebagai pemicu cold pool. Itu proses alamiah,” tegasnya.

BMKG juga membantah isu yang menyebut bahan semai awan berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan. Selama pelaksanaan OMC, BMKG pun telah melakukan uji kualitas air hujan, sungai, dan danau sebelum, selama, dan setelah operasi berlangsung.

“Hasil uji laboratorium menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan pada kualitas air di ketiga periode tersebut. Artinya, tidak ditemukan dampak negatif terhadap lingkungan,” kata Budi.

Bahan semai utama yang digunakan dalam OMC adalah natrium klorida (NaCl) atau garam yang berfungsi sebagai aerosol inti kondensasi untuk mempercepat proses hujan. Secara kimia, bahan ini serupa dengan aerosol alami hasil penguapan air laut dan tidak mengandung unsur penyebab hujan asam.

Tim Teknik Operasi Modifikasi Cuaca, Muhammad Aziz Lazuardi, menegaskan bahwa OMC tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan berbasis pengamatan atmosfer yang komprehensif dan pemodelan cuaca yang ketat.

Menurut Aziz, BMKG memanfaatkan berbagai instrumen pengamatan, seperti radar cuaca, satelit, radiosonde untuk mengetahui tingkat kelabilan udara, serta data arah dan kecepatan angin dari lapisan bawah hingga lapisan atas atmosfer. Informasi ini digunakan untuk memetakan arah pergerakan awan secara akurat.

“Dengan data tersebut pergerakan awan dapat dipantau secara akurat. Sehingga, pelaksanaan OMC untuk mengamankan Jakarta diupayakan tidak menimbulkan dampak buruk bagi wilayah sekitarnya, seperti Banten dan Jawa Barat,” jelas Aziz.

Ia menambahkan, dalam pelaksanaan OMC, BMKG justru berupaya menurunkan hujan di wilayah perairan, seperti perairan utara Banten atau Selat Sunda, agar suplai awan hujan tidak masuk ke wilayah daratan yang berisiko tinggi banjir.

“Wilayah yang berbatasan dengan Jakarta tidak menjadi korban dari pelaksanaan OMC. Semua dilakukan dengan perhitungan dan sesuai prosedur operasional baku,” tegasnya.

Secara umum, OMC memiliki dua tujuan utama, yakni meningkatkan curah hujan di wilayah rawan kekeringan dan mengurangi curah hujan di wilayah dengan risiko banjir tinggi seperti Jakarta. Dalam praktiknya, BMKG menerapkan dua metode utama, yaitu jumping process dan competition method, yang disesuaikan dengan fase pertumbuhan awan dan lokasi target, baik di perairan maupun daratan.

BMKG juga melakukan evaluasi dampak OMC dengan membandingkan data curah hujan, intensitas hujan ekstrem, serta kejadian banjir sebelum dan selama operasi berlangsung.

“Kami melihat apakah terjadi penurunan intensitas curah hujan, serta dampaknya terhadap luas genangan dan wilayah terdampak,” ujar Aziz.

Dari sisi pemerintah daerah, BPBD DKI Jakarta menegaskan bahwa OMC bukan solusi tunggal, melainkan bagian dari strategi mitigasi yang berjalan paralel dengan upaya struktural dan non-struktural.

Tenaga Ahli Ruang Literasi BPBD DKI Jakarta, Tika Yulianti, menyebut secara ilmiah OMC terbukti mampu menurunkan intensitas hujan hingga sekitar 33 persen.

“Bukan menghilangkan hujan, tetapi menurunkan intensitasnya agar risiko banjir dapat ditekan,” kata Tika.

BMKG dan BPBD mengimbau masyarakat untuk tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang beredar tanpa data dan konteks ilmiah, serta selalu memverifikasi informasi melalui sumber resmi.

Dengan literasi cuaca yang baik, masyarakat diharapkan tidak hanya terhindar dari hoaks, tetapi juga mampu memahami bahwa teknologi seperti OMC hadir berirama dengan pemerintah untuk menjaga serta memitigasi risiko di tengah ancaman cuaca ekstrem akibat perubahan iklim, bukan sebagai ancaman bagi lingkungan maupun wilayah lain.

 

Berita Lainnya

Operasi Modifikasi Cuaca untuk Mitigasi Banjir, BMKG Pastikan Aman dan Berbasis Data Ilmiah

Operasi Modifikasi Cuaca untuk Mitigasi Banjir, BMKG Pastikan Aman dan Berbasis Data Ilmiah

Stasiun Geofisika Sleman Lakukan Survei Cepat Dampak Gempa Pacitan M6,2 di Bantul dan Pacitan

Stasiun Geofisika Sleman Lakukan Survei Cepat Dampak Gempa Pacitan M6,2 di Bantul dan Pacitan

BMKG Perkuat Mitigasi Bencana Lewat Inovasi Radar Cuaca Non-Polarimetrik Karya Anak Bangsa

BMKG Perkuat Mitigasi Bencana Lewat Inovasi Radar Cuaca Non-Polarimetrik Karya Anak Bangsa