Kembali ke Berita Kegiatan

Workshop WETSA ke-3, BMKG dan BoM Australia Perkuat Kolaborasi Layanan Iklim

Linda
Workshop WETSA ke-3, BMKG dan BoM Australia Perkuat Kolaborasi Layanan Iklim

Jakarta, 28 April 2026 – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Kedeputian Bidang Klimatologi menyelenggarakan Workshop Weather for Energy Transition in Southeast Asia (WETSA) ke-3 di Gedung B Kantor Pusat BMKG, Jakarta. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari pada 27–28 April 2026 ini merupakan bagian dari kolaborasi antara BMKG dan Bureau of Meteorology (BoM) Australia dalam mendukung pengembangan layanan informasi iklim untuk sektor energi terbarukan di Indonesia.

Workshop dibuka oleh Direktur Layanan Iklim Terapan BMKG, Marjuki, serta dihadiri oleh tim ahli BoM, perwakilan Kedutaan Australia, tim teknis BMKG, dan pemangku kepentingan sektor energi. Delegasi BoM yang hadir antara lain David McQueen selaku Energy Sector Lead, Liz Hagbjer selaku Engagement Lead, Rick Ziukelis sebagai Project Manager, Leon Majewski sebagai Team Leader Satellite Science untuk WP1, Jannatun Nahar untuk WP3 Reliability Assessments, serta Ben Price sebagai Innovation Lead untuk WP4 Machine Learning Short-Term Weather Forecasts. Kegiatan ini juga dihadiri perwakilan Kedutaan Australia, Christopher Bloomfield dari Department of Climate Change, Energy, The Environment and Water Australia.

Workshop dibuka oleh Direktur Layanan Iklim Terapan BMKG, Marjuki, serta dihadiri oleh tim ahli BoM, perwakilan Kedutaan Australia, tim teknis BMKG, dan pemangku kepentingan sektor energi, termasuk PT PLN. Kegiatan tersebut menjadi forum strategis untuk memperkuat sinergi lintas sektor dalam pemanfaatan data cuaca dan iklim bagi pengelolaan energi yang lebih adaptif.

Dalam sambutannya, Marjuki menegaskan bahwa kebutuhan layanan cuaca dan iklim untuk sektor energi terus meningkat seiring berkembangnya pemanfaatan energi terbarukan dan target nasional menuju net zero emission.

“Tuntutan kebutuhan layanan cuaca dan iklim untuk sektor energi terus meningkat seiring berkembangnya pemanfaatan energi terbarukan  dan target nasional untuk Indonesia Net Zero Emission,” ujar Marjuki.

Ia menambahkan bahwa penguatan layanan iklim tidak hanya penting dalam mendukung perencanaan energi, tetapi juga berperan dalam meningkatkan efisiensi operasional serta ketahanan sistem energi terhadap variabilitas cuaca dan iklim.

Melalui program WETSA, BMKG dan BoM mengembangkan berbagai pendekatan ilmiah dan teknologi untuk mendukung sektor energi, khususnya energi surya, angin, dan hidro. Dalam workshop ini, tim BMKG memaparkan perkembangan sejumlah work package (WP), antara lain implementasi model nowcasting radiasi surya di Indonesia, verifikasi model prakiraan energi angin, serta kajian reliability assessment berbasis data iklim dan kebutuhan energi.

Sementara itu, tim BoM Australia memaparkan perkembangan kolaborasi teknis yang telah dilakukan bersama BMKG, termasuk penguatan kapasitas prediksi cuaca dan iklim yang lebih relevan dengan kebutuhan sektor energi nasional.

Salah satu agenda penting dalam workshop ini adalah pengenalan Work Package 4 (WP4) yang berfokus pada pengembangan prakiraan cuaca jangka pendek berbasis machine learning. Inovasi ini diharapkan dapat meningkatkan akurasi prediksi untuk mendukung operasional energi terbarukan, khususnya tenaga surya.

Marjuki juga menjelaskan potensi penerapan Dynamic Line Ratings (DLR), yaitu metode pengelolaan kapasitas jaringan transmisi listrik secara dinamis berdasarkan kondisi cuaca aktual.

“Dengan dukungan prakiraan cuaca yang lebih presisi, DLR memungkinkan optimalisasi kapasitas jaringan, mengurangi risiko kongesti, serta memperkuat integrasi energi terbarukan,” jelasnya.

Lebih lanjut, implementasi DLR dinilai memerlukan kolaborasi erat antara penyedia data meteorologi, operator sistem transmisi dan distribusi, pengelola pembangkit energi terbarukan, serta utilitas ketenagalistrikan. Pendekatan ini juga berpotensi menjadi alternatif yang lebih efisien dibandingkan pembangunan jaringan transmisi baru pada kondisi tertentu.

Selain sebagai forum pertukaran pengetahuan dan penguatan kapasitas teknis, workshop ini juga menghasilkan sejumlah rekomendasi tindak lanjut. Di antaranya adalah penguatan transfer pengetahuan antara BMKG dan BoM, pengembangan layanan prakiraan energi berbasis kebutuhan pengguna, serta peningkatan pola keterlibatan jangka panjang dengan pemangku kepentingan sektor energi.

Melalui kolaborasi WETSA, BMKG dan BoM diharapkan dapat terus memperkuat pengembangan layanan iklim berbasis sains dan teknologi guna mendukung agenda transisi energi di Indonesia. Upaya ini diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata dalam mendorong pemanfaatan energi terbarukan yang lebih andal, efisien, dan berkelanjutan.

Hubungi via WhatsApp