Jakarta, 10 Juni 2026 – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menerima kunjungan peserta AHA Centre Executive Leadership in Emergency and Disaster Management for ASEAN Programme (ACE-LEDMP) Phase II Junior Executive Level Third Batch 2026 di Kantor Pusat BMKG, Jakarta, Rabu (10/6).
Kunjungan yang diikuti oleh 22 peserta dari negara-negara ASEAN ini bertujuan meningkatkan pemahaman mengenai peran BMKG dalam mendukung kesiapsiagaan bencana melalui sistem peringatan dini cuaca, iklim, gempa bumi, dan tsunami yang menjadi bagian penting dalam manajemen bencana di kawasan.
Dalam kegiatan tersebut, para peserta meninjau langsung operasional Multi-Hazard Early Warning System (MHEWS) dan memperoleh penjelasan mengenai mekanisme pemantauan, komunikasi, serta penyebarluasan informasi peringatan dini yang dilakukan BMKG kepada pemerintah, pemangku kepentingan, dan masyarakat.
Pada sesi meteorologi, perwakilan Direktorat Meteorologi Publik BMKG, Fajar Ridzki, memaparkan sistem pengamatan meteorologi yang didukung oleh jaringan stasiun pengamatan cuaca, radar cuaca, satelit, serta berbagai instrumen pengamatan yang tersebar di seluruh Indonesia. Seluruh data tersebut diintegrasikan secara real-time untuk mendukung penyusunan prakiraan cuaca dan peringatan dini cuaca ekstrem.
“Data yang kami peroleh dari berbagai instrumen pengamatan yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia digunakan untuk memantau kondisi atmosfer secara berkelanjutan sehingga peringatan dini dapat disampaikan secara cepat, tepat, dan akurat kepada masyarakat maupun pemangku kepentingan,” ujar Fajar.
Selanjutnya, Koordinator Bidang Analisis Perubahan Iklim BMKG, Kadarsah, menjelaskan peran informasi iklim dalam mendukung pengurangan risiko bencana dan perencanaan pembangunan yang berkelanjutan. Ia menekankan bahwa perubahan iklim telah meningkatkan frekuensi dan intensitas kejadian cuaca ekstrem di berbagai wilayah.
“Perubahan iklim telah meningkatkan frekuensi dan intensitas cuaca ekstrem di berbagai wilayah. Karena itu, informasi iklim menjadi dasar penting dalam perencanaan pembangunan, pengelolaan sumber daya, serta pengurangan risiko bencana. BMKG terus memperkuat layanan informasi iklim agar dapat dimanfaatkan secara efektif oleh masyarakat dan pemerintah,” jelas Kadarsah.
Pada sesi geofisika, diwakili oleh Bayu Pranata sebagai Penanggung Jawab Diseminasi Informasi Gempa bumi dan peringatan dini tsunami beliau memaparkan sistem pemantauan gempa bumi dan tsunami yang dioperasikan BMKG, termasuk mekanisme penyusunan informasi geofisika serta penyampaian peringatan dini untuk mendukung upaya mitigasi bencana geologi di Indonesia.
Perwakilan peserta ACE-LEDMP dari Mondulkiri Provincial Committee for Disaster Management (PCDM), Kamboja, Ms. Rath Chanleakhena, menyampaikan apresiasinya atas kesempatan belajar langsung dari BMKG.
“Merupakan suatu kehormatan bagi kami dapat mengunjungi BMKG. Kami percaya kerja sama regional dan pertukaran pengetahuan merupakan fondasi penting dalam membangun komunitas ASEAN yang tangguh terhadap bencana,” ujarnya.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kolaborasi dan pertukaran pengetahuan antarnegara ASEAN dalam bidang meteorologi, klimatologi, geofisika, dan manajemen bencana. Melalui sinergi yang semakin erat antara BMKG dan AHA Centre, diharapkan kapasitas kesiapsiagaan dan sistem peringatan dini di kawasan ASEAN dapat terus ditingkatkan guna menghadapi berbagai risiko bencana di masa depan.