Kembali ke Berita Kegiatan

Belajar Seru di BMKG, Siswa Hope Intercultural School Dalami Ilmu Cuaca, Gempabumi-Tsunami

Annisa Amalia Zahro
Belajar Seru di BMKG, Siswa Hope Intercultural School Dalami Ilmu Cuaca, Gempabumi-Tsunami

Jakarta, 14 April 2026 — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menerima kunjungan siswa Hope Intercultural School dalam rangka meningkatkan pemahaman mengenai gempabumi, tsunami, dan cuaca. Suasana hangat dan penuh antusiasme terlihat dari para siswa dan guru yang hadir.

Kegiatan diawali dengan sesi storytelling edukatif mengenai gempabumi dan tsunami. Melalui pendekatan storytelling yang komunikatif, siswa diperkenalkan pada konsep dasar terjadinya gempabumi dan tsunami serta pentingnya memahami langkah-langkah mitigasi bencana sejak dini.

Mengunjungi Taman Alat Meteorologi, para siswa diperkenalkan dengan berbagai alat pemantau cuaca yang digunakan oleh BMKG dalam mendukung pengamatan atmosfer secara real-time. Dipandu oleh Nazmi Nariyah Tamara dan Nadiah Al Habsyi, para siswa mendapatkan penjelasan mengenai fungsi dan cara kerja sejumlah instrumen penting, seperti sangkar meteorologi untuk mengukur temperatur udara, penakar hujan Hellman dan penakar hujan OBS untuk mengetahui jumlah curah hujan, panci penguapan untuk mengukur tingkat evaporasi, serta campbell stokes yang mencatat lama penyinaran matahari.

Para siswa juga berkesempatan mencoba simulasi getaran gempa dengan berbagai skenario kekuatan dan jarak terhadap pusat gempa. Kegiatan di simulator dipandu oleh Silvie Farahdila dan Wakhidatun Nisa, disertai penjelasan mengenai karakteristik gempabumi dan dampak yang dapat ditimbulkan. Melalui simulasi ini, siswa memperoleh gambaran nyata mengenai situasi saat terjadi gempa, sekaligus memahami pentingnya kesiapsiagaan dan langkah penyelamatan diri.

Syafira Ajeng Aristy dan Desta Suci Fitriani dari Direktorat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG melengkapi sesi kunjungan dengan menjelaskan proses terjadinya gempabumi, potensi tsunami, karakteristik gempabumi, serta langkah-langkah mitigasinya.

“Gempabumi terjadi akibat pergerakan lempeng tektonik yang berlangsung secara tiba-tiba, sehingga menimbulkan retakan pada lapisan batuan di dalam bumi. Ketika lempeng tersebut patah, energi yang tersimpan akan dilepaskan. Energi yang dilepaskan inilah yang menyebabkan terjadinya gempabumi,” jelas Syafira.

Sedangkan, Jaler Gumawang dari Direktorat Meteorologi Publik memperkenalkan berbagai kondisi cuaca seperti cerah, cerah berawan, berawan, hujan, hingga hujan disertai petir. Informasi cuaca ini berperan sangat penting dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari membantu merencanakan aktivitas, mendukung sektor pertanian dan transportasi, hingga sebagai upaya mitigasi bencana.

Dijelaskan pula konsep cuaca ekstrem, yaitu kondisi cuaca yang tidak biasa dan berpotensi menimbulkan kerugian serta membahayakan keselamatan jiwa dan harta benda. Cuaca ekstrem dapat menyebabkan berbagai dampak, seperti banjir, tanah longsor, pohon tumbang, kerusakan atap, kekeringan, jalan licin, hingga terbatasnya jarak pandang.

“Cuaca ekstrem adalah kondisi cuaca yang tidak normal atau berada di luar kebiasaan pada umumnya. Cuaca ekstrem sering terjadi pada musim hujan atau pada masa peralihan dari musim kemarau ke musim hujan,” jelas Jaler.

Lebih lanjut, penting untuk mengambil mitigasi bencana hidrometeorologi sedini mungkin, seperti mengenali jenis cuaca ekstrem, menjaga kesehatan, merawat lingkungan, serta rutin memantau informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini dari BMKG sebelum melakukan aktivitas.

Hubungi via WhatsApp