Jakarta, 11 Juni 2026 – Puluhan siswa SMPI Modern Al-Fakhir mengunjungi kantor pusat Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) di Jakarta. Dalam kunjungan dua hari, 10–11 Juni 2026, para siswa memperdalam pemahaman mengenai cuaca, gempa bumi, dan tsunami.
Kegiatan diawali dengan mengunjungi sejumlah titik edukasi, yaitu Simulator Gempa Bumi, Taman Alat Meteorologi, serta Museum Geofisika. Setelah menjelajahi seluruh titik tersebut, para siswa mengikuti sesi pemaparan materi utama mengenai cuaca, gempa bumi, dan tsunami di Ruang Media Center, Gedung C lantai 1 BMKG.
Di Taman Alat Meteorologi, para siswa diperkenalkan dengan sejumlah instrumen pengukur unsur cuaca yang digunakan BMKG. Radyan Dayu dari Direktorat Meteorologi Penerbangan BMKG menjelaskan fungsi alat-alat, seperti sangkar meteorologi dalam sangkar meteorologi, panci penguapan, campbell stokes, hingga penakar hujan untuk mengetahui kondisi atmosfer.
“Dalam sangkar meteorologi terdapat termometer bola basah yang digunakan untuk mengukur kelembapan udara dan termometer bola kering untuk mengukur suhu udara. Sangkar ini berfungsi melindungi termometer agar pengukuran tidak terganggu angin, hujan, dan radiasi matahari secara langsung,” jelas Radyan di Jakarta, Selasa (10/6).
Lebih lanjut, Hifdiyawan dari Meteorologi Publik BMKG menjelaskan bahwa prakiraan cuaca disusun berdasarkan data hasil pengamatan berbagai unsur, seperti suhu udara, kelembapan udara, curah hujan, dan kecepatan angin. Data tersebut kemudian diolah dan dianalisis oleh prakirawan untuk menghasilkan informasi cuaca yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
Sementara itu, Haqqul Fahmi dari Direktorat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG menjelaskan bahwa gempa bumi terjadi akibat pergerakan lempeng tektonik yang saling bergeser, bertumbukan, atau menjauh sehingga menimbulkan getaran di permukaan bumi. Dalam kondisi tertentu, gempa bumi juga dapat memicu terjadinya tsunami.
“Karena kejadian cuaca, gempa bumi, maupun tsunami dapat terjadi kapan saja, BMKG bekerja selama 24 jam sehari dan 365 hari dalam setahun untuk memberikan informasi kepada masyarakat,” Tambah Hifdyawan.
Ketika bencana terjadi, suasananya bisa sangat genting dan kaos. Maka dari itu, penting untuk meningkatkan kesiapsiagaan dengan menyiapkan tas siaga yang berisi perlengkapan penting untuk digunakan saat kondisi darurat.
“Tas siaga membantu kita supaya tidak kebingungan yang berakibat terlambat evakuasi, serta tidak membawa barang yang berlebihan atau tidak perlu,” jelasnya.
Melalui kegiatan kunjungan edukasi ini, diharapkan siswa SMPI Modern Al-Fakhir dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai cuaca, gempa bumi, tsunami, serta pentingnya mitigasi bencana sebagai upaya mengurangi risiko dan dampak bencana di masa mendatang. (ISS)