Jakarta, 1 April 2026 – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menerima kunjungan resmi Executive Secretary Comprehensive Nuclear-Test-Ban Treaty Organization (CTBTO), Robert Floyd, di Kantor Pusat BMKG, Jakarta, Rabu (1/4/2026). Kunjungan ini merupakan bagian dari rangkaian kunjungan Executive Secretary CTBTO ke wilayah Asia Pasifik dalam rangka peringatan 30 tahun CTBT, sebagai upaya memperkuat komitmen negara penandatangan CTBT terhadap perlucutan senjata dan non-proliferasi, meningkatkan kesadaran masyarakat, serta mendorong pemberlakuan Traktat CTBT.
Dalam rangka kunjungan tersebut, Robert Floyd bersama dengan delegasi CTBTO telah melakukan kunjungan lapangan ke Stasiun International Monitoring System (IMS) di Lembang, Jawa Barat pada Senin (30/3/2026) didampingi oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Wina, perwakilan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Wina, Republik Austria, serta perwakilan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia.
Dalam sambutannya, Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menyampaikan bahwa kerja sama dengan CTBTO memiliki arti strategis bagi penguatan kapasitas nasional, khususnya dalam pengembangan teknologi geofisika yang mendukung mitigasi bencana dan pemantauan seismik global.
“BMKG sangat menghargai dukungan CTBTO, termasuk pembaruan teknologi pada fasilitas pemantauan yang kami operasikan. Pertemuan ini menjadi ruang penting untuk membahas prioritas kerja sama ke depan sekaligus meningkatkan kapasitas teknis Indonesia,” ujar Faisal.
Ia menegaskan, sejak Indonesia meratifikasi Comprehensive Nuclear-Test-Ban Treaty pada tahun 2012, BMKG terus berperan aktif dalam mendukung sistem verifikasi internasional melalui pengoperasian enam stasiun seismik yang terintegrasi dengan jaringan pemantauan global CTBTO.
Enam stasiun tersebut berada di Jayapura, Sorong, Parapat, Kappang, Baumata Timur, dan Lembang. Selain mengirimkan data ke pusat internasional CTBTO di Wina, data seismik dari stasiun tersebut juga dimanfaatkan BMKG untuk memperkuat sistem peringatan dini tsunami nasional atau Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS).
Dalam pertemuan tersebut, diskusi juga menyoroti pengembangan Earthquake Early Warning System (EEWS) atau sistem peringatan dini gempa bumi di Indonesia. Menjawab pertanyaan delegasi CTBTO mengenai kecepatan penyebaran informasi kepada masyarakat, Faisal menjelaskan bahwa BMKG saat ini memanfaatkan berbagai kanal diseminasi, termasuk aplikasi InfoBMKG dan layanan pesan singkat.
“Kami memiliki aplikasi yang digunakan secara nasional. Ketika notifikasi diaktifkan, sistem dapat memberikan peringatan segera setelah gelombang primer terdeteksi, sehingga masyarakat memiliki waktu untuk melakukan langkah antisipasi,” jelasnya.
Selain melalui aplikasi, BMKG juga mengembangkan skema SMS blasting sebagai jalur komunikasi darurat, meskipun implementasinya menghadapi tantangan tersendiri karena cakupan wilayah Indonesia yang luas dan jumlah penduduk yang besar.
“Pengiriman SMS darurat memerlukan dukungan biaya yang besar serta sangat bergantung pada kondisi geografis dan ketersediaan jaringan telekomunikasi di daerah terdampak,” tambah Faisal.
Pada kesempatan yang sama, Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, menjelaskan bahwa dukungan peralatan dari CTBTO sangat membantu penguatan fungsi National Data Center Indonesia.
Menurutnya, BMKG telah menerima hibah perangkat server, workstation, serta sistem pendukung operasional yang digunakan untuk validasi data seismik dari jaringan CTBTO global.
“Peralatan dari CTBTO telah kami instal di fasilitas komputasi BMKG dan sangat penting untuk mendukung validasi data dari stasiun-stasiun pemantauan internasional,” jelas Nelly.
Setelah mendengarkan pemaparan teknis dan meninjau fasilitas operasional Indonesia, Robert Floyd menyampaikan apresiasi atas kontribusi Indonesia khususnya BMKG dalam sistem pemantauan global.
“BMKG telah memberikan kontribusi yang sangat signifikan, tidak hanya dalam melindungi masyarakat Indonesia dari ancaman gempa bumi dan tsunami, tetapi juga dalam membantu dunia mendeteksi aktivitas nuklir secara global,” ujar Floyd.
Ia menambahkan, data dari stasiun BMKG telah berkontribusi dalam mendeteksi berbagai aktivitas seismik penting, termasuk enam uji coba nuklir yang pernah dilakukan Korea Utara. Seluruh data tersebut dikirim melalui satelit ke Pusat Data Internasional CTBTO di Wina untuk dianalisis dan dibagikan kepada negara-negara anggota.
Melalui kerja sama yang terus berkembang ini, BMKG berharap transfer teknologi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, dan penguatan sistem analisis data geofisika dapat semakin memperkokoh kontribusi Indonesia dalam mendukung keamanan global serta perlindungan masyarakat dari risiko bencana.