Kembali ke Berita

Eksplorasi BMKG, Siswa SMA Paradisa Cendekia Pahami Pentingnya Ilmu Cuaca, Iklim, Gempabumi-Tsunami

06 February 2026

Annisa Amalia Zahro

Berita

Eksplorasi BMKG, Siswa SMA Paradisa Cendekia Pahami Pentingnya Ilmu Cuaca, Iklim, Gempabumi-Tsunami

Jakarta, 06 Februari 2026 – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menerima kunjungan siswa SMA Paradisa Cendekia untuk memperdalam pengetahuan mengenai sistem peringatan dini gempabumi, tsunami, cuaca, dan iklim.

Kunjungan diawali dengan eksplorasi Galeri B.A.I.K. Begitu masuk ke dalam galeri, para siswa menyebar dalam kelompok-kelompok kecil untuk mengenal berbagai alat pengamatan cuaca dan iklim, seperti alat ukur radiasi, curah hujan, dan alat instrumen iklim lainnya. Mereka didampingi oleh para petugas yang turut memberikan penjelasan tentang siklus hidrologi, informasi iklim, serta kualitas udara.

Rangkaian kunjungan dilanjutkan ke Taman Alat Meteorologi yang juga mendapat respons positif dari para siswa. Berbagai pertanyaan dilontarkan terkait fungsi dan cara kerja alat-alat meteorologi yang ditampilkan. Di antaranya adalah sangkar meteorologi untuk mengukur suhu, evaporimeter untuk mengukur tingkat penguapan harian, anemometer untuk mengukur arah dan kecepatan angin, campbell stokes untuk mengukur lama penyinaran matahari, serta alat penakar hujan OBS guna mengetahui besaran curah hujan.

Para siswa kemudian berkesempatan mencoba simulator gempabumi yang memperagakan getaran gempa kekuatan M7 dari jarak jauh hingga dekat dengan pusat gempa. Dalam sesi ini juga dijelaskan bahwa data gelombang gempabumi dimanfaatkan oleh BMKG untuk mendeteksi patahan, mengetahui jenis patahan, mengetahui daerah rawan yang terdampak gempabumi, mengetahui gambaran permukaan bawah, mengetahui ukuran besaran dan letak gempa, hingga mengetahui potensi terjadinya tsunami setelah gempabumi terjadi.

Pada sesi pemaparan materi, Oktavia Dameria Panjaitan dari Tim Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami sebagai pemateri pertama menyampaikan materi mengenai potensi gempabumi Jabodetabek serta langkah-langkah untuk meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi gempabumi dan tsunami. Oktavia menjelaskan bahwa gempabumi terjadi akibat pergerakan lempeng yang saling bertabrakan hingga mengalami patahan serta melepaskan energi dalam getaran dan gelombang ke segala arah. Berdasarkan karakteristiknya, gempabumi terjadi dalam waktu singkat, terjadi di lokasi tertentu, berpotensi terulang, belum dapat diprediksi secara pasti, dan tidak dapat dicegah, tetapi dampaknya dapat dikurangi.

“Efek gempabumi harus diwaspadai karena dapat menghasilkan beberapa dampak ikutan atau bencana lain, seperti longsoran, likuifaksi atau tanah menjadi lunak dan dapat bergerak, serta kebakaran yang dipicu saat gempabumi merusak gas atau aliran listrik.” jelas Oktavia.

Kemudian, para siswa diperlihatkan peta sumber gempabumi sesar aktif di Jakarta dan sekitarnya, yang menunjukkan kedekatan wilayah DKI Jakarta dengan Sesar Baribis, Sesar Lembang, dan Sesar Cimandiri. Perlu diketahui bahwa gempabumi bermagnitudo lebih dari 7.0, dengan titik pusat di laut dan kedalaman dangkal serta memiliki patahan vertikal, berpotensi besar menyebabkan tsunami.

Ketika mengeluarkan peringatan dini tsunami pascagempabumi, terdapat tiga level ancaman berdasarkan tinggi gelombangnya. Level waspada artinya tsunami yang akan datang setinggi 0,5 meter, level siaga artinya setinggi 0,5-3 meter, dan level awas berarti gelombang tsunami melebihi 3 meter.

“Ketika gempabumi menghasilkan potensi tsunami, apa yang BMKG lakukan? BMKG akan melakukan 4 tahap peringatan dini. Dimulai dari peringatan dini 1 yang berisi informasi gempabumi dengan informasi adanya potensi tsunami. Lalu peringatan dini 2 berisi pemutakhiran informasi dengan parameter gempabumi, waktu tibanya, dan ketinggian tsunami. Kemudian peringatan dini 3 merupakan pemutakhiran informasi daerah yang terdampak,” paparnya.

Hingga pada akhirnya peringatan dini 4 menyatakan informasi bahwa bahaya tsunami akibat gempabumi yang terjadi sudah berakhir. Demikian itu, BMKG tidak hanya mengeluarkan peringatan dini potensi tsunami saja, tetapi terus memantau dan menginformasikan kepada masyarakat hingga akhir.

Menutup pemaparannya, Oktavia menekankan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi gempabumi dan tsunami melalui pemahaman tentang tanda-tanda tsunami atau gempabumi, pengenalan area sekitar, pemahaman rute evakuasi, penataan rumah yang aman, kesiapan tas siaga bencana, serta pemahaman langkah-langkah penyelamatan diri.

“Karena tidak bisa dicegah dan diprediksi, kita harus tahu apa yang paling utama dilakukan ketika tiba-tiba terjadi gempabumi dan tsunami, yaitu melindungi diri terlebih dahulu. Sebagai contoh, apabila kita berada di dalam ruangan dan tidak sempat keluar, lindungi kepala dengan benda yang ada dan tetap tenang. Jika ada di luar ruangan, perhatikan tempat kita berpijak dan hindari bangunan tinggi. Lalu saat tsunami, lakukan evakuasi ke tempat tinggi dan jangan kembali ke arah pantai sebelum dinyatakan aman oleh pihak berwenang.” jelas Oktavia.

Berlanjut ke materi kedua, Jaler Gumawang dari Direktorat Meteorologi Publik memaparkan sistem peringatan dini atau Meteorological Early Warning System (MEWS) yang dimiliki BMKG. Jaler menjelaskan perbedaan antara meteorologi sebagai ilmu yang mempelajari fenomena atmosfer dan cuaca sebagai kondisi fisik atmosfer pada suatu wilayah dalam waktu yang relatif singkat.

“Kita perlu mewaspadai cuaca ekstrem yang dapat menyebabkan terjadinya bencana. Cuaca ekstrem merupakan kejadian cuaca tidak normal dan tidak lazim yang dapat menyebabkan kerugian terutama terhadap keselamatan jiwa serta harta. Contohnya, hujan lebat disertai kilat petir dan angin kencang, kabut tebal yang dapat menyebabkan kecelakaan, cuaca cerah ekstrem atau cuaca saat matahari benar-benar panas, hingga kemarau panjang.” Jelas Jaler.

Jaler menjelaskan peran BMKG melalui MEWS memprakirakan cuaca ekstrem dengan memanfaatkan berbagai alat seperti radar cuaca, stasiun lokal yang tersebar di seluruh Indonesia dan saling berkoordinasi, Radiosonde Observations Stations, Automatic Rain Gauge (ARG) dan Automatic Weather Station (AWS), serta Weather Radar. Ia juga menyampaikan bahwa proses produksi prakiraan cuaca dimulai dari pengamatan, analisis, produksi, hingga diseminasi informasi cuaca melalui aplikasi InfoBMKG dan media sosial resmi BMKG.

“Prakiraan cuaca yang dihasilkan BMKG sudah diusahakan mendekati 100 persen akurat, namun dalam praktiknya kami selalu menuliskan kondisi yang paling berisiko,” jelas Jaler. “Misalnya, kami memprakirakan hujan meskipun kondisi aslinya tampak cerah, karena data yang kami dapatkan menunjukkan adanya potensi hujan meskipun hanya berlangsung singkat di hari yang cerah itu,” tambahnya.

Antusiasme para siswa SMA Paradisa Cendekia terlihat dari berbagai berbagai pertanyaan yang diajukan kepada para ahli tersebut. Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat pemahaman dan kesiapsiagaan siswa terhadap ilmu cuaca, iklim, serta gempabumi dan tsunami.

Berita Lainnya

Stasiun Geofisika Sleman Lakukan Survei Cepat Dampak Gempa Pacitan M6,2 di Bantul dan Pacitan

Stasiun Geofisika Sleman Lakukan Survei Cepat Dampak Gempa Pacitan M6,2 di Bantul dan Pacitan

BMKG Perkuat Mitigasi Bencana Lewat Inovasi Radar Cuaca Non-Polarimetrik Karya Anak Bangsa

BMKG Perkuat Mitigasi Bencana Lewat Inovasi Radar Cuaca Non-Polarimetrik Karya Anak Bangsa

Cuaca Ekstrem Dampak Nyata Perubahan Iklim, BMKG Tekankan Pentingnya Penguatan Peringatan Dini dan Kolaborasi

Cuaca Ekstrem Dampak Nyata Perubahan Iklim, BMKG Tekankan Pentingnya Penguatan Peringatan Dini dan Kolaborasi