Kembali ke Berita Daerah

BMKG Soroti Kerentanan Pesisir Baubau, Dorong Mitigasi Gempa Bumi hingga Banjir Rob

Annisa Amalia Zahro
BMKG Soroti Kerentanan Pesisir Baubau, Dorong Mitigasi Gempa Bumi hingga Banjir Rob

Baubau, 25 Juni 2026 – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendorong kesiapsiagaan masyarakat menghadapi potensi gempa bumi, tsunami, hingga banjir rob di wilayah pesisir Kota Baubau, Sulawesi Tenggara. Mengingat, Baubau menyimpan potensi gempa bumi berkekuatan maksimal magnitudo 7,0 dari Sesar Buton B dan termasuk dalam zona risiko tsunami dari Laut Flores.

Kepala Stasiun Meteorologi Betoambari Baubau, Hadi Setiawan, membekali warga dengan rumus evakuasi mandiri “20-20-20”. Secara gamblang dijelaskannya bahwa guncangan gempa lebih dari 20 detik merupakan sinyal bahaya primer.

“Warga memiliki perkiraan waktu emas selama 20 menit sebelum potensi tsunami lokal tiba. Segera evakuasi menuju dataran dengan ketinggian minimal 20 meter dari permukaan laut,” jelas Hadi pada Pelatihan Keluarga Tanggap Bencana Alam Baubau Tahun 2026 di Kecamatan Batupoaro, Kota Baubau, Kamis (25/6).

Hadi menuturkan agar warga menguasai rumus ini untuk mengatasi kepanikan di tengah situasi darurat. Menurutnya, panik di awal gempa adalah hal manusiawi, asalkan tidak sampai menguasai pikiran.

Lebih lanjut, Hadi mengingatkan kembali pentingnya infrastruktur peringatan dini untuk menunjang keselamatan masyarakat. BMKG pun sangat menyayangkan hilangnya grounding alat pendeteksi tsunami di belakang Masjid Islamic Center Baubau akibat pencurian, serta aksi coret-coret pada papan peringatan tsunami di Kotamara.

Di sisi lain, dinamika atmosfer di Kecamatan Batupoaro yang berbatasan langsung dengan Selat Buton sangat rentan terhadap kombinasi cuaca buruk. Hujan lebat yang berbarengan dengan fenomena pasang laut tinggi (spring tide) serta hantaman gelombang dapat memicu banjir rob yang sangat parah, berkaca pada insiden serupa yang pernah menyapu pesisir Buton Selatan hingga Baubau pada Februari 2022 lalu.

Maka dari itu, Wakil Wali Kota Baubau, Wa Ode Hamsinah Bolu, menekankan bahwa kerentanan bencana di wilayahnya harus dihadapi dengan kesiapsiagaan bersama. Di tengah kekhawatiran yang ada, upaya mitigasi dan kesiapsiagaan perlu dikampanyekan demi menekan angka terdampak bencana maupun angka kerugian yang ditimbulkan.

“Penanggulangan bencana adalah tanggung jawab bersama. Oleh karena itu, saya secara pribadi sangat mendukung terselenggaranya kegiatan pada hari ini untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan ilmu pengetahuan tentang kebencanaan yang dimulai dari ruang lingkup terkecil, yaitu keluarga,” tutur Hamsinah pada sambutannya yang diwakili Kepala Pelaksana BPBD Kota Baubau, La Ode Muslimin Hibali.

Pelatihan Keluarga Tanggap Bencana Alam Baubau diselenggarakan oleh BPBD Kota Baubau di Aula Kantor Kecamatan Batupoaro, Kota Baubau. Kegiatan ini digelar sebagai bagian dari upaya pencegahan dan kesiapsiagaan bencana, mengingat Kota Baubau termasuk daerah yang rentan terhadap delapan jenis bencana, mulai dari banjir, kekeringan, tanah longsor, gempa bumi, cuaca ekstrem, gelombang ekstrem, abrasi, hingga kebakaran.

Turut melengkapi materi komprehensif dari BMKG, unsur TNI dan Palang Merah Indonesia (PMI) juga hadir memberikan pembekalan teknik penyelamatan dan pertolongan pertama sehingga masyarakat semakin siap dan tangguh menghadapi ancaman bencana di wilayahnya.

Dengan menyasar 120 orang perwakilan warga yang terdiri atas unsur RW, RT, LPM, Karang Taruna, dan PKK se-Kecamatan Batupoaro, para peserta diharapkan menjadi garda terdepan dalam meneruskan kampanye mitigasi keselamatan hingga ke tingkat akar rumput.

Penulis: Laode Nurdiansyah
Stasiun Meteorologi Betoambari Baubau

Hubungi via WhatsApp