Bantul, 25 Mei 2026 — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Sleman turut berpartisipasi dalam kegiatan Peringatan 20 Tahun Gempa Yogyakarta 2006 yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Bantul, Sabtu (23/5/2026). Kegiatan tersebut dipusatkan di Monumen Episentrum Gempa Yogyakarta 2006 yang berlokasi di Dusun Potrobayan, Kalurahan Srihardono, Kapanewon Pundong, Kabupaten Bantul.
Kegiatan peringatan ini turut dihadiri oleh Deputi Bidang Koordinasi Penanggulangan Bencana dan Konflik Sosial Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) Lilik Kurniawan, Bupati Bantul Abdul Halim Muslih, serta Kepala BMKG Stasiun Geofisika Sleman Ardhianto Septiadhi bersama unsur pemerintah daerah, akademisi, komunitas kebencanaan, relawan, dan masyarakat.
Peringatan dua dekade gempa besar yang melanda Yogyakarta dan sekitarnya pada tahun 2006 ini menjadi momentum penting untuk mengenang peristiwa bencana sekaligus memperkuat kesadaran masyarakat terhadap pentingnya mitigasi kebencanaan. Berbagai rangkaian kegiatan diselenggarakan sebagai bentuk refleksi bersama serta penguatan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana di masa mendatang.
Dalam kegiatan tersebut, BMKG Stasiun Geofisika Sleman memberikan paparan terkait potensi gempabumi di wilayah Bantul dan Daerah Istimewa Yogyakarta, termasuk kondisi tektonik regional, keberadaan sesar aktif seperti Sesar Opak dan Sesar Mataram, serta potensi sumber gempa megathrust di selatan Pulau Jawa. Paparan juga memuat sejarah gempa bumi merusak di Yogyakarta dan sekitarnya sebagai bagian dari edukasi kebencanaan kepada masyarakat.
Selain itu, BMKG turut menjelaskan hasil observasi dan analisis karakteristik aktivitas kegempaan di kawasan Sesar Opak, termasuk pola foreshock, mainshock, dan aftershock yang menjadi bagian penting dalam kajian seismisitas wilayah DIY. Masyarakat juga diberikan pemahaman mengenai skenario potensi bahaya gempabumi dan tsunami di wilayah pesisir selatan Yogyakarta, termasuk pentingnya kesiapsiagaan menghadapi potensi gempa darat.
Ardhianto menyampaikan bahwa pemahaman masyarakat terhadap potensi gempa bumi dan langkah mitigasi menjadi kunci utama dalam mengurangi risiko bencana. “Memahami potensi gempa bumi dan dampaknya sangat krusial untuk meminimalkan risiko korban jiwa dan kerugian material. Gempabumi tidak dapat diprediksi secara pasti, namun pemahaman yang baik memungkinkan masyarakat untuk melakukan mitigasi, mengenali tanda bahaya, dan merespons secara tepat saat gempabumi terjadi,” ujarnya.
Edukasi kebencanaan menjadi salah satu fokus utama dalam peringatan ini sebagai upaya meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap ancaman gempabumi dan tsunami. BMKG juga memperkenalkan berbagai sistem monitoring dan diseminasi informasi gempabumi serta peringatan dini tsunami yang digunakan untuk mendukung kecepatan penyampaian informasi kebencanaan kepada masyarakat.
Selain memberikan paparan edukatif, BMKG Stasiun Geofisika Sleman juga turut memeriahkan kegiatan melalui partisipasi dalam susur Sesar Opak. Kegiatan tersebut bertujuan untuk mengenalkan secara langsung keberadaan jalur sesar aktif yang memiliki kaitan erat dengan sejarah gempa Yogyakarta 2006. Peserta diajak memahami kondisi geologi wilayah sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya hidup berdampingan dengan potensi bencana secara bijak dan adaptif.
BMKG Stasiun Geofisika Sleman juga berpartisipasi dalam pameran foto, peralatan, dan teknologi kebencanaan yang menampilkan berbagai informasi serta perangkat pendukung pemantauan gempabumi dan peringatan dini. Pameran tersebut menjadi sarana edukasi interaktif bagi masyarakat untuk mengenal lebih dekat teknologi dan sistem pemantauan yang digunakan BMKG dalam mendukung pengurangan risiko bencana.
Dalam kesempatan tersebut turut disampaikan berbagai upaya penguatan kapasitas masyarakat yang telah dilakukan BMKG, di antaranya program Sekolah Lapang Gempa Bumi dan Tsunami (SLG), BMKG Goes to School, serta pendampingan desa-desa pesisir yang telah diakui UNESCO IOC sebagai desa siap tsunami di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.
Melalui peringatan 20 tahun Gempa Yogyakarta ini, diharapkan dapat tercipta masyarakat Yogyakarta, khususnya masyarakat Bantul, yang semakin tangguh, waspada, dan berdaya dalam menghadapi potensi bencana gempabumi di masa mendatang. Kegiatan ini juga menjadi pengingat bahwa upaya mitigasi dan edukasi kebencanaan perlu terus dilakukan secara berkelanjutan melalui kolaborasi antara pemerintah, lembaga teknis, komunitas, dan masyarakat.