
Kembali ke Berita
BMKG Berkolaborasi dengan PMI dan Palang Merah Amerika Siapkan Peringatan Dini Panas Ekstrem untuk Perkuat Ketangguhan Masyarakat Perkotaan
18 January 2026
Linda
Berita

Jakarta, 14 Januari 2026 – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Kedeputian Klimatologi bersama Palang Merah Indonesia (PMI) dan Palang Merah Amerika secara resmi memulai kolaborasi dalam penyusunan informasi dan peringatan dini iklim untuk kejadian panas ekstrem di Indonesia.
Kegiatan kolaboratif tersebut ditandai dengan rapat teknis yang diselenggarakan di kantor BMKG dan dipimpin oleh Direktur Layanan Iklim Terapan BMKG, Marjuki, serta Wakil Kepala Markas PMI Pusat, Puji Astuti. Finalisasi Kerangka Acuan Kerja (KAK) serta penyepakatan lini masa kegiatan dan target program menandai dimulainya pelaksanaan teknis (technical kick off) program kolaboratif selama tahun 2026.
“Program ini akan menyusun informasi dan peringatan dini berbasis indeks parameter panas ekstrem melalui pendekatan Risk Based Warning (RBW),” ujar Marjuki.
Ia menjelaskan pada tahap awal, program dilaksanakan sebagai proyek percontohan (pilot project) dengan studi kasus di tiga kota besar, yaitu Medan, Surabaya, dan Jakarta. Mengusung tema “Memperkuat Ketangguhan Perkotaan terhadap Panas Ekstrem di Indonesia”, program ini mencerminkan komitmen bersama dalam menghadapi tantangan perubahan iklim, khususnya di wilayah perkotaan.
Kegiatan ini memiliki tujuan strategis untuk menyediakan layanan operasional yang mampu mengurangi risiko panas ekstrem di wilayah perkotaan, baik saat ini maupun di masa depan. Berdasarkan laporan World Meteorological Organization (WMO), kejadian panas ekstrem di dunia semakin sering terjadi, terutama di kawasan Asia dan Pasifik, serta berdampak signifikan terhadap kehidupan, perekonomian, dan ekosistem. Wilayah perkotaan menjadi kawasan yang sangat rentan, dengan banyak kota di Asia diperkirakan akan mengalami tingkat panas di atas rata-rata global secara rutin. Populasi yang terpapar tingkat panas berbahaya pun meningkat tajam, terutama di Asia Timur dan Asia Tenggara.
“Dampak kesehatan dari panas ekstrem sangat luas, meningkatkan risiko penyakit hingga kematian, terutama bagi kelompok masyarakat rentan,” ungkap Marjuki.
Ruang lingkup kegiatan mencakup antara lain studi panas ekstrem perkotaan akibat perubahan iklim, kajian dampak dan risiko panas ekstrem, khususnya pada sektor kesehatan, serta pengembangan produk informasi dan sistem peringatan dini panas ekstrem. Selain itu, program ini juga bertujuan meningkatkan edukasi dan literasi masyarakat terkait dampak perubahan iklim dan langkah antisipasinya, memperkuat kerja sama dalam penyelenggaraan kegiatan dan publikasi, serta mendiseminasikan hasil studi dampak dan risiko panas ekstrem pada tingkat nasional.
Lebih lanjut, Marjuki menjelaskan dalam pelaksanaannya, data iklim dasar dan terapan dari dua Direktorat di Kedeputian Klimatologi BMKG akan dipadukan dengan data sekunder sektor kesehatan serta hasil surveilans dari kota-kota yang menjadi objek studi.
“Integrasi data tersebut digunakan untuk merumuskan informasi dan peringatan dini panas ekstrem yang berbasis dampak,” ungkap Marjuki.
Melalui kolaborasi ini, BMKG bersama PMI dan Palang Merah Amerika berharap dapat menghasilkan sistem informasi dan peringatan dini yang lebih efektif, sekaligus menyusun panduan aksi dalam merespons peringatan dini secara tepat guna. Upaya ini ditujukan untuk mendukung langkah antisipatoris, khususnya bagi masyarakat perkotaan yang rentan terhadap dampak panas ekstrem. Program kolaboratif ini juga akan mengagendakan peningkatan kapasitas masyarakat terdampak sebagai bagian dari upaya memperkuat ketangguhan perkotaan menghadapi dampak perubahan iklim, terutama pada sektor kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.






