Bengkulu, 1 September 2026 — Stasiun Klimatologi Bengkulu Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menghadiri Rapat Koordinasi (Rakor) lintas sektoral dalam rangka pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Gedung Aula Merah Putih, Kantor Gubernur Bengkulu, Selasa (1/9/2026). Kegiatan ini dilaksanakan sebagai tindak lanjut peringatan dini BMKG terkait potensi kemarau panjang akibat fenomena El Nino dengan intensitas sangat kuat.
Rakor tersebut dihadiri oleh Wakil Gubernur Bengkulu Ir. H. Mian, Kapolda Bengkulu Irjen Pol. Yudhi Sulistianto Wahid, serta Kepala Stasiun Klimatologi Bengkulu Luhur Tri Uji Prayitno. Kegiatan ini menekankan pentingnya penguatan sinergi lintas sektor dalam upaya mitigasi Karhutla melalui langkah pencegahan sejak dini.
Kepala Stasiun Klimatologi Bengkulu, Luhur Tri Uji Prayitno, menyampaikan bahwa kondisi El Nino saat ini berpotensi meningkatkan risiko kekeringan di wilayah Bengkulu. “Kita tengah menghadapi El Nino dengan intensitas sangat kuat, yang menyebabkan awal musim hujan di Bengkulu diprediksi mundur hingga akhir Oktober atau November 2026,” ujarnya.
Ia menambahkan, dampak kemarau telah mulai dirasakan dengan meningkatnya kejadian kebakaran lahan. Hingga saat ini, tercatat sekitar 125,15 hektare lahan terbakar di wilayah Bengkulu sepanjang tahun 2026, serta sempat terjadi penurunan kualitas udara di Kota Bengkulu hingga kategori “Sangat Tidak Sehat” akibat tingginya konsentrasi partikulat (PM2.5).
Dalam forum tersebut, seluruh peserta sepakat bahwa pendekatan pencegahan menjadi kunci utama dalam pengendalian Karhutla. Upaya ini dilakukan melalui patroli terpadu, sosialisasi kepada masyarakat, serta pemanfaatan sistem pemantauan berbasis teknologi seperti aplikasi SiPongi untuk deteksi dini hotspot.
Kapolda Bengkulu, Irjen Pol. Yudhi Sulistianto Wahid, menegaskan komitmen aparat dalam penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran lahan. “Kami akan menindak tegas setiap pelaku pembakaran hutan dan lahan, baik perorangan maupun korporasi, sesuai ketentuan yang berlaku,” tegasnya.
Sementara itu, Wakil Gubernur Bengkulu, Ir. H. Mian, menekankan pentingnya implementasi nyata dari hasil rakor. “Tindak tegas dan berikan sanksi berat kepada pihak yang terbukti melakukan pembakaran hutan dan lahan secara sengaja. Prinsip zero burning harus tetap dilaksanakan,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa rakor ini harus menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor. “Rapat ini merupakan upaya penyamaan persepsi untuk ditindaklanjuti melalui early warning system dan early action dalam penanganan Karhutla di Bengkulu,” pungkasnya.
Melalui kegiatan ini, BMKG bersama para pemangku kepentingan terus mendorong penguatan sistem peringatan dini serta peningkatan kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi Karhutla, khususnya di tengah kondisi iklim yang semakin dinamis.
Penulis: Tim Diseminasi Stasiun Klimatologi Bengkulu