Bogor, 25 Juli 2026 – BMKG mendorong pemanfaatan climate intelligence sebagai landasan perencanaan kawasan transmigrasi yang adaptif terhadap perubahan iklim dan risiko bencana hidrometeorologi. Komitmen tersebut disampaikan Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, saat menjadi narasumber dalam Pembekalan Tim Ekspedisi Patriot Tahun 2026 yang diselenggarakan Kementerian Transmigrasi pada, Sabtu (25/7).
Pembekalan tersebut merupakan bagian dari persiapan Tim Ekspedisi Patriot yang akan diterjunkan ke berbagai kawasan transmigrasi untuk mengidentifikasi potensi wilayah sekaligus mendukung pengembangan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru. Dalam kesempatan ini, BMKG membekali peserta dengan pemanfaatan informasi meteorologi, klimatologi, dan geofisika sebagai dasar perencanaan pembangunan yang lebih adaptif dan berkelanjutan.
Dalam paparannya, Teuku Faisal Fathani menjelaskan bahwa climate intelligence merupakan pendekatan yang mengolah data cuaca, iklim, dan risiko hidrometeorologi menjadi rekomendasi yang dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan. Pendekatan ini tidak hanya memanfaatkan informasi kondisi cuaca saat ini, tetapi juga prakiraan musim, prediksi iklim, hingga proyeksi iklim jangka panjang agar pembangunan dapat disesuaikan dengan karakteristik dan potensi setiap wilayah.
“Ada tempat-tempat yang sekarang basah dan cocok untuk pertumbuhan, tetapi 20 hingga 30 tahun lagi akan berubah menjadi daerah yang lebih kering. Itu bisa diprediksi dari analisis iklim. Karena itu, informasi iklim harus menjadi dasar dalam menentukan komoditas, pola tanam, hingga arah pengembangan kawasan,” ujar Teuku Faisal Fathani.
Ia menambahkan, Indonesia memiliki 699 Zona Musim (ZOM) dengan karakteristik iklim yang berbeda di setiap wilayah. Di tengah potensi El Niño 2026 yang diprakirakan dapat memperpanjang musim kemarau di sebagian besar Indonesia, pemanfaatan climate intelligence menjadi semakin penting untuk mendukung penentuan komoditas unggulan, pengelolaan sumber daya air, hingga mitigasi risiko hidrometeorologi sesuai karakteristik masing-masing kawasan.
Sejalan dengan kebutuhan tersebut, BMKG terus mengembangkan layanan impact-based forecast, yaitu penyediaan informasi yang tidak hanya memprakirakan kondisi cuaca dan iklim, tetapi juga dampaknya terhadap masyarakat, infrastruktur, sektor pertanian, dan kawasan permukiman. Layanan tersebut diperkuat melalui jaringan 191 Unit Pelaksana Teknis (UPT) BMKG yang siap memberikan informasi, rekomendasi teknis, dan pendampingan kepada pemerintah daerah, masyarakat, serta peserta Ekspedisi Patriot di berbagai wilayah.
“BMKG tidak hanya memberikan informasi, tetapi juga rekomendasi dan pendampingan. Semua UPT BMKG bekerja mendampingi masyarakat dan pemerintah daerah agar keputusan yang diambil benar-benar didasarkan pada informasi iklim yang akurat,” tegas Faisal.
Melalui partisipasi dalam Pembekalan Tim Ekspedisi Patriot Tahun 2026, BMKG menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat pemanfaatan climate intelligence dalam mendukung pembangunan nasional. Sinergi dengan Kementerian Transmigrasi diharapkan mampu menghasilkan kawasan transmigrasi yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim, tangguh menghadapi risiko hidrometeorologi, serta berdaya saing sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru yang berkelanjutan.