Jakarta, 27 April 2026 – Akhir-akhir ini, hujan deras mulai tergantikan dengan terik matahari yang panas. Perubahan cepat cuaca yang tidak menentu menjadi pertanda pergantian musim (pancaroba). Karena dampaknya sangat berpengaruh pada keseharian, siswa-siswi Sekolah Komunitas Minhajul Muslim melakukan kunjungan edukatif ke kantor Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk mempelajari lebih dalam mengenai konsep cuaca.
Andika dari Direktorat Meteorologi Publik BMKG menjelaskan bahwa akhir April merupakan periode penting dalam siklus cuaca di Jakarta karena pada masa peralihan musim ini, intensitas hujan mulai berkurang. Meski belum sepenuhnya memasuki musim kemarau, bergesernya pola angin dari Monsun Asia menjadi Monsun Australia menyebabkan udara lebih kering.
Fenomena cuaca yang kerap berubah cepat juga dipengaruhi oleh dinamika atmosfer seperti gelombang Rossby Ekuatorial dan Kelvin yang masih aktif. Di sisi lain, pemanasan permukaan yang cukup tinggi pada siang hari, menyebabkan terbentuknya awan-awan konvektif yang berpotensi memicu hujan lebat disertai petir secara tiba-tiba.
Kondisi atmosfer ini menjadi parameter penting untuk mengetahui serta memprediksi cuaca. Data-data dikumpulkan melalui pengamatan atmosfer menggunakan alat-alat, seperti sangkar meteorologi, yaitu bangunan kayu putih yang melindungi alat ukur suhu dan kelembapan agar tetap akurat. Selain itu, campbell stoke yang berbentuk bola kaca merekam lama penyinaran matahari, serta penakar hujan OBS untuk mengukur curah hujan secara manual.
Ada pula panci penguapan (evaporimeter) yang digunakan untuk memantau laju penguapan air ke atmosfer. Pada kunjungan kali ini, seluruh siswa Sekolah Komunitas Minhajul Muslim berkesempatan melihat alat-alat tersebut di Taman Alat Meteorologi.
Andika menjelaskan asal-usul istilah meteorologi yang ternyata berkaitan dengan fenomena yang berasal dari langit, seperti hujan dan petir. Agar lebih mudah dipahami, Andika juga mengajak siswa berpikir melalui fenomena yang sering dilihat sehari-hari, seperti perbedaan warna awan.
“Mengapa awan itu ada yang berwarna hitam dan putih, padahal keduanya mengandung air?” tanyanya.
Ia kemudian menjelaskan bahwa perbedaan tersebut dipengaruhi oleh ketebalan awan. Semakin tebal awan, semakin sedikit cahaya matahari yang dapat menembusnya sehingga awan terlihat lebih gelap.
Beranjak dari topik cuaca, para siswa meningkatkan kesiapsiagaan melalui simulasi gempabumi di Lombok pada 2018 yang berkekuatan M7,6. Pengalaman tersebut memberi gambaran nyata tentang pentingnya melatih kesiapsiagaan menghadapi gempabumi, melampaui sekadar pemahaman teori di kelas.
“Rasanya beda sekali dengan gempa yang pernah saya rasakan di rumah. Kalau di rumah, getarannya terasa kecil, tapi di sini guncangannya lebih besar dan terasa lebih kencang!” ungkap salah satu siswa.
Selain merasakan langsung guncangannya melalui simulasi, memahami sejarah dan proses pencatatan gempa juga menjadi modal penting dalam membangun kesiapsiagaan. Oleh karena itu, para siswa diajak mengunjungi Museum Geofisika, tempat tersimpannya berbagai instrumen historis yang menjadi saksi bisu perkembangan ilmu kebumian di Indonesia.
Bayu dan Galih dari Direktorat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG menjelaskan fungsi dan cara kerja Seismograf Wiechert, sebuah alat pencatat gempa klasik berbandul besar yang pertama kali dimiliki Indonesia pada 1908. Keduanya menjelaskan bagaimana teknologi observasi terus berevolusi dari masa ke masa demi meningkatkan akurasi data dan keselamatan publik.
Jika awalnya alat ini hanya mampu mendeteksi getaran horizontal, sejak tahun 1928 Wiechert mulai disempurnakan dengan komponen vertikal sehingga kedalaman gempa dapat diukur. Sebagai perbandingan wawasan, para siswa juga dikenalkan pada ragam seismograf modern masa kini yang memiliki jangkauan deteksi jauh lebih luas dan presisi.