Tanggapan BMKG Soal Tsunami di Pandeglang

  • Dwi Rini
  • 06 Apr 2018
Tanggapan BMKG Soal Tsunami di Pandeglang

Jakarta, (5/4). Seperti yang kita ketahui bahwa beberapa hari ini, terdapat pemberitaan di beberapa media massa mengenai adanya kajian potensi tsunami yang akan terjadi di Pandeglang setinggi lebih dari 50 m oleh seorang peneliti. Terkait hal tersebut, BMKG memberikan pandangan atau tanggapan terkait pemberitaan yang dinilai cukup menarik menjadi bahan pembicaraan di tengah masyarakat pada Kamis kemarin.

Berdasarkan UU No.31 tahun 2009, BMKG diberikan wewenang dan mandat untuk melakukan obseravasi, analisa, dan diseminasi informasi gempa bumi dan peringatan dini tsunami. Oleh karena itu, BMKG perlu menyampaikan potensi tsunami di Pandeglang seperti yang ada di dalam pemberitaan akhir-akhir ini, seperti yang diutarakan Kepala BMKG, Dr. Dwikorita Karnawati, P. hd melalui sambungan teleconference yang saat itu berada di Papua.

Menurtunya, hasil kajian potensi tsunami di Pandeglang merupakan modeling yang perlu divalidasi dan dikaji serta perlu menggunakan data-data yang valid. "Informasi itu hanya digunakan sebagai langkah untuk melakukan mitigasi bencana, imbuh Dwikorita. Karena itu, Dwikorita pun meminta masyarakat untuk arif dalam memahami informasi kegempaan dan tsunami, khususnya apabila informasi tersebut masih berupa kajian awal yang belum teruji.

Hal senada pun diungkapkan oleh Deputi Bidang Geofisika, Dr. Ir. Muhammad Sadly, M. Eng yang saat itu pun sedang mendampingi kepala BMKG di Papua. Sadly menuturkan bahwa pada hasil kajian potensi tsunami di Pendeglang ini, peneliti sebenarnya tidak melakukan prediksi tapi mencoba mengungkapkan potensi yang masih perlu dikaji lebih lanjut dengan data ilmiah.

Dalam hal ini, menurutnya peneliti tidak menyebutkan kapan akan terjadi, seperti yang kita ketahui bahwa gempa bumi hingga saat ini belum dapat diprediksi sehingga masyarakat diharapkan harap tenang.

Di tempat yang berbeda, Sekretaris Utama, Drs. Untung Merdijanto, M. Si mengutarakan bahwa "kapan? Tentu belum bisa memastikan karena belum ada alata yang bisa mendeteksi kapan terjadinya gempa bumi. Tetapi tentunya kami selalu melakukan kajian ilmiah untuk melihat potensi yang ada.

"Yang paling penting adalah perlu adanya mitigasi yang perlu kita siapkan sejak awal, meskipun belum detail kajiannya," sambung Untung saat memberikan keterangan pers di Kantor BMKG kamis pagi.

Kepala Pusat Seimologi Teknik Geofisika Potensial dan Tanda waktu, Dr. Jaya Murjaya, M. Si dengan hal yang senada pun mengutarakan hingga saat belum ada alat yang mampu memprediksi kapan gempa akan terjadi dan berapa kekuatannya secara akurat. Begitu juga dengan tsunami. Hanya saja potensi itu bisa saja diketahui melalui penelitian.

Jaya mengaku belum bisa mengungkapkan seberapa valid prediksi gempa dan tsunami 57 meter di Pandeglang. Menurutnya penelitian dilakukan itu sangat tergantung metodenya.

"Setiap model ada kelebihan dan kekurangannya, kalau kita masukkan dengan parameter yang berbeda akan keluar dengan hasil yang berbeda, jadi jika harus dikatakan seberapa validnya? Harus diuji dengan model-model lainnya dan jika pertanyaannya seberapa besar? Tertentu harus diuji dengan model-model yang lain," pungkasnya.

BMKG sudah mengeluarkan peta potensi kerawanan tsunami sejak 2001, bahkan sebelum tsunami Aceh terjadi," Ujar jaya Murjaya.

Jaya menambahkan, daerah yang berpotensi rawan tsunami yaitu sepanjang pantai barat Sumatera, pantai selatan Jawa, selatan Nusa Tenggara, utara Nusa Tenggara. Selain itu juga di utara Papua, pantai timur Manado dan Maluku, pantai utara Sulawesi serta pulau-pulau kecil di Kepulauan Ambon.

"Sampai saat ini saya rasa masih sesuai, kami evaluasi peta itu sejak 2001 sampai sekarang," tambah dia.

"BMKG akan akan terus melakukan monitoring aktivitas gema bumi di Indonesia termasuk potensi tsunami dari setiap gempa kuat yang terjadi, dan segera akan memeberikan informasi dengan cepat kurang dari 5 menit melalui berbagai moda komunikasi (sms, website, sosmed, dan aplikasi info BMKG.," tegasnya.

BMKG akan terus aktif dalam memberikan edukasi terkait mitigasi gempa bumi dan tsunami kepada stakeholder, masyarakat, dan media untuk mendukung pengurangan risiko bencana," tutupnya.

Gempabumi Terkini

  • 21 Mei 2024, 02:42:13 WIB
  • 5.3
  • 10 km
  • 9.28 LS - 112.61 BT
  • Pusat gempa berada di laut 127 km tenggara Kabupaten Malang
  • Dirasakan (Skala MMI): III Karangkates, II Malang, II Jember, II Kepanjen, II Kuta
  • Selengkapnya →
  • Pusat gempa berada di laut 127 km tenggara Kabupaten Malang
  • Dirasakan (Skala MMI): III Karangkates, II Malang, II Jember, II Kepanjen, II Kuta
  • Selengkapnya →

Siaran Pers

Punya Banyak Manfaat, BMKG Berbagi Praktik Baik Teknologi Modifikasi Cuaca dengan TunisiaBali (20 Mei 2024) - Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menyebut bahwa Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) memberikan dampak positif di tengah laju perubahan iklim. Hal tersebut disampaikan Dwikorita pada saat pertemuan Bilateral dengan Menteri Agrikultur, Sumber Daya Hidraulik, dan Perikanan Tunisia Abdelmonaam Belaati. "Seiring intensitas cuaca ekstrem yang tinggi memang negara kita (Indonesia-red) banyak menderita akibat bencana yang diakibatkannya dan itulah mengapa TMC menjadi salah satu pendekatan mitigasi yang bisa dilakukan pada saat kita terancam," kata Dwikorita di Posko TMC Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali, Minggu (19/5). Dwikorita menjelaskan bahwa TMC dapat dilakukan untuk memitigasi bencana seperti cuaca ekstrem yang disebabkan oleh perubahan iklim. Misalnya, Indonesia pernah mengalami cuaca esktrem yang disebabkan oleh fenomena El Nino pada 2015, 2016, dan 2019 di mana banyak wilayah yang mengalami kekeringan dan kebakaran hutan. Akibat kejadian tersebut, kata dia, banyak kerugian yang disebabkan dan membuat masyarakat menderita. Oleh karenanya, berdasarkan hasil analisis BMKG pada saat El Ni�o tahun 2023, BMKG telah belajar banyak dan memanfaatkan TMC sebagai bentuk mitigasi terhadap dampak bencana yang dihasilkan. Diterangkan Dwikorita, pada saat El Nino, sering kali terjadi penurunan air tanah sehingga menciptakan lahan yang sangat kering dan sangat sensitif terhadap kebakaran hutan. Secara alami, jika dahan pohon saling bergesekan, maka kebakaran pun bisa terjadi. "Nah, TMC bisa digunakan untuk mengantisipasi kebakaran tersebut dengan menyemai awan-awan di wilayah yang rentan mengalami kebakaran hutan dan lahan. Data yang dimiliki BMKG, Terdapat sekitar 90 atau 80% pengurangan kebakaran hutan," ujarnya. Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt.) Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto menyampaikan bahwa BMKG telah melakukan cloud sheeding selama lima hari untuk menangani bencana hidrometeorologi banjir bandang dan banjir lahar hujan di Sumatra Barat. Sebanyak 15 ton garam disemai di wilayah Sumatra Barat untuk menahan intensitas hujan yang cukup tinggi dan berpotensi membawa material vulkanik sisa letusan Gunung Marapi. TMC dilakukan dengan tujuan untuk mengurangi intensitas hujan di lereng Gunung Marapi dan memudahkan pencarian korban hilang. Seto menegaskan bahwa TMC sangat penting untuk menyelamatkan hidup manusia, menjamin kemakmuran, dan kesejahteraan manusia karena membantu produksi pertanian di daerah kering. Oleh karenanya usaha ini harus terus dilakukan secara kolektif. Sementara itu, Menteri Agrikultur, Sumber Daya Hidraulik, dan Perikanan Tunisia Abdelmonaam Belaati mengampresiasi kemampuan BMKG dalam melakukan TMC. Menurutnya, TMC merupakan pekerjaan yang sangat baik demi menjaga keberlangsungan hidup manusia. Abdelmonaam bercerita, Tunisia mencatat kekeringan selama 5-7 tahun yang menyebabkan pasokan air berkurang. Dan oleh karenanya, dengan kunjungan ke Indonesia, Tunisia ingin mencari solusi bagaimana TMC bisa dilakukan dengan efektif. Saat ini untuk menanggulangi persoalan tersebut Tunisia sedang melakukan desalinasi air laut atau proses menghilangkan kadar garam dari air sehingga dapat dikonsumsi oleh makhluk hidup. Juga sedang mencoba memikirkan bagaimana bisa menggunakan air bekas dan air olahan. "Dan solusi lainnya adalah bagaimana bisa melakukan modifikasi cuaca. Bagaimana kita bisa mendatangkan hujan ke suatu negara. Itu sangat penting dan itulah sebabnya kami ada di sini hari ini dan berharap dapat terus bekerja sama," pungkasnya. (*) Biro Hukum dan Organisasi Bagian Hubungan Masyarakat Instagram : @infoBMKG Twitter : @infoBMKG @InfoHumasBMKG Facebook : InfoBMKG Youtube : infoBMKG Tiktok : infoBMKG

  • 20 Mei 2024