Memanfaatkan Inovasi dan Teknologi Untuk Siap Selamat

  • Murni Kemala Dewi
  • 03 Mei 2018
Memanfaatkan Inovasi dan Teknologi Untuk Siap Selamat

Padang, 2 Mei 2018 / Indonesia sebagai negara kepulauan diakui oleh berbagai ahli kebencanaan dunia sebagai wilayah yang unik. Keunikannya antara lain sebagai wilayah yang sangat rawan terhadap berbagai bencana alam maupun yang muncul karena ulah manusia. Dengan kondisi ini, wilayah Indonesia sangat rentan dari berbagai jenis bencana dan kecenderungan meningkatnya tingkat risiko bencana yang sangat tinggi.

"Bencana dapat dirumuskan dalam 2 hal. Pertama bencana karena alam. Kedua bencana karena ulah manusia. Bencana karena ulah manusia ini bisa menyebabkan bencana alam atau bencana sosial / konflik" ucap Wakil Presiden Jusuf Kalla pada saat membuka Pertemuan Ilmiah Tahunan Riset Kebencanaan ke 5 di Unversitas Andalas, Padang, yang berlangsung dari tanggal 1-4 Mei 2018.

Wakil Presiden juga menambahkan bahwa Indonesia berdasarkan sejarah Indonesia modern, telah mengalami 3 bencana besar. Ketiga bencana tersebut adalah tsunami Aceh pada tahun 2004, gempa di Yogyakarta dan Jawa Tengah pada tahun 2006, serta gempa Sumatera Barat pada tahun 2009. Bencana tersebut telah menelan banyak korban jiwa. Belajar dari ketiga bencana besar tersebut, Wakil Presiden menyampaikan bahwa jumlah korban sebenarnya bisa dikurangi dengan adanya kearifan budaya dan pengetahuan (mitigasi bencana). Karena dengan terbentuknya budaya untuk menyelamatkan diri yang benar, jumlah korban jiwa bisa dikurangi pada saat terjadi bencana. Oleh karena itu kita sebagai masyarakat Indonesia harus mempersiapkan diri menghadapi bencana tersebut dengan smart / pintar.

Oleh Kepala BMKG, Prof.Ir. Dwikorita Karnawati, M.Sc, Ph.D, yang turut diundang menjadi narasumber dalam acara tersebut, menyikapi hal ini dengan menyatakan bahwa pemanfaatan Big Data dan Artificial Intelligent merupakan salah satu cara smart / pintar untuk meningkatkan ketepatan dalam pemberian peringatan dini dan waspada bencana.

"Ada banyak pekerjaan rumah yang harus kita lakukan saat ini dalam meningkatkan kemampuan kita untuk memberikan peringatan dini terhadap bencana. Salah satunya adalah meningkatkan inovasi teknologi yang berdasarkan big data dan artificial intelligent karena dengan peningkatan teknologi, maka bisa dimanfaatkan untuk memberikan peringatan dini yang lebih akurat, dan cepat untuk disebarkan pada masyarakat" ucap Kepala BMKG dihadapan para periset kebencanaan yang berasal dari dalam dan luar negeri.

Beberapa pekerjaan rumah yang dimaksudkan oleh Kepala BMKG adalah pertama prakiraan yang berdasarkan pada impact based forecaster untuk mewujudkan kesiap siagaan terhadap cuaca ekstrim dan perubahan iklim, kedua pembangunan big data, internet of thinks dan artificial intelligent, ketiga dibutuhkannya crowdsourcing technology (proses penghimpunan data dari berbagai sumber) seperti dengan memanfaatkan handphone untuk menambah sensor gempabumi untuk mempercepat identifikasi gempa bumi, keempat Indonesia membutuhkan satelit tersendiri untuk mengumpulkan data-data cuaca, iklim dan gempa bumi serta memonitor bencana agar bisa menambah kecepatan dalam pemberian peringatan dini. Pekerjaan rumah yang kelima adalah kerjasama penta-helix antar instansi pemerintah, perguruan tinggi, perusahaan-perusahaan (sektor bisnis), komunitas dan dengan para filantropi (foundation), untuk mengolah dan menganalisa data-data yang ada. Kepala BMKG menekankan tentang pentingnya untuk membangun Inovasi dan Industri Teknologi Mitigasi Bencana berdasarkan kemitraan Penta-helix ini. Pekerjaan rumah terakhir adalah diperlukannya inovasi dalam teknologi mitigasi bencana.

Kepala BMKG yakin bahwa dengan adanya kerjasama yang baik, maka walaupun Indonesia berada di wilayah yang rawan bencana, namun korban jiwa bisa dikurangi karena masyarakat Indonesia telah lebih siap dan lebih pintar dalam menghadapi setiap bencana yang ada.

Pertemuan Ilmiah Tahunan Riset Kebencanaan ke 5 yang diadakan di Universitas Andalas, juga dihadiri oleh Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Menteri Komunikasi dan Informatika, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Kepala BNPB, Ketua IABI, Gubernur Sumatera Barat beserta jajaran, Rektor Universitas Andalas serta beberapa Rektor Universitas lain yang ada di Sumatera Barat.

Gempabumi Terkini

  • 18 Sep 2020, 01:54 WIB
  • 2.9
  • 10 km
  • 3.44 LS - 128.35 BT
  • Pusat gempa berada di Laut 34 km Timur Laut Ambon
  • Dirasakan (Skala MMI): II Kairatu
  • Selengkapnya →
  • Pusat gempa berada di Laut 34 km Timur Laut Ambon
  • Dirasakan (Skala MMI): II Kairatu
  • Selengkapnya →

Siaran Pers