Kembali ke Artikel

Analisis Peluruhan Gempa Susulan Flores dari Hukum Omori Hingga Analisis Klaster Gempa: Bagaimana Polanya Hingga Hari Ke-16?

Dian Endah

Penulis:

  1. Brilian Tatag Samapta
  2. Pepen Supendi
  3. Wijayanto
  4. Bagus Adhi Wibowo
  5. Rahmat Triyono
  6. Nelly Florida Riama
  7. Teuku Faisal Fathani

Peluruhan Gempa Susulan: Mengapa Jumlah Gempa Tidak Selalu Turun Mulus?

Setelah gempa utama Mw 7,7 Flores pada 15 Agustus 2026, aktivitas kegempaan tidak langsung berhenti. Kerak Bumi di sekitar sumber gempa masih mengalami penyesuaian, yang menghasilkan rangkaian gempa susulan atau aftershock sequence (Gambar 1 – Gambar 3). Salah satu ciri penting rangkaian ini adalah kecenderungan jumlah gempa menurun seiring waktu, yang dikenal sebagai peluruhan gempa susulan. Namun, data gempa Flores menunjukkan bahwa peluruhan tidak berlangsung sebagai garis lurus yang selalu menurun.

Berdasarkan data gempa BMKG sampai dengan hari ke-16 sejak gempa utama, jumlah gempa harian berada pada ratusan kejadian dan mengalami fluktuasi, yaitu sekitar 733 kejadian pada hari pertama, 786 pada hari kedua, 685 pada hari ketiga, 660 pada hari keempat, 642 pada hari kelima, 887 pada hari keenam, kemudian 766 pada hari ketujuh, 680 pada hari kedelapan, 724 pada hari kesembilan, 615 pada hari kesepuluh, 468 pada hari kesebelas, 703 pada hari keduabelas, 608 pada hari ketigabelas, 486 pada hari keempatbelas, 490 pada hari kelimabelas, dan 462 pada hari keenambelas (Gambar 3). Pola tersebut memperlihatkan bahwa kecenderungan jangka panjang dapat menurun, sementara pada skala harian terjadi naik-turun. Karena itu, peluruhan perlu dianalisis sebagai hubungan antara laju kejadian dan waktu, bukan hanya dengan membandingkan jumlah gempa dari satu hari ke hari berikutnya.

Klik tautan ini jika PDF di atas tidak muncul.

Hubungi via WhatsApp